Segenap umat katolik se-Keuskupan Agung Samarinda yang terkasih dan dikasihi Tuhan!

1. Pada hari Rabu, tanggal 26 Februari 2020, Umat Katolik seluruh dunia akan memasuki Masa Pra-Paska yang ditandai dengan penerimaan abu. Selama masa itu setiap warga Gereja katolik diminta untuk melakukan pertobatan secara khusus, dengan melihat diri secara cermat dan menyeluruh, sehingga dapat menemukan dosa dan kekurangan untuk kita perbaiki. Pengakuan dan penyesalan atas dosa itu kita ungkapkan dengan menerima Sakramen Tobat. Selain itu, kebaikan yang telah kita lakukan selama ini perlu terus kita tingkatkan. Kita diajak untuk meningkatkan doa, berpuasa, berpantang dan mengembangkan solidaritas kita dengan mereka yang berkekurangan dengan memberi derma.

2. Selama masa Pra-Paska itu kita juga diajak untuk merenungkan kasih Allah yang begitu besar bagi dunia dengan menyelamatkannya. Kasih Allah itu mewujud nyata melalui Tuhan kita Yesus Kristus yang hidup di tengah-tengah kita, memberi diri sampai sehabis-habisnya melalui karya, sengsara dan wafat-Nya. Kebangkitan-Nya yang perayaannya kita persiapkan menjadi jaminan pasti keselamatan kita. Kasih-Nya ditujukan untuk semua orang, tanpa kecuali. Maka selain bersyukur atas tindakan Allah itu, kita mesti terus meningkatkan kasih kita kepada Tuhan dan mewujudkanya dengan mengasihi sesama. Kasih kepada-Nya kita ungkapkan dengan berdoa dan beribadat, khususnya mengikuti Perayaan Ekaristi. Kasih kepada sesama kita wujudkan dengan bermurah hati dan mengasihi siapapun, tanpa kecuali. Bahkan kita diminta untuk menjadi sempurna dalam kasih seperti Bapa sempurna adanya.

Baca Juga: Peraturan Pantang dan Puasa Keuskupan Agung Samarinda

Saudara-saudari terkasih.

3. Tahun 2020 merupakan tahun yang istimewa bagi Keuskupan Agung Samarinda, karena pada tanggal 21 Februari 2020 Keuskupan kita genap berusia 65 tahun. Kita syukuri karya Tuhan melalui para misionaris dari luar negeri yang dengan semangat misioner yang tinggi meninggalkan tanah air mereka untuk melaksanakan tugas perutusan Tuhan “Pergilah ke seluruh dunia dan beritakanlah Injil kepada segala makhluk.” Banyak orang telah menerima pewartaan para misionaris itu dan menjadi orang katolik. Banyak pula yang meneruskan harta kekayaan iman itu kepada sesama, sehingga jumlah umat katolik terus bertambah. Setelah tiba waktunya pada tanggal 21 Februari 1955 didirikan Vikariat Apostolik Samarinda yang menandai berdirinya Gereja Partikular yang adalah bentuk awal Keuskupan. Oleh karena itu, pantaslah kita berterima kasih dan menyampaikan penghargaan kepada para misionaris, perintis dan para pewarta Injil baik para imam, biarawan-biarawati maupun awam atas jasa dan pengabdian mereka.

4. Sebenarnya, setiap orang yang dipanggil untuk percaya kepada Tuhan Yesus Kristus dan dibaptis sekaligus juga diutus untuk mewartakan Kabar Gembira itu. Mengenai perlunya meneruskan pewartaan itu Bapa Suci Fransiskus telah menegaskan kembali dengan menetapkan bulan Oktober 2019 sebagai sebagai Bulan Misi Luar Biasa. Penetapan itu dimaksudkan agar kita ingat dan semakin menyadari bahwa kita dipanggil dan sekaligus diutus. Untuk menggaris-bawahi penegasan itu, saya telah memperpanjang Bulan Misi Luar Biasa itu dengan menetapkan Tahun Misi yang berlangsung selama satu tahun, mulai Hari Minggu Misi, tanggal 20 Oktober 2019 sampai tanggal 20 Oktober 2020 . Ada sejumlah kegiatan yang sedang dan akan dilakukan bersama dan dalam kelompok. Namun yang paling penting adalah meningkatnya kesadaran dan tindakan nyata segenap umat Katolik Keuskupan Agung Samarinda untuk mewartakan Injil, sehingga semangat misioner itu hidup dan berkembang terus; tidak terbatas selama Tahun Misi Luar Biasa.

