Keluarga ibarat sebuah pohon. Setiap anggota keluarga adalah dahan-dahannya. Meski berbeda arah pertumbuhan, setiap anggota bertumpuh dari akar yang sama. Meski memiliki karakter dan pembawaan yang tidak sama, setiap anggota berasal dari batang yang sama, keluarga.

Perbedaan arah, cara pikir, pembawaan, karakter dan interese pribadi dalam keluarga kadang menjadi sumber masalah, sehingga antar satu dengan yang lain saling sahut-menyahut, ancam-mengancam, sumpah-menyumpah, bahkan bunuh-membunuh.

Perbedaan kadang dilihat sebagai ‘kutuk’ dimana yang satu memandang yang lain sebagai biang dan sumber masalah. Konspirasi jahat acap kali terbangun hanya untuk memberi ‘hukuman’ bagi yang lain. Perang tidak lagi antar negara, tetapi antar anggota keluarga. Damai menjadi sesuatu yang asing.

Ironi dalam keluarga pun terjadi. Saat berpapasan dengan orang yang tidak dikenal, kita memberi rasa hormat yang tinggi. Tapi dengan keluarga dan orang yang kita cintai, kita menghardik dengan kasar.

Saat orang lain berbuat salah, kita langsung minta maaf atau memaafkan. Tapi dengan keluarga dan orang yang kita cintai, kita malah menyalahkan dan memaki-maki.

Saat bertemu dengan orang asing, kita memperlakukannya seperti keluarga. Tapi dengan anggota keluarga dan orang yang kita cintai, kita memperlakukan seperti orang yang tidak kenal.

Saat berpisah dengan orang lain, kita ucapkan selamat jalan atau selamat tinggal. Tapi dengan keluarga dan orang yang kita cintai, kita diam-diaman.

Saat berada dengan orang lain, senyum, canda tawa dan keceriaan menjadi milik bersama. Tetapi dengan keluarga dan orang yang kita cintai, kita mudah cemberut, marah, iri dan jengkel.

Di mana rasa hormat, maaf-memaafkan, senyum, tegur sapa dan keceriaan yang seharusnya ada keluarga? Apakah keluarga masih menjadi sebuah naungan yang paling nyaman di dunia?

Bukankah dari keluargalah segala yang baik bermula? Dan jika sudah kacau, masih ada maaf yang tulus untuk anggota keluarga?

Jangan biarkan semua perbedaan menghancurkan akar yang sama, keluarga. Jangan biarkan ironi dalam keluarga menghancurkan pohon yang sama, keluarga. Yakinlah, blood is thicker than water.

Saling mengampuni dan maaf memaafkan adalah jalan dan kunci untuk memulihkan segala permasalahan. Paus Fransiskus mengatakan, ‘Tanpa pengampunan keluarga menjadi sebuah teater konflik dan benteng keluhan. Tanpa pengampunan keluarga menjadi sakit.’

Memang, tak ada keluarga yang sempurna. Namun ketidaksempurnaan bukan menjadi alasan untuk hilangnya rasa bahagia dalam keluarga.

Tidak perlu menjadi sempurna untuk bahagia. Kita bisa bahagia bersama keluarga di tengah banyak ketidaksempurnaan. Maka maaf menjadi prasyarat mutlak.

Bagaimanapun juga, keluarga adalah tempat dimana kita berasal dan tempat dimana kita kembali. Keluarga adalah tempat setiap anggota menemukan rasa damai, nyaman dan bahagia. Biarlah ada damai dunia ini dan itu bermula dari keluarga.

P. Yoseph Pati Mudaj, MSF (Berkarya di Keuskupan Palangkaraya)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here