“Long Apun! Long Apun! Siap-siap turun!” Teriakan awak kapal itu membangunkanku dari tidur. Syukurlah, setelah berjam-jam menempuh perjalanan dari muara sungai di Samarinda, sampai juga aku di Long Apun.

*****

Kota kecamatan di pedalaman Borneo ini tak banyak berubah sejak kutinggalkan enam tahun lalu. Kala senja, sebagian warga mulai menyalakan genset di rumah mereka. Pertanda bahwa jaringan listrik negara belum, atau tidak akan pernah, menjangkau daerah ini. Ironis memang.

Bagaimana mungkin di pulau penghasil batubara dan minyak ini masih ada banyak warganya yang tak menikmati listrik negara? Ah, sudahlah…di negeriku ini terlalu banyak keganjilan yang tak terjelaskan.

***

Kususuri jalan dari dermaga yang membawaku ke rumah kayu di samping gereja paroki. Rumah kayu itu tak lain adalah pastoran tua yang menyimpan sejuta kenangan. Ya, disinilah kulewatkan setahun masa pastoralku sebagai frater.

“Frater Bambang, lama betul tak ketemu, bah!” suara wanita dari balik punggungku itu membuyarkan lamunanku. Tanpa harus menengok ke belakang, aku bisa menebak siapa dirinya.

“Mamak Upan, kuno rengah (apa kabar),” kataku pada sang koki pastoran.

“Ternyata Frater masih ingat bahasa Long Apun,ya? ” tutur wanita paruh baya itu.

“Iya, Mak. Biarpun sudah tiga tahun jadi pastor di Jawa, aku masih ingat pelajaran bahasa dari Pastor Marco, bah!”

“Baguslah kalau begitu!  Apa Frater…eh maaf…Pastor Bambang ke sini untuk temani Pastor Marco? Kasihan, bah…sudah tiga hari ini dia mengeluh nyeri di dada. Dia tidak mau dibawa berobat ke kota. Terlalu lemas, katanya.”

Aku terkejut mendengar perkataan Mamak Upan. Seminggu lalu aku menelpon Pastor Marco saat dia belanja sembari mencari sinyal handphone di kota. Saat itu, dia tampak sehat.

Cepat-cepat aku masuk ke pastoran. Kuketuk pintu kamarnya. “Ya, masuk saja,” suara lirih terdengar dari balik pintu.

“Bambang, akhirnya kemlau pehina uji (kita bertemu lagi)”, kata  pastor misionaris dari Italia itu saat ia melihatku.

Aku mengangguk sambil tersenyum padanya. “Pastor prah kuno (sakit apa) ?” tanyaku.

Berekeu kerna kurang nehun (mungkin karena kurang istirahat)”, jawabnya. “Pasti Pastor keasyikan menulis,ya?” selidikku. Dia mengangguk pelan.

Sejak dulu, Pastor Marco memang rajin menulis. Aku ingat betul, sepulang dari kunjungan ke gereja-gereja stasi di hulu, dia menulis sampai larut malam. Dia gemar mencatat kata-kata bahasa daerah dan cerita adat di buku hariannya. Lain denganku. Biasanya sepulang dari stasi, aku cuci muka lalu tidur karena kelelahan.

Bagiku, Pastor Marco adalah misionaris sejati. Sejak tiga puluhan tahun lalu, dia melayani umat di pedalaman Borneo. Sudah belasan paroki pedalaman digembalakannya.

Bagi umat di paroki ini, Pastor Marco adalah gembala idaman. Kedatangannya selalu dinantikan. Pewartaannya mengena di hati umat karena dia pandai berkotbah dengan bahasa daerah. Seperti Yesus, dia meramu kotbahnya dengan perumpamaan dari hidup sehari-hari: sungai, ikan, perahu, padi, dan ladang.  Tambah lagi, dia ramah dan mudah bergaul dengan siapapun.

Setahun lalu, Bapa Uskup menawarkan suatu tugas baru di kota untuknya. Tawaran yang layak untuk seorang pastor misionaris yang memasuki masa senja. Namun, Pastor Marco menolak dengan halus tawaran itu, “Monsinyur, bukannya saya tidak taat, tapi saya terlanjur sayang dengan umat di pedalaman.”

Kini sosok yang tangguh itu terbaring lemas di ranjangnya.  “Pastor Marco, selamat tidur. Besok kita sambung lagi obrolannya,” kataku.

“Bambang, tunggu dulu. Tolong ambilkan bolpen dan buku di lemariku,”pintanya. Sebenarnya aku enggan menuruti permintaannya, namun toh akhirnya wajahnya yang memelas membuatku tunduk. “Nem kak sawan, ja kih keu nurut (Jangan kamu cemas, cuma sebentar saja saya menulis)”, katanya seakan tahu isi pikiranku.

***

Kokok ayam jantan memecah kesunyian pagi. Aku bergegas bangun dan merebus air. Secangkir teh manis segera kuantar untuk Pastor Marco. “Selamat pagi, Pastor,” sapaku saat membuka pintu kamarnya.

Dia tampak tertidur pulas. Seperti kebiasaanku dulu, kusentuhkan gelas berisi teh hangat itu pada tangannya agar dia bangun. Tapi, kali ini dia tak jua bangun. Lantas kugoyang-goyang bahunya. Tetap saja tiada tanggapan.

Ya Tuhan Yesus…baru kutersadar, Pastor Marco telah berpulang. Buku hariannya terbuka di samping tempat tidur. Tertulis di baris terakhir: Kemlau pehina uji di Firdaus.

Air mataku mulai membanjir. Aku hanya bisa berkata dalam hati, “Selamat jalan, Pastor. Semoga kita bertemu lagi di Firdaus suatu hari nanti.”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here