Mempertanyakan pokok iman Kristiani, sebenarnya bukanlah hal yang baru.Untuk menjawab berbagai pertanyaan itu kita tinggal membaca Katekismus, Kitab Suci dan Sejarah Gereja. Gereja Katolik juga sudah kenyang dan berpengalaman dengan pengalaman bidaah dan skisma. Selain itu Gereja Katolik sendiri berkembang dalam tradisi filsafat yang kritis, sehingga tidak alergi dengan konsep-konsep yang berbeda.

Namun mungkin karena kita terlalu sibuk sehingga kurang mencari tahu banyak hal terkait iman kita sendiri. Kita pandai mempersoalkan dalam arti mempertanyakan, tetapi kurang mencari tahu jawabannya dalam sejarah Gereja Katolik. Namun celakanya dalam kekurangan itu, orang meninggalkan Gereja Katolik.

Pertanyaan mengenai Identitas Keilahian Yesus sendiri muncul dalam berbagai dinamika dan konflik Yesus dengan orang Yahudi. Yesus kerap mendengar secara langsung pertanyaan orang Yahudi, misalnya siapakah Engkau sehingga berkuasa mengampuni dosa orang lain? Karena Yesus Kerap menyembuhkan orang sakit dan berkata, pergilah! dosamu diampuni dan jangan berbuat dosa lagi!

Mengampuni dosa, berarti menunjukan Kuasa Keallahan-Nya. Tentu saja masih banyak teks lain yang bisa kita baca dalam Kitab Suci dan menunjukan Pribadi Ilahi dalam diri Yesus Kristus.

Memang harus dipahami, cara menafsir Kitab Suci Kristiani perlu terlebih dahulu memahami Antropologi Yahudi dan Yunani atau konteks jaman, filsafat, memahami bahasa asli dan alam dunia sekitar pada jamannya.

Maka meng-aku-kan diri sebagai pakar kristologi pasti memahami cakrawala keilmuan Kristologi dalam Perjanjian, Lama, dan Perjanjian Baru, Kristologi Eklesiologi, Soteriologi dan Eskatologi. Sungguh tidak mudah. Perlu waktu yang panjang untuk sampai pada membicarakan hal seperti itu. Hehe.

Ya proses seperti ini memerlukan disiplin ilmu tertentu. Saya sendiri bukan ahli, tetapi mencoba menceritakan pengalaman kerumitan belajar di kelas pengantar sebagai calon imam beberapa tahun yang lalu.

Kerumitan Berbicara Kitab Suci

Yang disebut teks atau tenunan itu tidak terlepas dari jalinan konteks, fakta, simbol dan alam kehidupan pada durasi waktu tertentu. Rumit yah? Semakin rumitnya, Kita membaca Kitab Suci seperti sekarang ini dengan urutan kitab-kitab sedemikian rupa, tanpa kita tahu bahwa teks-teks dalam Alkitab itu berlainan waktu munculnya. Haha.

Membuka Alkitab berarti anda memasuki sebuah perpustakaan karena Alkitab merupakan kumpulan kitab-kitab atau buku. Setiap buku memiliki pembahasannya tersendiri, historis, konteks dan teologinya. Maka perlu hati-hati mengutipnya. Apalagi metode kutip sana sini asal terkesan hafal Kitab Suci! Untuk pegangan sendiri, metode seperti itu tidak ada yang mempersoalkan tetapi tidak untuk berteologi yang serius.

Jika kita tidak memahami histori teks, kita jatuh pada tafsiran yang menertawakan dan terlihat konyol. Kita hanya memperalat teks kitab suci untuk mendukung argumentasi kita. Padahal lain maksudnya.

Seringkali ini terjadi. Kita melihat teks Kitab Suci apa adanya, kemudian berbusa-busa mengomentarinya. Padahal ilmuwan atau Ahli Kitab Suci sendiri tidak cukup waktu untuk studi dan mengomentari sebuah teks, bahkan dengan merendahkan diri mereka mengakui diri mereka belum apa-apa. Haha mereka saja begitu, apalagi saya! Cilaka!

