Saya lahir tahun 1978. Orangtua memberi nama baptis Fransiskus Nikolaus dan mewariskan kepada saya nama kakek “Lakebelek” serta suku/marga “Teluma”. Dengan demikian nama lengkap saya Fransiskus Nikolaus Lakebelek Teluma.


Sudah sejak kecil saya tertarik dengan kehidupan para imam, para pastor paroki pada masa itu dan secara khusus beberapa saudara sepupu saya yang sudah ditahbiskan menjadi imam Serikat Sabda Allah (SVD) dan imam diosesan sebelum saya lahir.

Keinginan itu lalu menemukan jawaban pada tahap paling dasar dengan test masuk seminari dan diterima di Seminari Menengah San Dominggo Hokeng (Sesado) pada tahun 1994. Di Seminari San Dominggo tempat persemaian inilah benih panggilan itu mulai disemaikan ulang dan tumbuh, dan saya pun berproses untuk membuat pilihan, menentukan ke mana harus melangkah, artinya masuk tahap baru dengan resiko dan tantangan yang waktu itu juga disadari semakin besar.

Baca Juga: OMK yang Lebih Misioner

Hasrat hati untuk menjadi misionaris akhirnya menggiring saya pada tahun ke-4 di Sesado memutuskan dengan mantap melamar ke Kongregasi para Misionaris Keluarga Kudus (Misioneros de la Sagrada Familia – MSF). Kesadaran akan panggilan Sang Empunya Tuaian pun semakin kuat ketika saya diterima di MSF dan diperkenankan menjalani tahun Novisiat.

Tahun Novisiat yang syarat dengan olah rohani, discernment panggilan dan interiorisasi spiritualitas tarekat pun dilewati dan saya diperkenankan mengikrarkan kaul-kaul hidup membiara dan kemudian melangkah ke tahap berikut, masuk skolastikat, mulai belajar filsafat dan teologi.

Dalam refleksi saya, hasrat hati untuk menjadi misionaris dan keyakinan bahwa Yang Empunya Tuaian punya rencana atas diri dan hidup saya (saya dipanggil dan dipilih) semakin menemukan jawaban dan jalan selama proses formasi, baik di tahun Novisiat (Biara Betlehem Salatiga), maupun di Skolastikat Biara Nazareth Jogjakarta. 

Baca Juga : Katekese Keluarga : Bagaimana Perkawinan dalam Pandangan Gereja Katolik?

Supaya semangat untuk bermisi tidak tinggal dalam mimpi dan angan-angan, Kongregasi para Misionaris Keluarga Kudus memperkenankan saya menjalani Tahun Orientasi Pastoral di Papua New Guinea (PNG), medan misi yang menantang dan saya terima sebagai saat berahmat guna membentuk diri menjadi misionaris.

 

Proses formasi berlanjut, saya kembali ke Skolastikat Biara Nazareth Jogjakarta untuk melanjutkan teologi. Sang Empunya Tuaian kembali membuat kejutan lain. Studi teologi saya lalui bersama para konfrater seper-jalan-an, sampai akhirnya pada tahun 2005 saya ber-ikhrar untuk seumur hidup menjadi biarawan Misionaris Keluarga Kudus. Dan pada tanggal 17 Juli 2007, saya menyatakan “YA” di hadapan Allah, Bapak uskup penahbis, para konfrater dan seluruh umat yang hadir untuk diurapi menjadi imam Allah.

Dengan urapan (imamat) yang saya terima, misi saya yang adalah misi Kristus baru mulai berpijak pada tangga pertama. Dua tahun sebagai imam ‘balita’ (2007-2009) saya jalani sebagai ‘anak sekolah’ – student di Fakultas Kepausan Wedabhakti Jogjakarta. 

Baca Juga : Pentingnya Kompetensi dalam Pelayanan Pastoral

Misi studi selesai dan medan misi menanti

Tuaian banyak dan sekarang saatnya Yang Empunya Tuaian mengirim pekerja untuk tuaian itu. Misi MSF Provinsi Jawa dan MSF Provinsi Chile memerlukan pekerja untuk tuaian dan saya masuk dalam daftar yang akan dikirim. Bulan Juli 2009, Dewan Pimpinan Provinsi MSF Provinsi Jawa (Wakil Yang Empunya Tuaian di bumi), memutuskan untuk mengirim satu konfrater dan saya untuk misi di Amerika Latin, tepatnya di Chile.

