La Sallete adalah sebuah desa di dekat Corps, sebuah kota kecil di antara kota Grenoble dan Gab, Perancis. Pada pertengahan abad ke-19,  desa yang dikelilingi oleh perbukitan ini dihuni oleh ± 600 petani miskin.

Penyebab kemiskinan penduduk yang tinggal di desa La Sallete adalah panenan yang gagal dan munculnya banyak wabah penyakit. Selain kesulitan dalam hal ekonomi, kehidupan beriman umat di La-Sallete juga mengalami kelesuan. Umat pada umumnya pergi ke gereja karena rutinitas belaka.

Bunda Maria dari La Salette sedang menangis karena dosa-dosa manusia.

Dalam situasi umat yang demikian inilah, pada tanggal 19 September 1846, Bunda Maria menampakkan diri kepada dua anak yang sedang menggembalakan kawanan domba. Kedua anak itu adalah Maximin Giraud dan Melani Calvat. Ketika sedang menggembalakan domba, mereka melihat suatu cahaya kemilau yang lebih cemerlang dari matahari.

Sementara mereka mendekat, mereka melihat seorang wanita duduk di atas sebuah batu karang dan menangis, wajahnya dibenamkan ke dalam kedua tangannya. Dengan berurai air mata,wanita itu berdiri dan berbicara kepada anak-anak dalam dialek Perancis setempat. Ia mengenakan pengikat kepala dengan rangkaian mawar sekelilingnya, gaun yang bersinar dengan cahaya dan alas kaki berpinggiran bunga-bunga mawar. Di sekeliling pundaknya tergantung sebuah rantai yang berat, sedangkan di lehernya tergantung sebuah salib yang kedua sisinya terpasang palu dan catut.

Kepada kedua gembala kecil itu Bunda Maria menangis sambil menyampaikan kabar yang amat penting:

Jika umatku tidak mau tunduk, aku terpaksa melepaskan lengan Putera-Ku. Lengan-Nya begitu berat, sehingga aku tidak dapat menahannya lagi.

Sudah demikian lama aku menderita karenamu! Apabila kuinginkan agar Puteraku tidak meninggalkan kamu, Aku terpaksa tidak henti-hentinya berdoa bagimu, dan kamu sama sekali tidak memperdulikannya.

Bagaimana-pun kamu berdoa, serta apapun yang kamu lakukan, kamu tidak pernah akan dapat membalas jerih payah yang yang telah kulakukan untukmu

Enam hari telah kuberikan kepadamu untuk bekerja, satu hari (hari ketuju) kusediakan untukku sendiri dan aku tidak mendapatkannya. Inilah yang membuat lengan Puteraku begitu berat.

Demikian juga apabila tukang pedati menyumpah-nyumpah, mereka menyalahgunakan nama Putera-Ku. Dua hal inilah yang membuat lengan putera-Ku begitu berat.

Kalau panenan gagal, kamulah penyebabnya. Tahun yang lalu hal itu telah kuperlihatkan kepadamu pada panenan kentang, tetapi kamu sama sekali tidak menghiraukannya. Sebaliknya, apabila kamu jumpai kentang-kentang yang busuk, kamu menyumpah-nyumpah menyalahgunakan nama Putera-Ku. Ini akan berlanjut dan tahun ini, pada hari-hari Natal tidak akan ada kentang lagi

Apabila ada pada kalian jagung, maka tak akan ada gunanyalah menabur benih. Binatang-binatang liar akan melahap apa yang kalian tabur. Dan semuanya yang tumbuh akan menjadi debu ketika kalian mengiriknya.

Suatu bencana kelaparan hebat akan datang. Tetapi sebelum itu terjadi, anak-anak di bawah usia tujuh tahun akan diliputi kegentaran dan mati dalam pelukan orangtua mereka. Orang-orang dewasa akan harus membayar hutang dosa-dosa mereka dengan kelaparan. Buah-buah anggur akan menjadi busuk, dan biji-bijian akan menjadi rusak.”

 Lebih lanjut Bunda Maria berpesan kepada kedua gembala kecil itu:

“Kalau orang bertobat, batu dan karang akan berubah menjadi gundukan gandum. Dan kentang akan tumbuh bertebaran di ladang. Apakah kamu berdoa dengan baik anak-anakku?”

Mendengar pertanyaan Bunda Maria, kedua gembala kecil itu menjawab: “Tidak Nyonya.” Mendengar jawaban mereka, Bunda Maria kembali berkata kepada mereka:

“Anak-anakku, kamu perlu berdoa sore dan pagi hari; kalau kamu tidak dapat melakukannya dengan lebih baik, doakanlah paling tidak Bapa Kami dan Salam Maria, tetapi kalau ada waktu berdoalah lebih banyak.”

Setelah selesai menyampaikan pesannya, Bunda Maria meminta kepada kedua gembala kecil itu untuk menyampaikan pesan itu kepada umat di La Sallete. Kemudian wanita itu mendaki puncak bukit. Di puncak, ia berdiri kira-kira satu setengah meter ketinggiannya, lalu ia memandang ke langit, kemudian memandang ke bumi. Ia berdiri di tengah cahaya dan pelan-pelan menghilang.

——-

(Ditulis oleh Promotor Panggilan MSF :https://promotormsf.wordpress.com/2012/04/18/maria-dari-la-salette/)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here