Pagi di ruang refter. Kopi hangat mengusir dekapan angin pagi yang menggigil tulang. Kami saling menatap, tersenyum. Wajah tua bersahaja di depanku, rambut kepalanya yang bersalju mulai bercerita tentang anak-anak ayam.

Kami memanggilnya Pater Taff, karena ia sering mengendarai mobil Taff menyusuri rawa-rawa pedalaman Kalimantan, membawa warta sukacita seraya menyelamatkan saudara-saudaranya yang rapuh karena dunia membuat mereka seperti itu. Ia salah satu misionaris Jerman yang masih tersisa di Kalimantan.

Dunia saya dan duniamu yang sejatinya harmoni, dididik oleh buku-buku kebijaksanaan agama-agama tetapi selalu beranak banyak ketidakadilan. Tetapi cerita anak ayam pagi ini bukan dari Kalimantan. Pater Taff baru kembali dari Pulau Timur, dekat Atambua, perbatasan dengan Tim-tim, salah satu daerah misi kami.

Katanya berkelakar, “itu kerajaan para manusia berambut keriting, berkulit gelap tetapi menyimpan madu di hati mereka. Kemana-mana aku disuguh tawa, senyum dan salam. Anak-anak menantiku. Aku melihat mereka berlari di padang dengan kaki tak berkasut, mengejar sapi yang nakal lalu mengikatnya pada kayu jambu”.

“Tuhan menciptakan kolong langit dan anak-anak tak memikirkan masa depan, kecuali bahwa kebahagian milik mereka hari ini. Kamu dari mana? Tanyanya kepada temanku.

“Timur! Sahut Jeri yang berambut kriting.

“Mugi e, mugi e…dia bernyanyi, kami juga bernyanyi sambil bertepuk-tepuk dan kaki menghentak-hentak lantai yang dingin sampai pagi dan sepinya pergi tanpa pamit. Ruangan refter penuh dengan sukacita.

“Timur…banyak janda miskin di sana ya!”

“Miskin? Kami sedikit menunduk kepala. Kata itu secepat kilat masuk ke dalam ruang-ruang perasaan. Dahulu, aku tidak pernah mengenal kata miskin itu diberikan orang kepada kami. Kecuali orang-orang kami bercerita kekurangan kalau musim menjelang bajak dan berkebun. Tetapi, itu biasa, bukan masalah. Setiap orang punya masalah dan utang puluhan ribu dan tidak malu bercerita kepada tetangga. Ketika aku melompat dari kubangan itu, tinggal di negeri orang, aku baru tau kenapa utang puluhan ribu saja menjadi beban bagi Lasarus.

Aku adalah bagian dari kemiskinan itu. Kadang aku menertawakan diri, tak memprotes hal itu sejak dulu. Masa kecilku kebanyakan bermain-main di stepa bersama sapi-sapi ternak ayah. Leo, Lukas dan Marco, kami berempat kawan paling akrab dan sapi-sapi mana yang tidak mengenal kami, karena kami adalah gembala yang setia.

Aku merenung kata itu. Menelannya seperti empedu, merengsek ke sum-sum hingga bagaikan jarum menusuk tubuhku dari dalam. Tetapi aku tidak bisa menolaknya apalagi membrontak. Kemiskinan memang sahabat orang-orang di sana. Lihat saja tulang-tulang anak-anak, perut buncit dan lutut-lutut yang bergoyang serta mata kaki menonjol kentara. Adik Leo bernama Son bae lai meninggal karena ibunya tak lagi bisa memberi asi sementara ayahnya kekurangan uang membeli susu di toko.

“Bagaimana keadaan mereka, Pater?”

“Mereka bahagia, jawabnya, tetapi mereka sungguh miskin. Pada musim begini, dari pondok, mereka akan menyaksikan bintang-bintang dan bulan pada malam hari. Tetapi kalau musim hujan, tempias-tempias air hujan akan bercucur bersama air mata anak-anak karena hujan mengganggu mimpi-mimpi mereka, ia bercerita.

