“Para biarawan MSF menjalankan perutusan yang tidak mudah. Syukurlah, hadir para sahabat MSF yang membantu para Misionaris Keluarga Kudus”.

Oleh P. Bobby Steven MSF*

Sejatinya, kedekatan antara para gembala dan sahabat para gembala yang mendukung pelayanan bukanlah hal baru. Dua ribu tahun lalu, Yesus, Sang Gembala Agung, berkeliling memberitakan Kabar Gembira ditemani kedua belas murid laki-laki dan beberapa wanita.

Para wanita tersebut telah disembuhkan dari roh jahat atau dari aneka penyakit. Di antara para wanita itu ada tiga wanita yang disebutkan: Maria yang disebut Magdalena, Yohana dan Susana (lihat Luk 8:1-3).

Tulisan ini hendak menggali keutamaan para wanita sahabat Yesus. Harapannya, para sahabat MSF dapat meneladan keutamaan para wanita mulia sahabat Yesus. Untuk itu, mari kita kenal dari dekat keutamaan dua dari antara banyak wanita mulia yang disebutkan dalam Injil: Maria Magdalena dan Yohana.

Maria Magdalena: Bukan Kekasih Yesus

 Maria Magdalena pernah dibebaskan Yesus dari tujuh setan (lihat Mrk 16:9). Kiranya rasa syukurnya atas karunia Yesus itulah yang mendorongnya untuk melayani rombongan Yesus dengan kekayaannya. Bukan hanya itu, Maria Magdalena setia mengikuti perjalanan Yesus dari kota ke kota dan dari desa ke desa hingga penyaliban sampai wafat-Nya.

Menurut Injil Yohanes bab 20, Maria menyangka Yesus yang telah bangkit sebagai penunggu taman. Baru setelah Yesus memanggil namanya, Maria tersadar.

Pengenalan Maria Magdalena akan Yesus sungguh mendalam. Ia tersadar bahwa orang yang disangkanya sebagai penunggu taman adalah Yesus, ketika Yesus memanggil namanya dengan suara yang ia sangat kenal. Maria Magdalena lantas berpaling dan berkata pada Yesus dalam bahasa Ibrani, “Rabuni!” (Artinya: Guruku!). Panggilan ini menunjukkan penghormatan mendalam pada Sang Guru. Maria Magdalena selalu dekat sekaligus hormat pada Yesus.

Sayangnya, banyak film, novel, dan tulisan fiksi menampilkan Maria Magdalena sebagai wanita yang menjalin hubungan romantis dengan Yesus. Celakanya, tak sedikit orang Katolik yang justru berpikir bahwa mungkin saja penggambaran romantis seperti itu benar adanya.

Penting diperhatikan bahwa gambaran semacam ini sangat tidak sesuai dengan kesaksian Injil mengenai Yesus dan Maria Magdalena. Satu-satunya relasi antara Yesus dan Maria Magdalena adalah relasi antara seorang Guru Agung dan muridnya. Karena itu, Maria Magdalena memanggil Yesus sebagai “Guruku (Rabuni!)”. Singkatnya, Maria Magdalena bukan kekasih Yesus!

Menariknya, Yesus tidak memilih para murid pria untuk menjadi saksi pertama kebangkitan-Nya. Ia memilih untuk menampakkan diri-Nya pada Maria Magdalena. Maria Magdalena kemudian mendapat perutusan penting untuk menyampaikan peristiwa kebangkitan Yesus pada para murid (lihat Yoh 20:14-18).

Kepercayaan ini kiranya Yesus berikan karena Yesus tahu bahwa Maria Magdalena adalah murid-Nya yang mengenal-Nya demikian dekat sekaligus sangat hormat pada-Nya.

Yohana: Tak Lekat pada Harta

Yohana adalah istri Khuza, bendahara Herodes Antipas. Kemungkinan besar, Yohana mendengar tentang Yesus dari Herodes. Herodes memang pernah menyampaikan pendapatnya mengenai Yesus kepada para pegawainya (lihat Mat 14:1-2).

Tidak menutup kemungkinan, Yohana saat itu juga hadir dan mendengar sendiri atau mendengar tentang Yesus dari suaminya (Khuza, bendahara Herodes).

Bersama Maria dari Magdala, Maria ibu Yakobus, dan sejumlah wanita lain, Yohana pergi ke kubur Yesus membawa rempah-rempah. Mereka mendapati kubur Yesus kosong dan mendapat penampakan dua orang yang menyampaikan bahwa Yesus telah bangkit (lihat Luk 24:1-11).

Sebagai istri bendahara raja, Yohana hidup di tengah kaum kaya dan petinggi pada zamannya. Menariknya, Yohana tidak larut dalam gaya hidup mewah para istri pejabat. Ia justru merelakan hartanya untuk mendukung karya Yesus bagi kaum miskin.

