Rekoleksi dan pertemuan tahunan para pastor yang berkarya di Keuskupan Agung Samarinda dimulai 2 April 2019-4 April 2019 di Rumah Retret para Suster MASF, Bukit Rahmat, Putak. 

Mgr. Yustinus Harjo Susanto MSF memberikan beberapa input seputar persoalan yang dihadapi Gereja universal yaitu skandal dan pelecehan seksual.  

Mumpung belum terjadi, Mgr Yustinus mengingatkan para imamnya untuk menyadari akan masalah yang membelit Gereja Katolik, yang walaupun sebenarnya pelakunya berjumlah sedikit,  4% dari jumlah imam Gereja Katolik,  tetapi perlu dicermati dan diantisipasi.  Karena itu salah satu langkah antisipatifnya ialah mendorong adanya seleksi yang ketat terhadap calon imam. “Biar sedikit tetapi bermutu” imbuhnya. 

Setelah itu Mgr. Yustinus menerangkan kembali fokus pastoral KASRI yang merupakan kelanjutan dari fokus tahun sebelumnya yaitu:

  • Pastoral berbasis data
  • Pengamanan, Penertiban dan pemeliharaan aset-aset keuskupan
  • Membantu keluarga yang hidup perkawinannya bermasalah misalnya dari 66 kasus perkawinan bermasalah yang diajukan ke tribunal keuskupan, 39 kasus sudah diselesaikan.
  • Tersedianya tenaga awam yang trampil untuk tugas internal gereja. 

Romo Vikjen KASRI, RD Moses Comela pada sesinya memberi input mengenai proses tribunal dan bagaimana menangani kasus perkawinan umat. 

Hukum Gereja tentang perkawinan memang tidak berubah, yang perlu kita perhatikan ialah pastoral. Keuskupan Agung Samarinda akan membentuk tim kemurahan hati untuk membantu perkawinan kedua, yang tidak bisa lagi dinikahkan dalam Gereja Katolik.

Tentu saja kemurahan itu diberi kepada mereka yang dinilai baik dan setia, baik dari segi moral maupun segi penghayatan iman ditengah Gereja dan masyarakat dari perkawinanan sebelumnya.

Pertemuan ini ditutup dengan rekoleksi yang dipimpin oleh RP Antonius OMI sekaligus persiapan untuk pengakuan dosa dan misa pembaharuan imamat pada sore hari 4 April 2019. 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here