Dalam pertemuan internasional ini yang juga menarik ialah berbagai pengalaman misi yaitu pendampingan umat, keluarga dan sebagainya dari beberapa Propinsi-Propinsi MSF Dunia yang mengutus utusannya.

MSF Propinsi Polandia

Pater Bogdan Pec’, MSF dan Pater Adam MSF membagi pengalaman mereka melayani orang-orang yang terkena narkoba dan pastoral keluarga lainnya.

  • P. Bogdan Pec’ MSF

Salah satu karya menonjol yang dilakukan oleh para konfrater di propinsi Polandia dan yang berdampak luas bagi masyarakat adalah karya pelayanan bagi para pecandu narkoba. P. Bogdan Pec’secara khusus berkecimpung dalam karya pelayanan ini bersama dengan sejumlah kaum awam yang membantunya.

Dia sudah menekuni karya ini sejak 25 tahun yang lalu dan ribuan anak yang sudah mengalami sentuhan tangan dan kasihnya. Beliau pun mengakui bahwa tidak semua anak yang pernah mengalami pendampingan dan pengobatan sembuh. Itu semua tergantung dari niat serta motivasi untuk sembuh.

Namun, apapun hasilnya, yang pasti P. Bogdan bersama dengam tim sudah memberikan yang terbaik bagi anak-anak dan keluarga yang memerlukan pertolongan.   P. Bogdan adalah seorang ahli psikoterapy. Sekarang ada satu lagi konfrater yang sedang studi psikoterapy untuk memperkuat dan menjamin kelangsungan karya pelayanan ini.

Dari sisi SDM harus diakui bahwa propinsi Polandia memiliki SDM yang kaya dari berbagai disiplin ilmu. Dengan “kekayaan” yang dimilikinya ini, mereka berani all out melakukan karya-karya khas tarekat/propinsi dan daripadanya memperoleh income untuk menopang kehidupan propinsi. Di Polandia mereka hanya melayani 16 paroki, selebihnya berkarya untuk karya tarekat, seperti: pelayanan retret, peziarah, mengajar di sekolah.

  • Adam Bajorski MSF

Terkait dengan karya pelayanan keluarga, karya lain yang ditekuni adalah pendampingan retret keluarga yang dilaksanakan oleh P. Adam Bajorski MSF bersama dengan sejumlah kaum awam yang membantu.

Mereka bergerak dari saru paroki ke paroki yang lain (model P. Berthier) untuk memberikan pelayanan retret bagi keluarga-keluarga. Situasi pastoral memang berbeda dengan Indonesia. Di Polandia, karya pelayanan pastoral ketegorial sudah menjadi kebutuhan, bukan sesuatu yang harus diciptakan lebih dahulu. Istilah yang digunakan oleh P. Adam: “mereka yang mencari kami”.

Dengan pola pikir seperti itu dan ditopang oleh SDM yang mumpuni serta program kerja yang mampu menjawab kebutuhan umat, karya pelayanan kategorial propinsi menjadi karya unggulan. Kita boleh belajar dari mereka dalam upaya menekuni karya pelanana khas propinsi.

Pastoral Keluarga di Beberapa Propinsi MSF

Selain propinsi Polandia, stiap peserta dari propinsi lain memberikan sharing terkait dengan karya pelayanan pastoral keluarga yang dilakukan di masing-masing propinsi.

Propinsi Chile mensharingkan soal pendampingan keluarga yang sifatnya masih umum: katekese, kunjungan keluarga, pengobatan, kunjungan ke stasi-stasi.

Dari Madagascar, kerasulan keluarga baru mulai diseriusi setelah P. David MSF pulang dari kursus kerasulan keluarga di Semarang. Tekanan masih pada usaha untuk mencari bentuk yang cocok untuk umat yang ada di Madagascar.

Salah satu hal baik yang sudah dilakukan adalah memberikan katekese untuk anak-anak yang ada di stasi-stasi atau paroki-paroki pedalaman mengingat pengetahuan tentang iman Katolik masih sangat lemah.

Karena keterbatasan sarana dan prasarana, katekese dilaksanakan di bawah pohon-pohon. Selain itu persoalan besar yang dihadapi adalah sistim ploligami, khususnya di Madagascar bagian selatan. Hal ini terkait dengan masalah budaya. Seorang laki-laki akan dihormati dan dianggap hebat bila memiliki banyak istri. Mengubah sistim ini pasti memerlukan banyak waktu dan perubahan mental. Inilah yang coba dimulai dengan memberikan katekese kepada generasi muda dengan harapan bahwa perubahan akan terjadi melalui generasi muda yang memahami ajaran iman dan menghayatinya secara benar.

Dari propinsi Spanyol disampaikan sharing tentang kehadiran kelompok-kelompok kecil yang menjadi agen sekaligus pelaksana kerasulan keluarga. Mereka lebih dahulu dibekali dengan sejumlah hal, khususnya terkait dengan ajaran iman Katolik denga harapan dapat memberikan pendampingan yang benar kepada keluarga-keluarga.

Sementara dari Jawa disharingkan tentang pendampingan bagi MOKA (menjadi orangtua Katolik). Tekanannya, tentu bukan sekadar menjadi orangtua Katolik, tetapi menjadi orangtua Katolik yang sungguh Katolik, artinya tahu arti, tugas serta kewajiban sebagai orangtua Katolik. Hal ini terutama dilaksanakn di Keuskupan Agung Jakarta, sementara di Keuskupan lain dimana MSF Jawa berkarya pelayanan ini belum menjadi program kerja.

Dari Kalimantan disharekan beberapa program kerja yang sudah dilaksanakan, baik pada tingkat propinsi maupun keuskupan dan paroki, diantaranya: KPP, keterlibatan dalam gerakan ME, Sosialisasi program ke paroki-paroki, misa WMD, rekoleksi bagi pasutri yang hendak memperbaharui janji perkawinan, serta rekoleksi keluarga dengan tema: bersama Bunda Maria, Keluarga-Keluarga menuju kepada kekudusan.

Rekomendasi Bersama

Sebagai tindak lanjut disampaikan beberapa rekomendasi untuk Komisi Keluarga Generalat:

  1. Menyusun silabus untuk Program kerasulan kelurga bagi para Skolastik
  2. Meneruskan program pertemuan Komisi Keluarga setahun sekali
  3. Mendorong supaya setiap Propinsi secara serius menjadikan Kerasulan Keluarga sebagai prioritas kerja

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here