“Sambil menatap kobaran api dan kepulan asap, saya hanya bisa berpasrah. Antara rasa percaya dan tidak percaya, sadar dan tidak sadar, saya menyaksikan musibah tersebut. Saya terdiam menatap kejadian yang menghancurkan segala yang telah lama diperjuangkan banyak orang bertahun-tahun,” kata Pastor Aris Sudarmadi, CP, Pastor Paroki St. Matius Kuala Kapuas.

Terjadinya Kebakaran

Hari itu, Jumat 10 Januari 2020. Hari dimana Pastoran Kuala Kapuas Keuskupan Palangka Raya terbakar pada pukul 03.00 WIB dini hari. Peristiwa itu datang begitu tiba-tiba dan secepat kilat hingga merenggut nyawa Safta Rius (53), seorang tamu yang menginap di Pastoran.

Sore hari sebelum kejadian, Safta, begitu sapaannya, datang ke Pastoran dan meminta izin untuk menginap. Pastor Aris mengizinkan karena yakin bahwa Safta membutuhkan tempat penginapan. Ia sedang menghadapi persoalan dan membutuhkan ketenangan batin. Setelah makan malam bersama, Pastor Aris mengerjakan tugas-tugas dan melihat para tukang yang sedang bermain kartu di gedung sebelah Pastoran. Safta diminta untuk beristirahat.

Baca Juga : Selamat Jalan Pater Pembangun, Stanislaw Ograbek, SVD

Ketika salah satu dari mereka hendak membuat kopi di Pastoran, ia tidak bisa masuk karena semua pintu dikunci dari dalam oleh Safta. Setelah berkali-kali dipanggil, Safta membuka pintu. Orang itu membuat kopi dan berpesan kepada Safta agar pintu jangan dikunci. Para tukang melanjutkan permainan.

Pastor Aris juga masih bergabung dengan para pemain kartu, sekadar untuk rekreasi. Saat ia kembali ke Pastoran, semua pintu terkunci lagi. Untung baginya, karena ternyata ruangan sekretariat bisa dibuka. Malam itu, Pastor Aris tidur di ruang tersebut.

Pada saat tidur, kata Pastor Aris, ia merasa sesak napas. Asap tebal sudah memenuhi ruangan. Gelap gulita. Ia segera keluar untuk menyelamatkan diri. Namun ia tidak bisa masuk dalam Pastoran karena pintu dikunci dari dalam.

“Segera saya bangun dan keluar dari ruangan. Api sudah sampai di atap. Akses menuju dalam Pastoran tertutup karena semua pintu terkunci. Saya berlari ke gedung sebelah dan memanggil para tukang. Kami segera mendorong mobil yang diparkir di luar. Satu sepeda motor juga dijauhkan dari titik kebakaran,” kisahnya.

Baca lagi : Jejak-Jejak Misioner : Merintis Misi di Pangkalan Bun (Part III)

Kobaran api baru bisa dipadamkan sekitar pukul 04.00 WIB oleh Barisan Pemadam Kebakaran Kapuas. Tidak ada yang tersisa. Segala sesuatu yang ada dalam Pastoran habis terbakar. Semua dokumen Paroki maupun dokumen pribadi hangus dilahap si jago merah. Tidak ada yang bisa diselamatkan.

Berserah Diri

Kata pribahasa, “Kita tidak dapat menghalangi seekor burung terbang di atas kita, tetapi kita dapat mencegah burung bersarang di atas kepala kita.” Kita tidak menghindari datangnya kesulitan, tantangan dan kemalangan dalam hidup. Semua orang pasti mengalaminya tetapi dapat mencegah kesulitan dan kemalangan itu terus bersarang dalam hati kita.

Mungkin sebagian dari kita mengatakan sabar, tenang, yang kuat, ‘semua itu adalah bagian dari rencana Tuhan.’ Ada yang mengatakan, ‘Tuhan mempunyai rencana yang indah dalam musibah tersebut.’

