Bagaimana melihat misi orang muda melalui kacamata Kitab Suci? Cukup sulit bagi saya, jika ingin sungguh menggali makna dari Kitab Suci dengan serius dan memadai, karena perlu banyak kajian yang serius dan memadai pula; apalagi temanya pembinaan orang muda.

Untuk itu, pengalaman pribadi saya sebagai seorang yang ‘masih muda’ dan yang sedang bermisi membantu melihat keberadaan diri orang muda di dalam Gereja dan di dunia untuk bermisi sebagai pengikut Kristus.

Siapakah aku ini?

Hidup sebagai orang Indonesia di Roma adalah pengalaman untuk belajar, karena memang hidup itu kapanpun dan dimanapun adalah selalu belajar. Pengalaman belajar ini adalah pengalaman yang menggetarkan sekaligus menyenangkan.

Sebagai pendatang baru di Roma, tentunya saya harus belajar Bahasa Italia. Lalu belum cukup memadai (hanya 1 bulan), saya sudah harus memulai untuk belajar Kitab Suci di universitas. Dalam kuliah, saya harus belajar bahasa Ibrani dan Yunani dengan materi dalam bahasa Italia dan Inggris. Ini sungguh menggetarkan jiwa-raga. Saya juga harus belajar budaya setempat, menyesuaikan diri dengan iklim yang berbeda, dan berelasi dengan orang-orang dari sejumlah negara.

Syukur pada Allah, saya tidak perlu belajar susah payah untuk menikmati makanan di Roma (mungkin inilah pengalaman yang menyenangkan). Syukur pada Allah untuk semester yang lalu saya bisa lulus ujian sehingga bisa melanjutkan semester berikutnya.

Sebagai pelajar di negeri orang, pengalaman ini sungguh menggetarkan karena kembali pada pertanyaan “siapakah aku ini”. Ada rasa keraguan, ketidakmauan, kekecewaan, ‘nostalgia’ dengan masa lalu di tanah air bahkan kemalasan. Muncul pertanyaan, “untuk apa semua ini?”, “untuk apa susah-payah semua ini”. Ini bukan perutusan yang saya sukai, bukan perutusan yang saya inginkan, bukan perutusan yang saya bayangkan dan cita-citakan.

“Siapakah aku ini” sampai harus menjalani perutusan studi di luar negeri yang bagi saya pribadi penuh dengan berbagai “keluh kesah” tadi. Mungkinkah perasaan-perasaan seperti itu juga yang dirasakan oleh kaum muda untuk menjadi lebih misioner?

P. Abner MSF, P Bobby MSF dan P. Iwan MSF (Ketiganya sedang menempuh studi di Kota Roma)

Tugas studi adalah tugas misi

Kata “tugas” penuh dengan nuansa kewajiban, sesuatu yang harus dijalankan oleh seseorang karena mendapat mandat dari orang lain. Sebagai seorang religius yang berkaul, menjalankan suatu tugas adalah suatu bentuk penghayatan ketaatan. Penghayatan itu diharapkan dengan penuh kesadaran untuk sukarela dan bertanggungjawab menjalaninya. Namun, kembali lagi, “siapakah aku ini”. Orang Muda Katolik sebagai orang yang dibaptis, tugas perutusannya jelas untuk mewartakan Injil kepada setiap orang.

Sebagai manusia, hidup selalu bersama orang lain. Sebagai manusia Kristiani, hidup adalah bukan terutama untuk diri sendiri tetapi juga untuk orang lain, “mengasihi sesama seperti mengasihi diri sendiri”. Maka, pertanyaan “siapakah aku ini” sebenarnya sangatlah dangkal, sempit, dan tidak beriman.

Dangkal karena tidak mengenal diri sebagai ciptaan Tuhan yang berharga yang pasti memiliki karunia tersendiri dari Tuhan yang perlu diasah, dikembangkan dan akan berguna bagi sesama.

Sempit karena hanya berpusat pada diri sendiri dan tidak melihat secara lebih luas yaitu untuk menjadi “garam dan terang dunia”—adanya aku sebagai alatnya Tuhan bagi sesama (Gereja).

Tidak beriman karena penuh dengan keraguan, merasa kecil, kecewa, penuh ketidakpercayaan dan tidak sadar akan hadirnya Tuhan yang selalu menyertai dalam perutusan seperti pengalaman dua murid ke Emaus (bdk. Luk 24:13-32).

