Renungan Hari Minggu Prapaskah ke V. Bac. I Yesaya 43: 16-21, Bac II Filipi 3 : 8-14 dan Bac Injil Yohanes 8:1-11

Seringkali kita menghakimi seseorang dari masa lalunya. Perbuatan dosa masa lalu menjadi stigma yang melekat pada seorang. Stigmatisasi, olokan atau ejekan pedas itu sering kita lakukan atau kita alami kepada satu sama lain.

Tentu saja, betapa sulitnya seseorang untuk menerima trauma masa lalu, memulihkan perbuatannya atau pertobatan. Lebih sulit lagi jika kita menambahkan beban kepada sesama kita dengan stigma negatif masa lalunya. Misalnya oh kamu pemabuk yah! Oh keturunan pencuri yah! dan sebagainya.

Tetapi hari ini, bacaan suci membicarakan sisi pengampunan dan belaskasih yang membebaskan kita.

Jangan Mengingat Masa lalu

Masa lalu memang jas merah (sejarah), tentu kita harus mengenal masa lalu kita. Masa lalu juga adalah bagian dari perjalanan hidup kita, tanpa masa lalu tidak mungkin hidup kita terbentuk seperti sekarang.

Namun apa maksud Yesaya mengatakan:

  • Janganlah mengingat-ingat hal-hal yang dahulu, dan janganlah perhatikan hal-hal yang dari jaman purbakala! Lihat aku membuat sesuatu yang baru, yang sekarang sudah tumbuh, belumkah kamu mengetahuinya?
  • Membuat jalan di padang gurun dan sungai-sungai di hutan belantara
  • Membuat air memancar di padang gurun dan memberikan minum Umat pilihan-Ku.

Apa yang mau dikatakan Yesaya ialah Firman Tuhan itu merupakan daya kehidupan bagi umat-Nya. Daya kehidupan ini tidak terpengaruh oleh sejarah manusia yang dinamis, kelam dan dosa.

Bahkan rahmat Allah menjadi seperti air yang memancar di tengah padang gurun, di tengah kegersangan dan dekilnya sejarah hidup manusia. Rahmat Allah inilah yang memberi daya kehidupan bagi sejarah manusia itu sendiri,  baik kelam sepakat arang sekalipun. Allah membaharui sejarah itu, asalkan manusia mau menerima Dia dan membebaskan diri dari masa lalu yang membelenggunya.

Ya kita bisa meninggalkan masa lalu yang kelam itu, jika kita mau menerima Tuhan itulah yang ditawarkan Yesaya. 

Mengasihi tanpa Menghakimi

Perjuangan berat melepaskan masa lalu dan belenggu stigma sosial, itulah perjuangan seorang perempuan pelacur yang dibawa oleh orang Farisi kehadapan Yesus untuk diadili dan dihukum dalam injil hari ini. 

Ya, kita memang mudah menghakimi kesalahan orang lain tetapi kita tidak cukup keras dan kuat menghakimi kesalahan kita sendiri. Ini jugalah yang dikatakan oleh Sri Paus Fransiskus. Mulut kita mudah mendustai salah sesama, tetapi hati kita seakan tidak terusik pada kesalahan kita sendiri. 

Kita membenci orang berbuat dosa tetapi kita sendiri tidak takut dan membenci dosa sendiri. Persis seperti itulah orang Farisi. Atas nama penjaga moralitas, mereka menjadikan diri indentik dengan hukum.

Seringkali ini terjadi, pengajar moral justru malah menjadi penegak hukum untuk memberantas kesalahan sesama. Seakan moralitas sebatas seperangkat delik-delik aturan saja.  Moralitas seperti itu justru menghasilkan tindakan-tindakan yang berbuah tidak bermoral. Bukankah ini paradoks? 

Yesus sama sekali berbeda menghadapi persoalan ini. Ia tidak menghakimi masa lalu perempuan pelacur yang dibawa kehadapannya oleh orang Farisi,   tetapi Ia memberi ruang pengampunan.

Ruang dan pengampunan ini adalah bentuk kasih yang menumbuhkan semangat orang lain untuk mengubah kesalahan dan dosanya. Bila ada kasih dan pangampunan seorang yang salah pasti akan bertobat, kecuali jika mati nuraninya. 

“Barang siapa diantara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama kali melempar batu ke atas perempuan ini”. Tetapi dalam drama kehidupan si perempuan pelacur itu, tak satupun orang Farisi melempari perempuan itu.

Yang perlu ditekankan sebenarnya ialah Yesus mengatakan “Akupun tidak menghukun engkau. Pergilah dan janganlah berbuat dosa lagi dari sekarang”.

Mungkin kita bertanya apakah perempuan itu sejak saat itu tidak akan berbuat dosa lagi? Apakah kalau kita mengaku dosa juga, setelah keluar dari ruang pengakuan kita tidak berbuat dosa lagi?

Yang pasti perempuan itu mendapatkan belaskasih yang hebat, ia bebas dari hukuman mati yaitu rajam. Kemudian ia mendapatkan pengakuan dan penerimaan dari orang lain, teristimewa ia memperoleh rahmat itu dari Tuhan sendiri.

Maka yang paling utama adalah

  • ada titik balik perubahan hidup (turning point of life). Kita berani meninggalkan kenyamana dosa dan mau pergi serta berubah.
  • Kasih dan pengampunan dari Allah. Allah mengampuni kita. Kasih itu seperti air dipadang gurun, seperti jalan yang membentang di hutan belantara.
  • Walau masalah lebat dan membelantara sampai akalpun buntu mencari solusinya, tetapi iman dan pertobatan itulah kekuatan kita.

Kasih pengampunan Allah seperti itulah yang kita terima pada saat kita menerima pengampunan dosa. Kita membangun komitmen pertobatan secara personal dengan Tuhan. Kita memperoleh rahmat. 

Seperti darah akan tersumbat karena kotoran yang menyumbat pembuluh darah kita. Seperti debit air berkurang alirannya jika pipa atau salurannya penuh dengan lumut dan kotoran. Begitu juga, rahmat keselamatan akan mengalir jika membersihkan hati kita dari dosa-dosa kita. 

Ingat!  Tuhan kita tidak menghakimi dan menghukumi dosa dan borok kita. Ia mengasihi kita, jika kita datang dan dekat pada-Nya dan mau mengubah hidup kita.

Kitapun tidak perlu menghakimi sesama, karena buruknya masa lalu sesama kita.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here