Penjelasan ini tidak untuk menakut-nakuti tetapi hanya menunjukan kerumitan dibalik Teks Kitab Suci, sehingga membantu kita memperlakukan sesuatu sesuai kaidahnya dan tidak mempermainkan sesuatu yang tinggi nilainya.

Seluruh Teks Perjanjian Baru diperkirakan selesai ditulis pada tahun 120 Masehi (Bdk Groen dalam Banawiratma, 1986 :18). Keempat injil (Matius, Markus, Lukas dan Yohanes) ditulis tahun 40-100 M. Maka teks-teks yang muncul setelah itu patut diragukan dan dipertanyakan apalagi rentang waktu kemunculannya jauh sekali. Misalnya Injil Barabas yang menjadi rujukan Novel Davinci Code, muncul diabad ke 14, jelas merupakan injil palsu.

Dalam sejarah Kitab Suci, Kitab Perjanjian Lama memiliki dua versi yaitu Versi Kanon Ibrani dan Kanon Yunani. Kanon Ibrani ditulis dalam Bahasa Ibrani sedangkan Kanon Yunani dalam Bahasa Yunani. Kanon Ibrani tidak memuat Kitab Deuterokanonika sedangkan Kanon Yunani memuat Kitab Deuterokanonika.

Mengapa muncul dua versi? Israel sering dijajah oleh bangsa lain seperti Asyur dan terakhir Romawi. Israel sendiri terpecah menjadi dua yaitu Kerajaan Utara dengan Raja pertamanya Yerobeam, ibu Kotanya Samaria dan Kerajaan Selatan (Yehuda) dibawah dinasti Davidis. (Bdk Simamora, 2014: 113-119).

Kanon Ibrani dipegang oleh Orang Yahudi yang mendiami Yerusalem dan Kanon Yunani dipegang oleh Orang Yahudi yang dipengaruhi oleh Budaya Yunani (Yahudi Diaspora). Untuk membedakan dari Sekte Kristianisme, Yahudi menentukan Kanon Ibrani sebagai pegangan utama.

Namun persoalannya, para ahli Kitab Suci perjanjian Baru melihat : yang lebih banyak dikutib dalam Kitab Perjanjian Baru adalah Kanon Yunani (lihat juga Mgr. Hendrikus dalam https://youtu.be/48LedlDrIt8?t=3057. Maka Gereja Katolik sejak awal memakai Perjanjian Lama Kanon Yunani yang didalamnya ada Kitab Deuterokanonika.

Sampai pada abad pertengahan, terjadilah reformasi Lutheran dan dalam perkembangan selanjutnya, Lutherianisme mengadopsi Kanon Ibrani sehingga terjadilah perbedaan Alkitab Protestan dan Katolik sampai sekarang ini. Maka kita bisa memahami prinsip iman Sola Fidei, Sola Scriptura dalam protestanisme karena Orang Yuhudi juga meyakini Taurat seperti itu.

Selanjutnya dalam sejarah Gereja Katolik sendiri terjadi skisma besar dan Bidaah cukup Banyak. Skisma atau perpecahan antara Barat dan Timur dilatarbelakangi oleh Politik dan juga oleh manusia yang juga disebut Gereja. Skisma memunculkan ortodoks yang ada di Rusia dan sekitarnya.

Sebelum Skisma itu, ada banyak bidaah atau ajaran sesat seperti Arianisme, Nestorianisme, Docetisme, Simonisme, Mileniarisme dll. Arianisme berkembang di Timur tengah pada abad ke 4 Masehi. Bidaah-bidaah ini dapat kita lihat di google.

Harus diakui, perpecahan dalam tubuh Gereja dilatarbelakangi oleh politik dan perbedaan teologi. Sejarah reformasi Martin Luther (Reformis) juga tidak luput ditunggangi politik yaitu rasa nasionalisme antara bangsa di Eropa pada abad pertengahan.