Namun, apa akibatnya kalau tidak tidak mampu menghadapi kesulitan dan kemalangan yang dialami? Apa yang terjadi jika kita membiarkan kesulitan, tantangan, rintangan bersarang dalam hati dan pikiran? Mungkin saja kita akan mengalami gejala penyakit psikomatis, seperti sakit kepala terus–menerus walaupun sudah meminum obat atau kehilangan semangat hidup, sehingga menyerah kepada keadaan, bersikap apatis, tidak ada usaha mengatasi persoalan yang ada.

Baca Juga : Kampung Misi yang Tergerus

“Dengan peristiwa inilah saya belajar untuk berserah diri, tidak putus asa atau pun protes kepada Tuhan. Peristiwa ini menjadi sarana instropeksi diri untuk memecahkan persoalan. Saya ingat akan motto tahbisan saya: “Kurban dan persembahan tidak Engkau kehendaki, tetapi Engkau menyediakan tubuh bagiku,” ungkap Pastor Aris.

Bersyukur

Sekarang apa yang harus dilakukan agar dapat memetik hikmah di balik setiap pergumulan, kesulitan dan tantangan yang ada dalam hidup ini?

“Saya diajak untuk tidak hanya semakin hidup dalam doa dan dalam pengharapan saja, tetapi juga dalam perjuangan iman. Saya percaya Allah sanggup mengubah hal-hal buruk menjadi sesuatu yang baik,” tegasnya.

Di balik setiap musibah, pasti ada hikmah yang bisa dipetik. Pertama, percaya bahwa Allah senantiasa turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan (Roma 8:28). Seringkali orang berpikir kalau Allah bekerja dalam diri, maka akan selalu berhasil, selalu untung: untung Romo terbangun, sehingga selamat.

“Saya bersyukur karena Tuhan telah melindungi, menjaga menolong dan menyelamatkan; Allah bekerja dalam musibah yang saya alami, Allah tidak membiarkan, Allah itu memampukan, menolong dan menguatkan untuk dapat bangkit dan lebih baik. Tuhan memampukan saya untuk dapat melihat bahwa hal yang buruk sekalipun dalam kehidupan yang saya rasakan dapat menjadi sesuatu yang sangat berharga bagi pengembangan diri saya sebagai seorang Imam dalam tugas perutusan yang saya terima. Tuhan menolong agar saya dapat melihat hikmah dari setiap peristiwa kehidupan. Sehingga ada pelajaran yang dapat saya raih untuk melangkah lebih baik,” ujarnya.

Kedua, memiliki pola berpikir positif. “Jangan mengharapkan dunia terlihat terang jika selalu mengenakan kacamata hitam”. Tidak mungkin kita dapat mempunyai kekuatan, ketegaran dan keberanian untuk melangkah maju kalau kita selalu melihat jalan hidup dari sudut pandang yang gelap, yaitu ketakutan, kecemasan dan keputusasaan. Ketakutan, kecemasan dan keputusasaan itu seperti kaca pembesar. Persoalan kecil kalau dilihat dengan sudut pandang seperti itu, akan terasa besar, segunung, menakutkan, sehingga tidak mempunyai keberanian.

“Untuk itu, saya harus selalu berpikir positif. Yakin bahwa segala sesuatu pasti ada jalan keluarnya. Segala sesuatu ada hikmahnya. “Saya bisa! Saya mampu!” tandasnya.

Ketiga, semakin menjalin persekutuan yang erat dengan Tuhan untuk meningkatkan kualitas spiritualitas, yaitu kedekatan hubungan pribadi dengan Tuhan yang nampak dalam ucapan, pikiran dan tindakan nyata. Seperti pohon yang ditanam ditepi aliran air sehingga walaupun mengalami musim kemarau, yaitu kesulitan, tantangan dan kemalangan; hidupnya tetap tegar; daun yang tetap hijau dan sikap hidupnya tetap memberikan kesaksian yang baik kepada sesama, tetap mempunyai daya tahan yang kuat, sehingga tidak goyah dalam situasi apapun.

“Iman yang kuat memampukan untuk berpikir positif dan meyakini bahwa Allah senantiasa bekerja dalam seluruh jalan hidup,” tegas imam Pasionis ini*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here