Jika kondisi hidup terpinggir oleh suatu peristiwa atau musibah, manusia akan lebih kreatif. Begitulah manusia bertemu dengan realitas terdalam dirinya.

Pinggiran Hidup

Akal manusia sangat teransang oleh kesulitan hidupnya. Secara rohani juga, manusia akan berdialog dengan dirinya, ketika ia dilecuti dan dicambuk oleh berbagai persoalan. Ada masalah, ada refleksi.

Situasi terpinggir (red:penderitaan) membawa manusia menemukan keterbatasan dirinya. Manusia rupanya organisme yang tak berdaya. Dalam ketakberdayaan karena penderitaan seperti pandemi ini,  ia menyadari akan kenyataan hidup sesungguhnya, bahwa manusia adalah mahluk berketergantungan.

Keterbatasan dan penderitaan membuat manusia berharap. Selain itu keterbatasan juga membuka ruang solidaritas antara manusia. Manusia terhubung satu sama lain oleh keterbatasan dan penderitaan seperti di masa Pandemi C19 ini. 

Di masa pandemi ini, ketika manusia diseret oleh virus ke pinggiran hidup, garis maut, dengan pembatasan relasi dan interaksi sosial, ia merenung akan identitas kemanusiaannya. Mereka yang terbuka nuraninya tidak hanya berpikir tentang dirinya, tetapi juga keberadaan sesamanya. Inilah yang disebut Levinas, tanggungjawab etis. Orang lain adalah bagian dari diriku, karena itu aku turut memikirkan orang lain tersebut.

Perjumpaan dengan Allah melalui cangkul dan singkong yang ada dijudul tulisan ini merupakan refleksi penulis bersama pastor paroki di pedalaman Kalimantan yaitu Pater Yosep Septum Burman MSF (Pastor Paroki Patas, Barito Selatan) 

Pater Yos berbagi cerita dengan saya, dimasa pandemi ini ia membagi stek/batang singkong kepada umatnya di Paroki Patas,  Barito Selatan. Ia mengajak umat untuk melakukan tindakan antisipatif menghadapi resiko pandemi. “Di media, banyak pakar meramalkan efek dari pandemi ini yaitu tiga krisis : krisis kesehatan, krisis ekonomi dan krisis pangan. Ketiga krisis ini perlu diantisipasi. Karena itu saya terpanggil tidak hanya menggerakan hati umat, tetapi menggerakan cangkul untuk menanam singkong”, cerita Pater Yos.

Bermitra

Singkong atau Dengkot sebutan dalam Suku Dayak Maanyan merupakan makanan turun temurun di kalangan masyarakat Maanyan di Barito Timur dan Barito Selatan. Selain itu Dengkot akan menjadi komoditi jika diolah dengan baik. Untuk itulah kami mendampingi dan membagi Dengkot Kristal kepada umat, untuk ditanam dan dipelihara”, tutur Pater Yos dengan semangat. 

Memang salah satu ciri masyarakat modern menurut Antony Giddens adalah masyarakat yang reflektif dan sadar akan resiko. Pandemi ini seakan membawa masyarakat tanpa pilot, pemimpin. Karena itu solidaritas dan energi cintakasih terhadap sesama, menjadi kekuatan untuk saling meneguhkan dan mengatasi krisis.

“Ya aku tidak punya batubara, emas dan perak untuk diberikan kepada umat, tetapi aku hanya memberikan batang singkong untuk mereka”, kata Pater Yos kepada penulis. 

Cangkul sebagai medium interaksi yang khas manusia dengan alam. Memang cangkul adalah teknologi tradisional, tetapi sama fungsinya dengan mesin-mesin modern yang digunakan manusia untuk menakluk alam. Tetapi saya menggunakan istilah cangkul karena kesederhanaannya, karena ia tidak agresif menguasai alam.

Problem terbesar jaman sekarang ialah keinginan berlebihan. Kebutuhan jaman sekarang tidak hanya pada kebutuhan pokok, tetapi kebutuhan akan keinginan dan pencitraan. Sungguh alam membayar mahal akan keinganan seperti itu. Gandi pernah mengatakan, jika manusia hidup seturut kebutuhannya saja, maka alam ini sudah cukup, tetapi jika manusia hidup seturut keinginannya, alam ini rusak dan tak akan cukup.

Rupanya benar. Teknologi manusia justru menjawab keinginan daripada kebutuhan. Teknologi menjadi monopoli. Struktur sosial diatur atur oleh monopoli teknologi. Ya sepanjang peradaban, teknologi merupakan perpanjangan tangan manusia mengeksploitasi dan menaklukan alam.

Konsep dasar dalam masyarakat teknis-modern adalah manusia sebagai pusat tatanan kehidupan. Lingkungan hidup hanya sebagai obyek pemuas semata. Padahal krisis lingkungan hidup berdampak langsung pada keberadaan manusia itu sendiri. Satu species saja hilang dari dunia ini, akan mengganggu seluruh ekosistem. Itu karena prinsip ekosistem sendiri adalah jaringan/bermitra. Kenapa jaringan? Setiap organisme saling menyuplai kebutuhan satu sama lain. Contoh, Jika tikus dibasmi, ular akan kelaparan. Jika ular punah, stok makanan untuk pemangsanya juga berkurang, demikian seterusnya.

