Pada awal karya misionernya di Kalimantan Tengah, Pastor Herman Stahlhacke, sama halnya dengan para Misionaris awal lainnya berhadapan dengan aneka tantangan. Tidak hanya soal letak geografis dan kondisi infrastruktur, tetapi juga menyangkut jumlah umat yang masih bisa dihitung dengan jari.

“Para Misionaris melayani 3-4 keluarga Katolik dari Tiongkok yang tiba di Muara Teweh untuk berdagang. Mereka sudah dibaptis di negeri asal. Sedangkan penduduk asli yang begitu banyak, juga harus kami layani. Kami tidak bisa berkarya sendiri. Kami harus melibatkan kaum awam,” kenang imam yang sudah menjadi warga negara Indonesia ini.

Para misionaris membutuhkan kaum awam sebagai perpanjangan tangan untuk mewartakan Injil dan menjadikan mereka murid Tuhan. Sebagian orang setempat belum mengenal agama. Masyarakat masih hidup sesuai dengan keyakinan agama asli mereka. Tetapi panggilan Tuhan sudah sampai dalam hati mereka seiring dengan datangnya para misionaris.

Sebagaimana sabda Tuhan, “Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit,” (Mat 9:37), begitulah situasi mulai dihadapi para misonaris. Banyak orang menyatakan diri untuk menjadi Katolik. Sementara tenaga misionaris sangat terbatas. Para pastor hanya bisa mengunjungi umat di satu kampung sekitar 2-3 bulan sekali. Untuk itu, sebelum ke kampung tersebut, Pastor mengirim para guru agama atau katekis untuk menyiapkan mereka.

“Peranan kaum Awam di wilayah Barito Timur sangat besar. Wilayah pelayanan bahkan dibuka oleh kaum awam, salah satunya adalah Bapak Pieter Dinan, guru agama waktu itu di Tabak Kanilan. Bapak Pieter Dinan sudah dibaptis di Gereja Protestan, GKE, waktu Misionaris Katolik masih dilarang di Kalteng. Beliau kemudian mendapat buku-bukuu Agama Katolik dari orang katolik kelompok di atas. Dan beliau bilang sama saya, ‘Saya melihat Agama Katolik cocok untuk orang Dayak, bisa dipegang, ada Tanda Salib, ada Air Suci, ada Dupa, seperti pada adat orang Dayak. Bapak Pieter Dinan menjadi pejuang Agama Katolik yang tidak kenal lelah. Berminggu-minggu beliau tinggal di stasi-stasi Barito Timur dan mempersiapkan umat untuk pembaptisan,’ ujarnya.

Lebih lanjut, P. Herman mengisahkan, seiring dengan perkembangan zaman, datanglah tenaga dari para Bruder dan Suster untuk memperkuat pelayanan khususnya di bidang kesehatan, pengembangan ekonomi dan pendidikan.

Situasi mulai berubah ketika ada kejadian dalam sejarah Indonesia yang mengerikan, G30S. Dalam rangka perubahan politik, pemerintah mengambil kebijakan dan menegaskan ‘bahwa setiap warga harus memiliki agama’.

Banyak orang yang menjadi takut atas kebijakan tersebut, mengingat dalam usaha untuk memberantas gerakan Partai Komunis Indonesia (PKI) dengan segala kekerasan, Pemerintah Indonesia mengharuskan agar setiap orang memiliki agama yang diakui oleh negara. Sebagian besar penduduk adalah orang Dayak dan masih menganut aliran kepercayaan Kaharingan. Oleh karena peraturan tersebut, banyak penduduk Dayak mencari hubungan dengan Gereja Katolik.

“Dari mulut-ke mulut, orang menyampaikan keinginannya untuk dibaptis. Saya terus menerima daftar-daftar nama orang dari banyak kampung yang ingin masuk Gereja Katolik. Di sinilah, tanpa kaum awam yang dijadikan guru-guru agama dadakan tanpa pendidikan khusus, saya tidak bisa berbuat apa-apa. Mereka bertugas menyiapkan calon Baptis, sambil pengetahuan dan keterampilan mereka ditingkatkan dengan macam-macam penataran,” kisahnya.

Melihat gelombang calon pemeluk agama Katolik yang makin banyak, Pastor Herman mengutus Bapak Pieter Dinan pergi dari satu kampung ke kampung lain untuk mengajar dan mempersiapkan mereka. Pastor Stahlhacke mengakui, peran bapak Pieter sungguh amat penting. Dialah rasul awam pertama dalam karya penyebaran agama Katolik di daerah Barito Timur. Dengan berjalan kaki, dia berkeliling di seluruh daerah Barito Timur untuk menyiapkan orang-orang yang mau dibaptis.

