Renungan Harian, 12 April 2019, Bac I Kitab Yeremia 20;10-13, Injil Yohanes 10:13-42

Bila kita telusuri dalam sejarah, pembunuhan dan darah adalah dua kata yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Yahudi. Sejarawan terkemuka Yahudi, Josef Kastein (1860-1946) dalam bukunya, History of Jews yang mengatakan bahwa yang menjadi dasar ritual pembunuhan bangsa Yahudi adalah karena darah adalah tempat jiwa bersemayam.

Kaum Yahudi zaman dahulu menjadikan darah orang Kristen untuk dikeluarkan dari tubuhnya lalu diminumnya. Mereka percaya bahwa dengan meminum darah tersebut, mereka akan meraih apa yang mereka inginkan. Mulai dari tubuh yang sempurna hingga otak yang memiliki kecerdasan segalanya.

Orang Yahudi dalam konteks hidup Yesus

Injil hari ini dibuka dengan niat orang-orang Yahudi yang mau melempari Yesus dengan batu. Sebuah ekspresi kemarahan yang di zaman ini cocok dikenakan pada seorang pencuri, pembunuh dan pemerkosa.

Sikap ini mengingatkan kita akan ritual yang dilaksanakan kaum Yahudi zaman dahulu yang sangat mengerikan dan menakutkan. Satu orang korban bisa dibunuh secara bergerombol di tempat keramaian. Kita bisa menyebutnya, St. Stefanus yang mati dibunuh secara ramai di hadapan rasul Paulus karena dia terang-terangan berbicara tentang kebenaran Allah.

Perempuan yang kedapatan berzinah juga nyaris dilempar batu karena dia melanggar perintah ke tujuh, Hukum Taurat. Kehadiran Yesus dan gelar-gelar yang ditujukan kepada-Nya membuat hati orang-orang Yahudi menjadi panas. Di samping karena mukjizat-mukjizat yang dibuat Yesus, tetapi karena Yesus berbicara tentang hubungan-Nya dengan Allah. Tegasnya, Yesus adalah Allah.  Yesus yang beberapa kali diancam dibunuh.

Semua ancaman itu tidak datang dari satu atau dua orang tetapi Injil selalu mengatakan “orang-orang Yahudi”. Itulah mengapa dalam Kitab Talmud dikatakan kekejaman demi kekejaman amat dimungkinkan oleh orang Yahudi karena Yahudi adalah agama yang menganut teologi permusuhan. “Orang-orang Yahudi disebut manusia, tetapi non-Yahudi tidak tergolong manusia, mereka adalah binatang” (Talmud: Baba Mezia 114b).

Hidup menurut Kehendak Tuhan akan mengarah pada Pertentangan

Hidup orang benar banyak cobaanya. Orang jujur dicobai. Orang baik difitnah. Itulah prilaku dunia. Hidup menurut kehendak Tuhan jelas mengarah pada perselisihan, pertentangan. Banyak orang, entah keluarga dekat, sahabat kenalan yang tidak ingin diinjili, tidak ingin mendengar tentang Yesus karena mereka terlalu jauh menghidupi gaya hidup yang disenangi dunia.  Mereka adalah orang-orang yang suka hidup dalam kegelapan. Semakin dekat hubungan kita dengan Allah semakin banyak musuh yang bekerja melawan kita. Kita perlu berseru kepada Allah sebagaimana Yeremia. Iman kita perlu diperkuat oleh Allah karena Dia adalah batu perlindungan, perisai dan banteng kita. Allah mungkin tidak membinasakan atau menghilangkan musuh dalam hidup kita, tetapi yakinlah Allah akan memberi kita kekuatan untuk menghadapi lawan-lawan kita sebagaimana yang dihadapi Yesus.

Iman harus disertai komitmen   

Bacaan pertama menegaskan komitmen kehadiran kita sebagai murid-murid Tuhan. Dunia dengan kebenciannya akan sangat gampang menggoda dan menarik komitment kita untuk tidak setia kepada Tuhan. Nabi Yeremia merasakan pertentangan yang dihadapinya prihal pemberitaan Firman Allah. Bahkan keluarga, teman-teman dekat berbalik menentangnya. Yeremia bergeming, Allah sengaja membiarkannya dalam situasi itu. Dia berteriak kepada Allah meminta bantuan. Senada dengan itu, dalam Injil Yesus harus menghadapi kenyataan ditentang oleh orang-orang Yahudi karena dituduh menghujat Allah.

Menghadapi situasi-situasi semacam ini, tentu kita tidak boleh diam. Ada semacam perintah rohani yang tak terkatakan yang membimbing kita selalu, kendati dalam diam untuk terus mengamini dan menguatkan iman kepada kehendak Allah.  Komitment dalam iman tidak berarti selesai dengan identitas apa agama mu, bukan itu. Komitmen mengandaikan kita terus bertumbuh dan hidup dalam kebenaran Allah. Komitmen dalam iman harus dijaga dan bergerak maju dari hari-hari.

Komitmen disertai Pengorbanan

Komitmen yang baik harus disertai dengan pengorbanan. Kadang kita gagal pada poin ini. Sebuah keluarga berkehendak ingin menjadi keluarga harmonis maka masing-masing pasangan rela membunuh kesenangan pribadi demi pasangannya. Seorang misionaris tidak akan bahagia dalam pelayanan  jika dia memikirkan dirinya sendiri. Melalui renungan hari kita diajak untuk semakin siap memasuki Pekan Suci. Mari kita berjalan mempersiapkan penderitaan, sengsara, kematian, kabangkitan dan kemuliaan bersama Tuhan Yesus.

Bagaimana saya menjangkau pengikut Tuhan yang lain dan mengingatkan mereka akan kasih Allah mereka di tengah saya dilawan musuh-musuhku?

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here