Halo Pastor!

Perkenalkan nama saya Selvy. Saya ibu dari dua orang anak. Anak pertama usia 23 tahun dan anak kedua berusia 17 tahun. Saya dibesarkan secara Katolik. Namun dalam perjalanan waktu, tepatnya 27 tahun yang lalu saya pindah agama, karena pernikahan. Di mata orang, kami termasuk keluarga yang cukup harmonis dan secara ekonomi berkecukupan. Tapi itu semua semu bagi saya. Selama 27 tahun meninggalkan gereja Katolik, saya tidak merasakan kedamaian.

Saya merindukan saat saya bersekutu dengan Tuhan Yesus. Ibadat dan kebiasaan dalam agama yang saya masuki hanya merupakan rutinitas. Setiap saya dinas luar bersama teman satu kantor yang beragama Katolik, saya pasti mengajaknya untuk pergi ke gereja mengikuti misa harian. Teman saya ini memang sangat dekat dengan saya, karena tidak pernah ikut campur urusan saya dan menjaga rahasia saya.

Setiap saya ada di gereja, saya merasakan ada damai dan sukacita. Saya ingin kembali menjadi pengikut Kristus, tapi saya juga tidak enak dengan komentar orang-orang terhadap saya. Anak-anak saya pun menentang keinginan saya. Untuk Pastor ketahui, saya sudah bercerai dengan suami saya secara agama. Kami masih terikat perkawinan sipil, karena sebagai PNS proses perceraian sipil membutuhkan waktu yang lama.

Menurut Pastor mungkinkah saya kembali menjadi seorang Katolik, sementara kedua anak saya tetap menganut agamanya? Jika mungkin, apa hal pertama yang harus saya lakukan jika saya ingin kembali menjadi Katolik? Apakah saya harus juga membereskan masalah perkawinan saya?
Terimakasih dan Salam Hormat, Selvryda.

Tanggapan

Ibu Selvryda yang baik, terimakasih atas kepercayaan dan keterbukaan ibu bertanya mengenai hal ini. Mohon maaf, saya merumuskan kembali pertanyaan ibu dan mencoba memahami inti pertanyaan ibu. Ibu Selvryda semula beragama Katolik, kemudian berpindah agama karena perkawinan. Meskipun sudah memiliki anak dan perkawinan sudah berjalan cukup lama – tambah lagi dengan perceraian secara agama yang sudah terjadi, ibu ingin sekali kembali menjadi Katolik.

Ibu lalu bertanya, mungkinkah ibu kembali menjadi seorang Katolik? Apa hal pertama yang harus ibu lakukan jika kembali menjadi Katolik? Bagaimana dengan masalah perkawinan, apakah perlu dibereskan?

Terkait pertanyaan ibu, saya menanggapinya mulai dari masalah perkawinan. Perkawinan orang-orang Katolik diatur oleh hukum ilahi, hukum kanonik dan hukum sipil. Selain itu, demi sahnya sebuah perkawinan Katolik harus memenuhi tiga prinsip dasar hukum berikut ini:

Pertama, bebas dari halangan yang menggagalkan perkawinan. Kedua, tidak cacat dalam membuat konsensus atau kesepakatan perkawinan. Ketiga, dilakukan dalam forma peneguhan perkawinan kanonik yaitu dilakukan di hadapan imam, Diakon dan dihadapan dua orang saksi.
Jika salah satu dari ketiga unsur tersebut tidak terpenuhi, maka perkawinan tersebut termasuk dalam kategori perkawinan yang tidak sah menurut Gereja.

Oleh sebab itu, sebagai orang Katolik yang melangsungkan perkawinan di luar Gereja Katolik tanpa ada dispensasi dari Gereja, perkawinan ibu tergolong perkawinan yang tidak sah di mata Gereja. Gereja menjadikan perbedaan Agama sebagai halangan yang bisa menggagalkan perkawinan. Sebab perkawinan beda Agama menyebabkan pihak Katolik mengalami kesulitan-kesulitan konkret khususnya terkait dengan penghayatan iman dan pendidikan iman bagi anak-anak yang lahir dari perkawinan.

Sekarang ibu ingin kembali ke menjadi Katolik. Tentu saja pengalaman dan niat tulus ini layak disyukuri. Ibu bisa menemui Pastor Paroki tempat ibu berdomisili, kemudian menerima sakramen pengampunan dosa karena telah meninggalkan iman Katolik. Tetapi sebelum ibu menemui Pastor Paroki, hendaknya ibu membereskan perkawinan terdahulu terlebih terkait dengan efek-efek sipil dari perkawinan. Semoga tanggapan saya ini berguna bagi ibu.

Salam dan doa saya untuk ibu!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here