Dua nara sumber dalam pertemuan Internasional ini memberikan materi yang dapat kami ringkaskan berikut ini

Pater Adam Josef Sobczyk (Propinsial Polandia)

Berbicara mengenai spiritualitas Keluarga Kudus sebagai model untuk pembaharuan Keluarga dan masyarakat bertitik tolak dari konteks sejarah dan religius negara Perancis pada abad ke XIX dan dari dokumen-dokumen Gereja pada zamannya: Arcanum Divinae (AD,10.02.1880) dari Leo XIII.

AD Ini adalah ensiklik pertama yang berbicara tentang Perkawinan dan Keluarga. Sejumlah poin disampaikan dalam ensiklik ini ialah menolak poligami dan perceraian, penghargaan terhadap keluhuran martabat kaum perempuan.

Seorang wanita adalah seorang pendamping bagi laki-laki dan bukan seorang hamba atau budak. Lebih lanjut ditegaskan pula bahwa perkawinan adalah salah satu jalan menuju kepada kekudusan, oleh sebab itu, Gereja adalah pelindung bagi kekudusan perkawinan itu.

Dalam presentasinya, P. Adam juga menyebutkan sejumlah ensiklik dari Paus Leo XIII yang disebutnya sebagai dokumen yang paling penting bagi MSF: ensiklik Arcanum Divinae (10.02.1880), Sancta Dei (03.12.1880), Praeclara Gratulationis Publicae (20.06.1894)  Annum Sacrum (25.05.1899), Rerum Novarum (15.05.1891) dan Anjuran Apostolik Novum Argumentum (20.11.1890) dan Neminem Fugit (14.06.1892).

Untuk lebih mengkongkretkan ide tentang keluarga yang mampu memperbaharui dunia, P. Adam menyebut karisma pribadi dari Pater Pendiri sebagai karisma yang turut memperbaharui masyarakat pada zamannya melalui Apostolic Familiare yang dilakukan oleh Pater Pendiri.

Beliau sangat aktif “memelihara” panggilan terlambat” dan perlunya menyiapkan misionaris untuk misi penyelamatan jiwa-jiwa. Untuk itu, perhatian dan pastoral keluarga yang dijalankan oleh Pater Berthier ditempatkan dalam kerangka menyiapkan para misionaris untuk karya misi itu.

Melalui kehadiran para misionaris yang meneladan Keluarga Kudus, dunia diperbaharui. Kesimpulan dari pesentasi ini: karya kerasulan keluarga yang kita dilakukan di masing-masing propinsi hendaknya ditempatkan dalam kerangka pembaharuan masyarakat. Semakin keluarga kuat dan hidup sesuai dengan nilai-nilai Kristiani, maka Gerja dan masyarakat akan kuat.

Pater Zbigniew Dykiel MSF-seorang ahli Kitab Suci

Ada bebera poin yang disampaikan oleh Pater Dykiel MSF yaitu:

  • Peran Orangtua dalam Pendidikan

Pater Zbigniew berbicara tentang pedidikan iman anak dari sudut pandang Kitab Suci Perjanjian Lama. Disebutkan bahwa orangtua, khususnya bapak keluarga adalah tokoh sentral dalam penanaman dan penerusan nilai-nilai iman bagi anak-anak. Bila bapak keluarga meninggal, maka peran itu diambil alih oleh saudara laki-laki atau oleh anak sulung laki-laki yang sudah dianggap dewasa (usia 21 tahun) dan mampu mengambil alih peran tersebut (bdk. Bilangan  14, 29, 32, 11).

Hal dapat dipahami karena keluarga Israel adalah keluarga yang bersifat patrialkal dimana bapak keluarga memainkan peranan yang sentral dalam keluarga. Dalam bahasa Ibrani digunakan kata Bet’ab untuk menunjukkan peranan penting dan sentral yang dimiliki oleh bapa keluarga. Hal itu juga nampak dalam pemberian nama kepada anak yang mengikuti garis nama bapak.

  • Awal Pendidikan Anak

Pendidikan anak dalam keluarga sudah mulai sejak hari pertama ketika bapak memberi nama kepada anaknya. Dasar dari pendidikan dalam keluarga itu adalah cinta dan dialog. Pendidikan yang diberikan itu bersifat menghukum, memuji, menghadiahi dan melayani.

Kata Ibrani yang digunakan untuk pendidikan adalah mÛsar yang berarti instruksi (pemberian kebijaksanaan) dan penghukuman. Hal ini ditemukan, baik dalam buku Kebijaksanaan maupun dalam Nabi-Nabi. Keduanya menekankan bahwa orangtua wajib memberikan pendidikan dan pengajaran kepada anak-anak, secara khusus bapak keluarga berperan penting dalam kaitan dengan pendidikan anak laki-laki.

Pemberian nama menjadi penting karena nama untuk orang Israel adalah unsur yang penting dalam kepribadian seorang manusia yang akan mempengaruhi karakter dan masa depannya (bdk. Kej 4,2). Anak dengan sendirinya membawa nama bapaknya. Yesus, misalnya dalam bahasa Ibrani disebut “Yeoshua ben Josef”, artinya Yesus adalah anak Josef. Kemudian setelah berumur 8 hari dilakukan upacara sunat (berit mila).