Kembali kepada inti perjumpaan Allah melalui cangkul dan Dengkot ini. Konsep manusia tentang Allah juga tergantung pada relasi manusia dengan alam. Keyakinan Panteisme adanya dewi padi, dewa keadilan, kekuatan supranatural misalnya sangat dipengaruhi oleh relasi manusia dengan alam.

Saya ingat betul, kakek saya bercerita, guntur adalah kentut Tuhan dan hujan adalah air kencing Tuhan, sedangkan petir menandakan kemurkaan Allah. Haha. Pengetahuan ini alamiah, dari penalaran manusia dengan kenyataan alam.

Begitu juga dalam refleksi tentang Tuhan. Gambaran tentang Tuhan antara petani dan politikus berbeda. Gambaran Tuhan antara pelacur dan filosofis, juga berbeda, antara pemuka agama dan umatnya yang tak paham teori atau dogma, juga berbeda.

Mengapa berbeda? Karena pengalaman dan relasionalnya berbeda. Orang berjumpa dengan Tuhan dalam pengalaman hidup. Pengalaman ini dibentuk oleh cara kerja akal manusia (interpretasi)  yang  tidak terlepas dari lingkungannya. 

Meskipun demikian, pandangan atau teologi manusia tentang Tuhan akan sama, ketika manusia terhubung dalam suatu sikap kemanusiaan dan solidaritas. Itulah yang mau saya bagikan di tulisan sederhana ini.

Pastor Yos membawa Allah yang adalah Kasih dalam pengalaman nyata yaitu berbagi stek singkong bersama umat. Allah itu tidak hanya diimani, terkungkung dalam rumusan dogmatik, tetapi mengungkapkan diri dalam pengalaman keseharian hidup manusia. 

Membagi stek/batang singkong dan mengajak umat menanam singkong, nampaknya tindakan sederhana. Tetapi kualitas dari tindakan itu, luar biasa. Pastor Yos yang sedang bergumul dengan Allah yang maha kasih, kemudian berjumpa dengan kenyataan hidup yang sama bersama umatnya yaitu tanggap terhadap krisis, efek pandemi. Disitulah Pater Yos, sang teolog memiliki pengalaman dan konsep yang sama tentang Allah sang Kasihnya. 

Tuhan dan Pandemi

Dimasa pandemi ini, saya kira, Allah yang maha kasih, maha cinta itulah yang perlu ditunjuk dan dinyatakan.

Jika ditilik dari pengalaman umat Israel dalam Kitab Suci, Tuhan juga sering berbicara melalui peristiwa negatif _seperti penderitaan, wabah, peperangan dll., untuk menyadarkan manusia.

Sepanjang sejarah Israel dalam Kitab Suci, seringkali Allah memakai cara yang terlihat negatif untuk menyadarkan umatNya. Ketika kecongkakan menghinggap manusia, kerakusan, korupsi, ketidakadilan, dan sebagainya, Tuhan membawa manusia ke pinggiran hidup (penderitaan), supaya manusia bergumul dengan keterbatasannya.

Penyakit dunia sangat terlihat jelas. Dalam tataran makro misalnya,  ketidakadilan antara negara maju dan negara miskin nyata sekali. Ada monopoli ekonomi disana. Begitu juga, kerusakan lingkungan hidup akibat ekspansi ekonomi sangat masif. Sementara kenyataannya, sedikit orang hidup dengan lumbung harta dan kemewahan,  sedangkan banyak orang tampak hidup dalam garis kemiskinan.

Begitu juga di tingkat nasional bahkan sampai ke struktur sosial paling kecil yaitu keluarga, mengalami kemunduran dan kesenjangan.

Karena itu,  mungkin kita perlu menggugat diri kita. Mencangkul ke dalam lubuk hati untuk bertemu dengan diri kita sendiri. Kemudian Dengkot yang berisi, muncul sebagai ekspresi cinta dan solidaritas di masa pandemik ini. 

Bentuk solidaritas yang sederhana, saling menguat dan bermitra dalam masa Pandemi ini merupakan kekuatan manusia untuk melawan krisis yang disebabkan oleh pandemik.  Bukankah kita juga memiliki tanggung jawab moral untuk menghormati kehidupan? Dalam Teologi Moral Kristiani, mengutaman kehidupan jauh lebih penting dari apapun.

Mari kita bertanggungjawab atas hidup ini. Bukan seperti teori Darwin seleksi alam, yang kuat sebagai pemenang, tetapi teori cinta kasih, option for the poor, solider  satu dengan yang lain. 

Tuhan membela yang lemah. Kita juga dipanggil untuk terlibat dan solider. Sebab hidup orang lain adalah tanggung jawab sesamanya. Orang lain adalah aku yang lain atau aku adalah bagian dari sesamaku.

Mari menempatkan Allah yang solider dan penuh cinta kasih di tengah pandemi ini. Karena dengan solider, kita menemukan Tuhan yang satu,  dan menemukanNya juga  dalam diri sesama.

Salam Cangkul dan Dengkot dari Paroki Patas, Barito Selatan, Kalimantan Tengah. Cangkul membuat aku bersahabat dengan alam, Dengkot membawa aku berjumpa dengan Allah dan sesama. Allah kita adalah Allah cinta dan solider.

———-

(Tulisan ini merupakan refleksi dari gerakan sederhana pater Yosep Septum Burman MSF mengajak umat menanam Singkong Kristal untuk antisipasi dampak jangka panjang dari covid 19. Ditulis oleh P. Tarsy Asmat, MSF) 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here