Sebagaimana motto tahbisan “Supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan DIA harus makin besar”, saya pun menjalani misi, menyambung Kisah Kristus dengan penuh sukacita di medan misi Amerika Latin selama kurang lebih 6 tahun (2009-2015).

Empat tahun enam bulan sebagai vicario parroquial di paroki San Francisco, Metropolitan Santiago de Chile dan satu tahun enam bulan di Paroki Sagrada Familia Coquimbo (Chile bagian utara) dengan pastoral khusus kaum muda.

Omong soal tantangan hidup menggereja (di Spanyol dan Chile). Dalam refleksi saya, tantangan paling besar adalah ketika Gereja berhenti mewartakan Kristus. Masing-masing tempat punya konteks sendiri dan selama Gereja mewartakan Kristus, Gereja dan Kristus akan tetap hidup.

Spanyol dan eropa pada umumnya, termasuk Chile sering dikategorikan sebagai Gereja tua yang sedang menanti ajal. Saya tidak sepenuhnya sepakat dengan analisa ini. Gereja Kristus tetaplah Gereja Kristus, yang sudah lebih dari 2000 tahun tetap berdiri kokoh di tengah badai dan gelombang kehidupan. Gereja bukan karya manusia.

 

Spanyol dan eropa pada umumnya, termasuk Chile sering dikategorikan sebagai Gereja tua yang sedang menanti ajal. Saya tidak sepenuhnya sepakat dengan analisa ini. Gereja Kristus tetaplah Gereja Kristus, yang sudah lebih dari 2000 tahun tetap berdiri kokoh di tengah badai dan gelombang kehidupan. Gereja bukan karya manusia.

Seperti kata Sang Guru, Gereja, semua orang katolik dan semua yang dipanggil dan dipilih untuk persembahkan hidup demi Kerajaan Allah adalah PENABUR. Benih Sabda yang ditabur akan bertumbuh atau berkembang tergantung jenis tanah di mana benih-benih itu jatuh.

Orang-orang muda katolik di Chile juga banyak yang terlibat terutama menjalani peran sebagai katekis untuk adik-adik mereka yang akan menerima komuni atau krisma. Minimal OMK yang juga adalah katekis punya kursus formal sebagai katekis. Kursus formal selain diadakan di paroki, juga diselenggarakan oleh keuskupan.

Saya percaya dengan Penyelenggaraan Ilahi. Kalau Allah memanggil, biasanya akan ada jalan dan pasti akan selalu dalam proses. Kalau seseorang terpanggil dan (berandai-andai sedikit) orangtua tidak setuju, pasti akan ada jalan dan instrumen lain yang dipakai. Menurut saya, pertanyaan reflektif yang juga menarik direnungkan adalah bagaimana kalau orang tua yang mau jadi imam atau misionaris dan bukan anak?

Baca Juga : Ambisi pribadi selalu mengorbankan sesama! Bukan semangat injili

Melalui Dewan Pimpinan Provinsi, saya ditarik dari misi di Chile untuk tugas studi di Spanyol. Sejak 2016, saya diterima menjadi mahasiswa doktoral pada program Teologi Moral dan Praxis Hidup Kristiani di Universitas kepausan milik Yesuit di Madrid (Universidad Pontificia Comillas – Madrid) dan saat ini sedang menyelesaikan disertasi. 

Misionaris juga berarti utusan dan identitas sebagai utusan ditandai oleh rahmat tahbisan yang diterima dan ikhrar kebiaraan untuk hidup murni, taat dan miskin di hadapan Allah.

Dengan demikian selalu ada dinamika antara Yang Mengutus (saya lebih memilih ‘Yang Empunya Tuaian’) dalam hal ini diwakili oleh Superior Provincial dan Dewan Pimpinan dengan saya sebagai pekerja untuk tuaian. Kedua, konsekuensi panggilan.

Pernyataan “YA” dalam tahbisan atau kaul-kaul hidup membiara hanya akan menemukan makna ketika saya jalani dengan sukacita misi Gereja melalu tarekat yang tidak lain adalah Misi Kristus. Saya terpanggil untuk menyambung Kisah Kristus melalui perutusan yang dipercayakan tarekat kepada saya. 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here