Pada zaman dahulu kala, sunat dilakukan oleh ayah sang bayi. Hari Sabtu pertama setelah kelahiran anak bapak akan mengadakan pesta di lingkungan kaum laki-laki  yang disebut dengan “shalom zahar” yang berarti “hai laki-laki”. Mereka yang terlibat dalam upacara sunat adalah: mohel: seorang laki-laki yang melakukan ritual “operasi” medis; sandek: laki-laki yang memegang si anak selama acara sunat berlangsung.

Peran ini dipandang sebagai suatu kehormatan. Wali sunat: biasanya diperankan oleh suami-istri yang tidak mempunyai anak atau seorang bapak dengan anak perempuan atau seorang ibu dengan anak laki-laki atau saudara laki-laki dengan saudari perempuan; dan terakhir adalah orangtua si anak.

  • Peran Ibu

Walau peran bapak keluarga menjadi sentral, namun demikian, ibu keluarga juga berperan dalam mendidik anak-anaknya. Seorang anak untuk beberapa tahun tetap berada dalam asuhan ibu (bdk. 2 Sam 4,4). Seorang anak laki-laki tetap berada dalam perlindungan ibu sampai pada usia 3 tahun (Kej 27, 17; 1 Raj 1, 11-21).

Memasuki usia 3 tahun anak akan disapih susu. Saat itu, ibu akan memberikan instruksi atau pengajaran pertama kepada anakanaknya, secara khusus pengajaran moral (bdk. Proverbi 1, 8,6,20). Hal ini berlangsung sampai masa remaja. Anak-anak perempuan tetap berada dibawah pendidikan ibunya mulai masa ana-anak sampai masa remaja.

Mereka belajar mengurus rumah tangga seperti: memasak, mencuci, menenun, menjahit dan menanam tanaman-tanaman sekitar rumah. Selain itu, juga perkerjaan pastoral, pertanian dan memanen adalah tugas dari anak-anak perempuan (lihat Proverbi 31, 1-31). Sejak masa kanak-kanak anak perempuan sudah dipersiapkan untuk peran sebagai seorang istri dan ibu keluarga.

Pendidikan anak-anak perempuan dalam praktiknya memang dipercayakan kepada ibu.Ibu keluarga mempersiapkan anak-anak perempuannya untuk perkawinan dan pekerjaan mengurus rumah tangga di kemudian hari. Dalam Perjanjian Baru anak-anak perempuan kerapkali menikah antara usia 13 sampai 14 tahun.

  • Peran Bapak

Sementara peran bapak keluarga lebih difokuskan pada pendidikan anak laki-laki. Salah satu kewajiban fundamental dari bapak keluarga adalah mengajarkan warisan dan kekayaan religius bangsa kepada anak laki-laki. Bapa keluarga menanamkan dalam diri anak laki-laki tradisi bangsa yang paling penting yang terhubung dengan tradisi religius. Pendidikan anak laki-laki ada dibawah arahan dan tanggungjawab bapa keluarga yang berkewajiban

mengajarkan hukum Musa, mencarikan istri dan mengajarkan ketrampilan hidup: ketrampilan bekerja dalam bidang pertanian, kewajiban serta hak sebagai manusia dewasa.

  • Isi pokok Pengajaran dalam Keluarga

Dalam tradisi Israel-sejak awal, keluarga dikenal sebagai sekolah pertama, dimana anak-anak belajar kebijaksanaan hidup. Oleh karena itu, tradisi tentang kebijaksanaan hidup, hukum dan kekayaan tardisi diperlihara – pertama-tama dalam keluarga.

Unsur paling penting dari pendidikan dalam keluarga adalah memeperkenalkan dan pada akhirnya memasukkan anak-anak kedalam komunitas umat Allah. Hal yang sama juga berlaku untuk pendidikan religius bagi anak-anak.

Anak-anak ikut serta dalam kegiatan peribadatan seperti: ibadat pujian kepada Allah, dan doa pertobatan. Seluruh hidup sebagai manusia dewasa menjadi suatu keharusan untuk menunjukkan rasa hormat dan ketaatan kepada orangtua dan kepada para tua-tua bangsa (Kel 20,12)

Melalui presentasi ini, P. Zbigniew Dykiel MSF mau menekankan soal peran orangtua dan keluarga sebagai agent dan tempat penting dalam penyaluran dan pendidikan nilai-nilai iman serta nilai-nilai dan kebijakan hidup yang diperlukan oleh generasi muda agar mampu hidup dalam “ketakutan” kepada Tuhan.

Kalau di zaman now ini orangtua kurang memperhatikan tugas penting ini, kiranya perlu belajar kembali pada keluarga dalam dunia Perjanian Lama yang menempatkan tugas pendidikan anak (iman dan kebijakan hidup) sebagai tugas yang sangat penting. Dalam keluarga, pertama-tama, nilai iman dan kebijakan hidup ditanamkan orangtua kepada anak-anak.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here