Perpecahan Gereja ini menjerumuskan Eropa dalam perang Katolik vs Protestanisme. Sebenarnya yang ada dibelakangnya adalah nasionalisme antara bangsa di Eropa. Memang mengerikan jika agama kawin dengan nafsu politik!

Penjelasan di atas mau menunjukan pengalaman iman Gereja Katolik. Pengalaman menyenangkan dan menyakitkan mempertahankan imannya. Pengalaman Gereja yang terluka dan terbuka, namun setia pada imanNya.

Iman Pada Trinitas

Maka dari pengalaman inilah kita menjawab Iman Trinitas kristianitas kita dari berbagai pertanyaan orang lain yang ingin tahu tentang Trinitas.

Konsep iman Trinitas muncul dari pengalaman orang Kristiani sendiri. Trinitas itu ada dalam Kitab Suci. Maka Iman Trinitas bukanlah rekayasa atau pemikiran apalagi konsesus Bapa Gereja tetapi pengalaman iman Para Rasul yang diteruskan oleh Gereja sampai saat ini.

Pengalaman iman orang Kristen ialah Pengalaman akan Allah yang terlibat dalam sejarah manusia. Dalam Perjanjian Lama, Yahudisme sebagai Pangkal Kristenisme mengimani teguh monoteisme. Kisah-kisah Allah terlibat dalam perang, membela Israel adalah bagian dari teologi monoteisme ini. Yahudisme percaya Allah mereka yang Esa mencintai mereka.

Tetapi keyakinan demikian paradoks dengan kesetiaan iman orang Israel sendiri. Allah yang setia tetapi Israel selalu mengecewakan Allah. Kesetiaan Allah ini selalu dirindukan oleh Bangsa Israel manakala mereka mengalami kesulitan secara nasional.

Para nabi bernubuat bahwa Allah sendiri akan datang menghapus air mata hambanya. Konsep penggambaran harapan kedatangan Allah ini dipegang teguh oleh kaum Eseni. Mesias sang juru selamat akan menyelamatkan mereka.

Nubuat para Nabi ini dan eskatologis atau harapan Israel ini digenapi oleh Pribadi Yesus. Yesus yang dikandung oleh Roh, Yesus Sang Sabda menjadi manusia terlibat dalam sejarah manusia. Allah menjadi manusia inilah Teologi Kristiani. Peristiwa Allah menjadi manusia tidak bertolak belakang dengan konsep Allah yang setia dan mencintai manusia dalam Perjanjian lama. Justru semakin memperkokoh konsep monoteisme Israel yang kental dengan harapan dan cinta.

Yesus sendiri mengungkapkan kepada para muridNya identitasNya, dalam berbagai pengajaranNya dan sebelum ia menderita, Ia menjanjikan Roh Penolong untuk menyertai para muridNya. Roh sebagai Pribadi sangat sulit dipikirkan dalam antropologi seperti di Indonesia, tetapi rupanya tidak sulit dimengerti dalam Pemikiran Yahudi. Roh sebagai pribadi. Dalam Kisah Awal Penciptaan disana ditulis: Roh melayang-layang kemudian dalam PB, Roh itu mendatangi Para Rasul dalam Peristiwa Pentakosta.

Pengalaman iman Para Rasul inilah yang menjadi iman Gereja. Maka setiap kali ada bidaah melawan Trinitas atau pengajaran yang bertentangan dengan iman para Rasul, Gereja selalu kembali kepada pokok imannya.

Keyakinan dan pengalaman iman Para Rasul ini lalu dirumuskan dalam Konsili Nicea, tahun 325 Masehi. Maka Rumusan Iman Kristiani ini, final dan diakui oleh Gereja Katolik sampai sekarang ini. Begitulah!

(Ini hanyalah sebuah tulisan refleksi seorang pastor desa)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here