Oleh Fr. Agus Oktavian MSF

Bacaan I : 2 Sam 11:1-4a, 5-10a, 13-17
Bacaan Injil : Mrk 4:26-34

Pada bacaan pertama yang kita simak, diceritakan bagaimana raja Daud merencanakan membunuh Uria untuk mendapatkan istrinya yakni Batsyeba. Tindakan Daud ini adalah tindakan yang bisa dibilang tidak terpuji, karena keinginan duniawinya lebih tinggi maka ia rela mengorbankan orang lain demi ambisinya ini.

Tentu saja Tuhan marah dengan Daud dan menghukumnya. Tindakan Daud ini sering kali terjadi pada dunia kita sekarang ini. Seperti korupsi yang terus terjadi dan menjadi virus yang sangat berbahaya bagi kehidupan bangsa kita ini melebihi Virus HIV atau Virus Corona.

Kepentingan pribadi sering kali lebih diutamakan dari pada kepentingan bersama. Bagaimana dengan kita sekarang ini, apakah kita sering kali lebih mementingkan diri kita sendiri seperti Daud?

Pada bacaan Injil, kita pasti bertanya-tanya sebenarnya Kerajaan Surga itu seperti apa? Yesus sudah menjelaskannya kepada orang Yahudi lewat perumpamaan yang ia ceritakan.

Tetapi perumpamaan ini tidak banyak yang mengetahui artinya dan kita sebagai pembaca mungkin saja mengalami kesulitan dalam menafsirkan cerita Yesus ini. Kerajaan Surga adalah hal yang sangat berharga bagi kita sampai-sampai kita merelakan segalanya demi suatu yang sangat berharga itu.

Lalu apa yang sangat berharga dalam hidup kita? Keluarga? Orang tua? Harta? Jabatan? Atau panggilan kita sebagai orang Kristiani? Jawabannya hanya satu yakni Sang pemberi kehidupan itu sendiri yaitu Tuhan.

Dialah yang telah memberi semuanya kepada kita. Itulah harta yang paling penting bagi kita.

Menariknya tidak semua orang yang setuju akan jawaban ini. Tetapi tidak ada yang bisa menyangkal bahwa ketika manusia diambang kematiannya, pasti yang pertama dilakukan adalah memohon ampun kepada Sang Pencipta dan orang yang demikian akan mengalami damai.

Lalu bagaimana dengan anda apakah anda setuju dengan hal ini atau tidak? Jawabannya tergantung dari anda sendiri karena Tuhan tidak pernah memaksa untuk mencintai Dia, tapi Dia selalu setia menunggu anda. “Dia selalu ada di belakang kita dan Dia selalu mendorong kita untuk terus melangkah”. (A.O)

(Frater Semester VI)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here