Yang lebih menakjubkan ialah kesetiaannya mengikuti Yesus berkeliling dari satu kota ke kota lain, dari satu desa ke desa lain. Ia sungguh-sungguh terlibat dalam keseharian Yesus mewartakan Injil. Kesetiaannya benar-benar teruji karena ia berani datang ke kubur Yesus untuk memberikan penghormatan yang layak bagi Yesus yang telah wafat.

Yohana tidak lekat pada kemewahan dan kenyamanan hidup. Baginya harta adalah anugerah yang sepantasnya dibagikan. Yohana berani meninggalkan kenyamanan hidup sebagai istri pejabat demi membantu Yesus menyembuhkan yang sakit dan menghibur yang tertindas.

Meneladan Para Wanita Sahabat Yesus

Maria Magdalena dan Yohana serta beberapa wanita ikut serta dalam rombongan Yesus dan para murid pria dalam mewartakan Kabar Gembira. Para sahabat Yesus ini menggunakan harta, waktu, tenaga, dan keterampilan mereka untuk mendukung karya Yesus bagi orang sakit dan tertindas.

Para sahabat Yesus ini adalah pribadi-pribadi yang sungguh murah hati. Mereka sangat dekat dengan Yesus. Mereka melihat Yesus dengan mata mereka sendiri. Mereka mendengar pengajaran Yesus dengan telinga mereka sendiri, bukan dari orang lain. Mereka berjalan dari desa ke desa bersama Yesus dan para murid-Nya. Segala suka dan duka mereka alami bersama Yesus dan para murid pria.

Di sisi lain, para wanita mulia ini sangat hormat pada Yesus. Dalam Injil, memang tercatat hanya Maria Magdalena saja yang menyapa Yesus sebagai “Guruku! (Rabuni!)”. Akan tetapi, dapat kita perkirakan dengan mudah bahwa Yohana, Susana, dan para wanita lain juga memanggil Yesus sebagai Guru mereka.

Mereka memanggil Yesus sebagai Guru karena memang demikian adanya: Yesus adalah Guru, dan para wanita mulia tersebut adalah murid-murid-Nya. Sekali lagi, sebutan ini menegaskan bahwa para murid wanita menaruh hormat pada Yesus.

Hendaknya para sahabat MSF menimba semangat murah hati dan semangat “dekat sekaligus hormat” dalam mendukung para pastor, bruder, dan seminaris MSF. Demikian pula sebaliknya, para biarawan MSF hendaknya meneladan Yesus yang memperlakukan para sahabat-Nya, baik pria maupun wanita, sebagai pribadi-pribadi yang patut dikasihi dengan cinta yang murni.

Dekat dengan pastor, bruder, dan seminaris MSF boleh-boleh saja, asal tahu batasnya. Batas itu adalah kesadaran akan identitas diri dan perutusan. Para biarawan MSF adalah pribadi-pribadi yang membaktikan diri dalam kemiskinan, kemurnian, dan ketaatan injili. Seperti Yesus yang melibatkan banyak sahabat untuk mendukung pewartaan-Nya, demikian pula para biarawan MSF melibatkan para sahabat MSF dalam menjalankan perutusan dari Gereja dan tarekat.

Sementara itu, para sahabat MSF adalah kaum awam yang bertugas melayani Tuhan dan Gereja melalui apa pun yang mereka miliki: harta, tenaga, waktu, keterampilan, bakat, dll. Secara khusus, sahabat MSF dipanggil untuk mendukung karya pelayanan para biarawan MSF.

Kebaikan hati para sahabat MSF pada kaum biarawan MSF harus ditempatkan dalam kerangka membantu perutusan Gereja bagi yang miskin, sakit, dan tertindas. Tidaklah bijak memberi hadiah berlebihan pada kaum biarawan (yang harusnya setia pada kaul kemiskinan). Lebih baik dana itu diberikan untuk membantu karyapelayanan, bukan untuk menyenangkan pribadi biarawan tertentu.

Tidaklah bijak memperhatikan hanya satu atau dua biarawan saja secara berlebihan karena hal ini dapat menjadi batu sandungan dalam hidup menggereja (baik di paroki/tempat karya maupun biara dan keluarga).

Wasana kata, wahai para sahabat MSF, belajarlah dari Maria Magdalena dan Yohana yang murah hati, dekat, sekaligus hormat pada Sang Gembala. Wahai para biarawan MSF, mari kita belajar dari Yesus yang dengan kasih tulus bekerja sama dengan para sahabat-Nya dalam karya pelayanan bagi yang lemah dan tertindas.

Bobby Steven MSF : Anggota MSF Provinsi Jawa, Penulis buku “Wanita-Wanita Mulia dalam Alkitab: 35 Kisah dan Renungan” (Kanisius, 2017) dan sedang menjalani studi Alkitab di Universitas St. Thomas Aquinas, Roma.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here