Sebagai anggota Gereja, saya sadar bahwa saat ini―sekarang, tugas studi menjadi tugas misi saya. Orang muda perlu pertama kali sadar akan hal ini. Sadar bahwa orang muda adalah anggota Gereja (Satu Tubuh Kristus).

Kesadaran inilah yang pertama-tama dan selalu perlu ditanamkan baik oleh orangtua, para guru agama Katolik, para katekis, ketua lingkungan, para pendamping OMK, bahkan oleh  para imam/biarawan/wati.

Walaupun penuh dengan rasa gentar, tugas misi harus berjalan karena bukan terutama untuk diri saya sendiri tetapi untuk menghasilkan buah dan diharapkan buahnya itu berlimpah untuk dapat dinikmati semakin banyak orang. Itulah salah satu  misi sebagai orang beriman.

OMK yang lebih Misioner

Kalau ditanya, “apa dasar Kitab Suci untuk misi orang muda?” Tidak ada jawaban untuk pertanyaan sempit dan kaku seperti itu. Tetapi bukan berarti tidak ada di dalam Kitab Suci.

Kitab Suci adalah pegangan atau pedoman umum hidup orang beriman. Maka, dasar Kita Suci untuk misi orang muda dapat ditemukan secara umum dan jelas di dalam perintah Yesus sendiri: “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk” (Mrk 16:15).

Tugas dari Yesus kepada para murid adalah jelas untuk pergi mewartakan Injil. Orang muda adalah juga murid-murid Yesus. Jadi jelas, dasar untuk bermisi adalah pergi mewartakan Injil. Tugas sekali lagi memiliki nuansa kewajiban.

Yesus memberikan kewajiban itu karena Yesus memandang dan tahu bahwa para murid pasti mampu. Walaupun dalam pelaksanaannya nanti mereka akan dipenuhi kelemahan, Yesus tidak akan meninggalkan, tetapi Ia selalui menyertai dan berjalan bersama untuk membantu. Maka  ungkapan “yang LEBIH misioner” ini sebenarnya kritik untuk diri sendiri bagi kaum muda.

Mengapa harus LEBIH? Pertanyaan ini akan saya coba jawab dengan 3 hal untuk direnungkan dan harapannya kita laksanakan bersama.

Pertama, karena memang benar ungkapan di sejumlah kampanye “yang muda, bekerja”. Hal ini bukan berarti “yang disuruh-suruh”, tetapi orang muda penuh dengan kreatifitas, imajinasi, dan semangat maka perlu lebih menunjukkan talentanya di dalam Gereja dan di tengah masyarakat.

“Yang muda, bermisi”—sangat sesuai dengan pesan Paulus kepada Timoteus: “Jangan seorang pun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu.” (I Tim 4:12).

Kedua, karena ada kecenderungan dalam diri orang muda untuk malas–menunda-nunda–pasif. Saya mengutip pesan Paus Fransiskus dalam Misa Penutupan Hari Orang Muda Sedunia 2019 di Panama. Paus memberi gambaran bahayanya hidup seperti di ruang tunggu “duduk menanti untuk dipanggil”.

Paus berpesan, “Orang Muda punya misi dan harus sadar serta mencintai misi itu. Bagi Yesus, tidak ada kata “tunggu dulu/sebentar”. Mulailah sekarang. Bukan besok atau nanti, tapi saat ini mulai selalu berjalan, hidup dalam iman dan membagikannya. Jangan lupa, kalian adalah “zaman now”nya Allah.”

Ketiga, karena berhadapan dengan situasi zaman now yang lebih maju dan lebih menantang iman. Untuk hal ini, sekali lagi perlu keterlibatan semua pihak dalam Gereja. Semua orangtua dalam keluarga masing-masing, para pendamping/guru/katekis, para imam, biarawan/wati adalah pembimbing dan pengajar bagi orang muda Katolik. Sebagai dasar untuk hal ini kiranya dapat melihat dan menyadari pesan Paulus:

“Ingatlah bahwa dari kecil engkau sudah mengenal Kitab Suci yang dapat memberi hikmat kepadamu dan menuntun engkau kepada keselamatan oleh iman kepada Kristus Yesus. […] memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik.” (II Tim 3:15-17).

Semoga bermanfaat. Orang Muda bersama-sama membangun Gereja, mewartakan iman, dengan “membuka mata bahwa kita masih perlu untuk LEBIH” (lih. Luk 24:30-32: pengalaman dua murid ke Emaus yang akhirnya bisa menjadi LEBIH setelah sadar akan penyertaan Yesus).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here