“Beliau seorang Pendidik tulen; misalnya ia membawa alat peraga, sebuah boneka untuk mengajar umat, membaptis anak-anak atau orang tua dalam sakrat maut. Sehingga waktu pertama kali saya tiba di daerah itu, saya diantar ke kuburan, dimana ada orang yang dibaptis olehnya sebelum meninggal,” kenangnya.

Masa persiapan dan pembaptisan orang-orang Katolik dari periode 1965-1968 meningkat. Selama periode ini, P. Stahlhacke bersama beberapa awam terus berupaya untuk meningkatkan kualitas iman umat. Mula-mula para pemimpin umat harus dibekali agar mampu memimpin umat atau memimpin ibadat mengingat bahwa Pastor hanya bisa mengunjungi umat-umat muda ini 2 sampai 3 bulan sekali.

Dalam hal tersebut, Pastor Herman merasa sangat dibantu oleh adanya buku Panduan Pastor Dr. Michael Coomans, MSF dengan ‘Ritual untuk para Pemimpin Umat,’ Kumpulan Upacara Ibadat. Salah satu upaya yang dilakukan adalah memberi kursus kepada guru-guru agama untuk mengajar di sekolah-sekolah dan kampung-kampung.

“Atas izin uskup, kami mengangkat dan mempersiapkan beberapa orang menjadi guru agama. Mereka inilah yang pergi ke kampung-kampung untuk menyiapkan umat yang mau menjadi Katolik, sehingga pada waktu kunjungan, kami bisa membaptis,” tandasnya.

Guru-guru agama ini sungguh dipersiapkan. Secara berkala mereka diikutkan dalam acara penataran, seminar atau kursus-kursus tentang agama Katolik. Secara berkala juga, para pastor membekali mereka dengan pengetahuan agama sebagai modal dalam pelayanan. Tidak hanya berkaitan dengan pengetahuan, mereka juga difasilitasi dengan sarana dan prasarana , misalnya sepeda motor atau perahu motor, agar pelayanan mereka dapat berjalan dengan baik.

“Para guru agama ini pada awalnya bukan orang yang hebat-hebat, tetapi mereka bersemangat dan mau belajar sendiri, sehingga mereka dilayakkan oleh Tuhan menjadi pewarta,” tanda mantan provinsial MSF Kalimantan 3 periode ini.

Yang Penting Berkumpul

“Pada umumnya Masyarakat Dayak waktu itu memiliki usaha atau pekerjaan dan terutama tinggal di ladang atau kebun dan hanya berkumpul pada kesempatan kematian atau upacara pernikahan. Karena itu, Misionaris senior, Pastor Zoetebier mengajari saya, “Herman, yang penting adalah bahwa mereka berkumpul untuk sembahyang bersama; sembahyang apa saja, tidak penting,” kenangnya.

Dari kebiasaan kumpul untuk berdoa bersama, para misionaris dan dibantu awam mulai mengajarkan doa-doa dan membacakan Kitab Suci kepada mereka. Setiap kali mengadakan kunjungan atau torne, para Pastor tidak lupa membawa obat-obatan. Tidak ada dokter pada waktu itu, sehingga Pastor sekaligus menjadi dokter.

Selain mengobati secara rohani yakni merayakan Ekaristi, para Misionaris juga memberikan pelayanan jasmani berupa pemeriksaan kesehatan dan pemberian obat-obatan. Bantuan kesehatan diberikan kepada siapa saja tanpa memandang agama atau suku.

“Banyak yang mulai menjadi Katolik karena merasa bahwa Pastor itu baik. Pastor selalu membawa obat-obatan dan melayani dengan senyum. Pengalaman itu mereka teruskan kepada anggota keluarga yang lain, sehingga banyak yang menjadi Katolik,” ujarnya.

Hal lain yang membuat banyak orang memilih menjadi Katolik adalah karena figur ‘teladan’ dari pemimpin agama. Pernah suatu ketika, seorang tetua Kaharingan mendatangi Pastor Stahlhacke dan mengungkapkan bahwa umat Kaharingan mengalami kekurangan tukang Belian. Peran tukang Belian ini sangat penting karena menjadi penghubung antara dunia bawah dan dunia atas.

“Warga membutuhkan tukang Belian. Namun karena kekurangan, mereka mencari figur yang bisa membantu kerohanian mereka. Kebanyakan di antara mereka memilih menjadi Katolik,” kisahnya.

Bersambung ke Part IV…..

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here