Hamparan hutan belantara yang pekat jauh tertanam dalam pikiran Risky. Bahaya tersesat, ular berbisa, anakondas, kobra dan jenis Jelata kejam pemakan manusia lainnya seperti diceritakan kakeknya berkelabat seperti slide show membentang dalam benak Risky. Ia sendirian, seperti anak macam lemah yang ingin menguasai belantara, tetapi tak berdaya.

****

Risky baru lulus dari SMA. Tatapan-tatapannya selalu kosong. Ia menghabiskan waktunya dengan berkeluyuran di tengah kota kecil Sendawar. Malam berganti malam terus mengisap darahnya. Kau tahu drakula pengisap darah itu seakan tertanam dalam tubuhnya. Pikirannya tak pernah tidur, itulah drakulanya. Ia menikmati kehancuran demikian.

Kadang ia duduk di Warung Kopi Pakde Sur setiap sore. Pakde Sur selalu menerimanya dengan senyum, menawari kopi. Tetapi Riski hanyalah orang asing yang mempunyai tubuh dan setiap sore duduk di warung itu. Ia selalu memikirkan hutan, memikirkan ular-ular yang mengejarnya.

“Kenapa kau tidak pulang ke rumah Risky? Orangtuamu mencarimu!” Tanya Bule Sur.

Risky bergeming. Jemari dan matanya lebih asik ke layar HP. Ia kadang suka menghabiskan waktu dengan game seperti Clash of Clans, Brothers in Arms, Modern Combat,N.O.V.A, Blitz brigade, Elite Killer SWAT, ia suka nonton film killer and thriller. Ia suka lagu-lagu ritmik yang mendambakan kebebasan. Ia telah melakukan banyak cara untuk menghibur diri dari ketakutan-ketakutan yang berjalan seperti semut menyerangnya.

Risky sejak kecil hidup dengan paradoks cinta dalam sebuah rumah yang sepi. Ia mempunyai ayah yang tidak mempersoalkan kelakuannya sejak kecil. Seorang ayah yang tak banyak nasehat. Walaupun Risky pernah melakukan kesalahan fatal, bahkan seringkali ia melakukan kesalahan, tetapi ayahnya tak menasehatinya. Ia membiarkan anak-anaknya tumbuh dengan kebebasan. Kebebasan tanpa rambu. Yang penting tugas seorang ayah ialah mencukupi kebutuhan anaknya, membeli baju, celana, jajan dan game yang disukai anak. Sudah cukup.

Risky juga mempunyai seorang ibu yang tidak terlalu peduli dengan kehidupan keluarga. Seorang wanita karier dan seorang ibu yang kadang lembut, kadang keras dan kadang lebih suka meninggalkan rumah. Ia membiarkan jerami liar dan padi berisi tumbuh dalam satu pribadi. Risky tumbuh dalam sebidang tanah tanpa musim yang tetap. Begitu datang kekeringan, ia pun tumbang.  

Risky kadang bingung. “Bagaimana mungkin kedua orangtuanya bersatu dalam perbedaan yang ekstrem? Apakah ada cinta di sana? Apakah ada kasih sayang diantara paradoks demikian? Risky kadang merinding, jangan-jangan ia adalah tenunan paradoks demikian, tenunan sebuah kecelakaan yang menimpa kedua orangtuanya pada suatu senja sepi?”

Semua Kebutuhan Riski tercukupi bahkan lebih dari cukup. Sebenarnya Riski kalau kuliah diperguruan tinggi apapapun bisa. Tetapi ia seperti tinggal dalam hutan belantara tanpa petunjuk. Ia selalu berteriak disana, berteriak tentang keadaan rumah tangganya. Ia seperti macan kecil yang lemah, berotasi bersama derap bumi, lalu merasa hampa dan tak berarti. Ia pernah berdoa, tetapi ia tak pernah bisa diam. Ia pernah mendatangi Gereja, tetapi ia tak bisa membuka telinganya mendengar. Ia mendengar nasehat dari orang lain, tetapi tidak menemukan contoh di rumahnya sendiri.

****

Malam itu, sepulang dari keluyuran malam. Risky mengetuk pintu ayah dan ibunya. Keduanya sudah terlelap. Ia membaringkan tubuh kurusnya pada kasur. Ular-ular kesepian dan kehampaan mengejarnya. Mereka melilit tubuh kecilnya. Risky tak berdaya mengatasi ular-ular itu, semakin ia bergerak, ular-ular itu makin kencang mengikat lehernya. Risky pun meregang, matanya memandang ke langit-langit rumah.

Keesokan paginya, adiknya masuk ke kamar Risky. Ia terkejut. Seutas tali nilon melilit di leher Risky. Ayah, Risky bunuh diri! Teriak adiknya. Ibu dan ayahnya terperangah. “Riskyyyyyy!” Teriak ibunya.

Ular-ular telah melilitnya dan mereka membawa risky ke hutan Belantara. Disana ada kebebasan, disana barangkali ada cinta, disana barangkali ada orangtua yang menasehatinya sehingga mampu melawan ular-ular kehidupan. Ia tak lagi berkeluyuran, ia tak lagi menenggak narkoba, ia tak lagi ngopi sore di Depot Pak Sur.

***

Penyesalan selalu datang setelah hujan badai tiba, menghancurkan bangunan yang tak berfondasi kuat. “Ah, kau pikir cinta itu halusinasi seperti taman dan seribu bunga? Kau pikir kasih sayang itu seperti kenyamanan dan kemewahan? Cinta adalah kerja keras, pengorbanan, keiklasan, penyerahan diri. Cinta adalah terluka. Ya terluka dibawah hujan gerimis. Terluka karena sepi. Terluka karena kecewa. Tetapi cinta bukanlah tentang bunuh diri.

“Lalu mengapa Risky bisa bunuh diri?” Pakde Sur merenungkan itu semua. “Hanya cinta yang mampu mendorong manusia menyeberangi lembah air mata dan derita”. Jika seorang anak tak mendapat cinta, ia tak tahan memikul beban hidupnya sendiri. Ia akan lari di jalan-jalan pada malam hari. Ia akan bersujud pada teman sebayanya dan kemudiaan ia merusak tubuhnya.

Bila ritual perusakan tubuh itu terus menerus, ia akan menemukan hidupnya seperti ronsokan sampah di tempat pembuangan. Ia jijik dengan nilai. Ia jijik dengan nasehat dan kebajikan. Kemudia ia mematikan kehidupannya seperti ia menekan tombol swich off lampu atau Hpnya sendiri. Hari ulang tahun seakan sebuah lelucon dan mengerikan.

Risky pergi. Ia pergi dari sebuah rumah tua tanpa ada cinta. Ia pergi dari seorang ayah yang tak menasehatinya. Ia pergi dari seorang ibu yang mencintai ayah-ayah yang lain. Ia pergi dari kesepiaan hidup.

“Sebuah keluarga tanpa ada seorang pun yang mempunyai selera humor, menjenuhkan!

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here