5. Agar semangat misioner itu semakin menggelora, pertama-tama iman kita mesti kuat. Segala sesuatu yang kita lakukan, bukan karena ikut-ikutan, tetapi karena keyakinan. Selain itu, kita bangga akan iman kita, sehingga mendorong kita untuk meneruskannya kepada sesama, seperti diamanatkan oleh Tuhan Yesus sendiri. Maka melaksanakan tugas perutusan itu bukan sukarela, melainkan wajib. Dengan melaksanakan tugas perutusan itu semangat misioner semakin berkembang dan akan semakin nampaklah wajah Gereja yang misioner.

Pelaksanaan tugas perutusan itu mesti dimulai dari keluarga. Suami-isteri mesti berusaha saling meneguhkan iman. Jika salah satu lemah, yang lain mesti menguatkan. Orang tua mesti meneruskan iman Katolik kepada anak-anak dengan mengajarkannya, memberi teladan dalam mengungkapkan iman melalui doa dan ibadat, khususnya perayaan Ekaristi dan melalui kata-kata dan sikap serta tindakan baik dalam hidup sehari-hari. Sebagai orang beriman katolik kita mesti saling meneguhkan. Mendorong dan mengajak saudara-saudari seiman juga merupakan tindakan misioner.

Baca Juga : Pemakluman Tahun Misi Luar Biasa Di Keuskupan Agung Samarinda

6. Kita juga diutus untuk untuk mewartakan Kabar Gembira, khususnya nilai-nilai Injil kepada saudara-saudari kita yang belum mengenalnya, khususnya di lingkungan hidup kita masing-masing. Salah satu nilai Injil yang amat mendasar dan mendesak untuk kita wartakan adalah persaudaraan sejati di tengah masyarakat yang sebagian warganya cenderung membuat sekat-sekat atau bahkan hidup tertutup dan eksklusive. Untuk itu kita mesti bersikap terbuka, bergaul dan bersaudara dengan siapapun, tanpa memandang latar belakang suku, golongan dan agama. Kalau semangat itu dihidupi oleh semakin banyak orang, pastilah kerukunan, persatuan dan damai sejahtera akan semakin mewujud nyata. Tugas perutusan untuk mewujudkan damai sejahtera tidak pernah selesai sampai datangnya zaman kepenuhan, yaitu akhir zaman. Maka semangat misioner mesti berlanjut dan tidak pernah surut, apalagi berhenti.

7. Seraya memasuki masa Pra-Paska kita memulai menjalankan Aksi Puasa Pembangunan (APP). Tema yang diangkat adalah “MEMBANGUN KEHIDUPAN EKONOMI YANG BERMARTABAT.” Melalui tema itu kita diajak untuk menyadari bahwa segala usaha yang dilakukan oleh siapapun, bukan hanya demi meningkatnya hasil atau produksi dan keuntungan belaka, tetapi mesti bertujuan untuk kepentingan manusia itu sendiri dan bermuara pada kesejahteraan umum. Selain itu, kita mesti menjadi pelaku yang mandiri demi mencapai kesejahteraan dan bukan tergantung pada pihak lain, misalnya perusahaan besar atau negara. Salah satu modal dasar untuk mewujudkan kehidupan ekonomi yang bermartabat itu, adalah kepemilikan tanah atau lahan usaha.

Rupanya kecenderungan untuk menggantungkan diri pada pihak lain dalam hidup ekonomi semakin kuat, sedangkan usaha untuk mandiri melemah. Akibatnya, ketika terjadi goncangan ekonomi dampaknya akan amat terasa dan bahkan tak berdaya ketika terjadi pemutusan hubungan kerja. Maka kita mesti membangun kehidupan ekonomi yang bermartabat itu. Untuk itu, saya minta agar setiap keluarga atau kelompok memiliki tanah/lahannya sendiri. Kalian yang memiliki tanah luas, jangan mudah menjualnya dan harus tetap memiliki lahan yang cukup; jangan sampai tidak memiliki lahan lagi. Semangat misioner yang mesti kita bangun adalah membangun kehidupan ekonomi keluarga yang mandiri, seraya mengajak sesama dan masyarakat mengembangkan hidup ekonomi yang bermartabat itu dan mampu mengaturnya sendiri.

Kita serahkan usaha-usaha mewartakan Kabar Gembira dan membangun semangat misioner kepada Santa Maria, Bunda Gereja dan Ibu kita. Kita percaya bahwa Bunda Maria, Ibu para misionaris senantiasa menolong kita.

Samarinda, 17 Februari 2020

Mgr. Yustinus Harjosusanto MSF
Uskup Keuskupan Agung Samarinda.

Baca Juga : Kampung Misi yang Tergerus

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here