“Aku mengingat Rosalia, gadis kecil bermata bulat. Ingat juga akan pondoknya. Bersama kakaknya Marianus, Seno, dan adiknya Lusi. Rosalia akan mengambil rosarionya. Memejam mata, mulutnya berbicara tanpa kata kepada malam yang pekat. Hanya wajahnya dibasuh oleh papar cahaya lentera, memerah. Tampak cantik ia, dan aku menatapnya sampai kantuk menghajar!

“Gimana dengan Rosalia, Pater, apakah masih rajin ke Gereja?
“Rosalia, Anak Silvanus?
“Betul!
“Kamu kenal dia?”

“Wajah kecil Rosalia menyusup lengkap dengan seluruh potong tubuhnya dari ujung kakinya sampai rambutnya yang sedikit pirang, matanya yang indah, jernih dan tajam.

Kakinya yang kumal mengenakan sandal jepit usang bewarna abu-abu karena debu. Ia hanya menyikat sandal jepitnya pada hari minggu untuk bertemu Tuhan. Ia akan duduk paling depan, dekat dengan mimbar, “supaya mendapat banyak berkat”, katanya.

Saya mengajari dia doa bapa kami, salam maria, sebelum ia menerima komuni pertama di bawah pohon ketapang rindang. “Aku mengajarnya bernyanyi, Pater” kataku.

“O yah! Pria tua itu melebarkan matanya. Tetapi, dia sudah tak sekolah karena membantu ibunya memelihara ayam!

“Rosalia!! aku menyebut nama itu dalam hati. Diibalik rambut jumbainya yang panjang dan pirang, otaknya cerdas. Matanya yang jernih selalu bertanya pada gurunya!

Dibawah pohon ketapang, aku pernah mengisahkan mimpi untuk dia dan teman-temannya. Kuceritakan kepadanya negeri-negeri yang pernah kukunjungi, yang pernah kubaca di buku-buku, para penemu, insinyiur dan para pembuat novel dunia. Agar ia bermimpi tak pernah henti, sebab aku percaya alam akan membantu melunasi mimpinya dengan cara yang paling rahasia dari sang pencipta.

Tetapi, satu kedipan mataku jatuh, mimpinya sudah mati. Mungkin ia mengingat aku, seorang pembohong anak-anak!

“Mereka sudah punya ayam ka Pater?

“Ya saya memberi mereka tujuh induk ayam plus satu ayam jantannya. Rosalia merawat ayam itu, dan dia sudah bisa menjual anak-anak ayam untuk membiayai sekolah adik-adiknya.

“Apakah ia selalu tersenyum? Aku ingin menanyakan itu kepada Pater Taff, tetapi aku tidak ingin memperlihatkan perasaan sentimentil berlebihan.

*****

Seandainya, aku kembali ke sana! Aku memelihara lele, ayam, babi dan sapi, di samping Pastoran, mengajari Mateus, markus, dan bapak-bapak merekayasa lahan gersang, membeli kerajinan para ibu-ibu dan menjualnya ke luar negeri dengan harga yang sama.

Aku akan meneliti bahan-bahan pangan, mengundang Lufti dan Andrea dan Kwin sahabatku di tanah jawa untuk merencanakan produksi bagi pangan lokal.

Seandainya, aku kembali ke sana, aku akan mengajari mereka mimpi. Pada anak laki-laki aku mengajari mereka menendang bola seperti Messi, dan kepada pemudanya aku mengajarkan kehidupan itu perlu proses bukan menenggak alkohol supaya bisa lancara berdansa.

Aku akan mengajari mereka berpuisi agar kayalan mereka bersayap. Andaikan aku ke sana, aku akan bernyanyi bersama Rosalia lagi dengan ukulele di bawah pohon ke tapang, mugi e….mugi eee, pada senja ketika mentarinya memerah ilang-ilalang di stepa.

Semuanya seandainya saja. The Power of Love of C. Dion dan I am not live alone, Sam Smith menutupnya dengan suara yang mengundang rindu.

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here