Malam itu mataku sepertinya tidak mau kompromi untuk dipejamkan. Pikiran agak kacau. Agar bisa mengantuk, membaca adalah solusi yang paling gampang. Maka saya membaca majalah Intisari dibawah sinar lampu teplok di tempat tidur. Ketika itulah saya menjadi terkejut memandang kerut-kerut pada tanganiku sendiri.

‘Menjadi tua’, itulah yang terlintas. Ini untuk ketiga kalinya keterkejutan meliputi diriku. Pertama, ketika membeli tiket masuk Sea-Wold di Dufan, Ancol, Jakarta. “Bapak bayar separuh saja karena sudah manula,” kata waitersnya. “Hah!” hanya itu yang spontan terlontarkan.

Kedua, ketika menerima KTP seumur hidup dan ketiga, ketika saya memandang kerut-kerut kulit tanganku di malam itu. Terima kenyataan, tak tersangkalkan dan memang sudah 47 tahun menjadi imam dalam Konggregasi MSF dan 50 thn hidup berkaul dan usia sudah 75 thn.

Masa bulan madu

Saya ditahbisan imam di Tering tgl pada 10 Desember 1972 dari tangan Mgr. Jac. Romeijn MSF. Tahbisan merupakan puncak dari suatu penyerahan diri kepada Tuhan dalam imamat. Bukan tanpa persiapan diri. Suatu obsesi harus diimbangi dengan suatu persiapan. Entah mengapa, kerinduan untuk mengabdikan diri pada masyarakat kecil di pedalaman selalu membisiki hati. Mungkin karena latar belakangku sebagai “orang pedalaman”.

Bisa terjadi, terobsesi juga karena seruan Bapak Pendiri MSF untuk menjadi misionaris bagi mereka yang jauh. Di satu pihak, perjalanan waktu ketika mempersiapkan diri menjadi imam, menjadikan diri terbiasa sebagai orang yang selalu hidup dalam lingkungan perkotaan. Karena itu pemenuhan obsesi memerlukan persiapan lahir batin.

Tidak berlebihan kalau kursus pertanian di KPP Salatiga menjadi ajang pelatihan persiapan diri. Tidak berlebihan juga kalau praktek pastoral di desa-desa menjadikan diri terbiasa kembali dengan dunia desa. Tidak berlebihan juga kalau bacaan-bacaan mengenai budaya pedalaman Kalimantan dilahap. Kegiatan olah raga dan bela diri juga menjadi bahan persiapan olah diri dari segi physic.

Beberapa hari setelah tahbisan, suatu kursus kilat mengenai keperawatan diikuti, dan mendapat satu peti perlengkapan medis, hadiah dari Memisa. Ketika penempatan pertama di pedalaman, rasanya seperti mendapat durian runtuh.

Obsesi terpenuhi. Paroki Barong Tongkoq menjadi pijakan pertama. Bermodalkan sepeda ontel, stasi-stasi dari Paroki Barong Tongkoq dan paroki Melapeh dijelajahi tanpa mengenal lelah. Tidak jarang harus jalan kaki melalui rimba, dengan resiko bertemu binatang buas dan tertikam belantik, sejenis bambu runcing dengan tenaga pegas dari kayu keras. Pernah dikejar ular karena terlindis ban sepeda, tetapi laju sepeda tidak bisa diimbanginya. Tidak jarang tidur di komplek peladangan, dan malamnya merayakan ekaristi di pondok ladang, lalu menyantap durian ranum nan sedap.

Sungguh sangat mengesankan. Perjumpaan dengan masyarakat menjadi ajang diskusi tentang pertanian dan perkebunan., dan pelan-pelan diarahkan kepada pewartaan Injil. Perayaan ekaristi hampir selalu dirayakan malam hari, disusul pengobatan dan setelah itu bisa bertukar ceritera sampai ayam berkokok kedua kalinya.

Pertengahan tahun dipindahkan ke paroki Melapeh yang lagi kekosongan tenaga imam. Harus menempati pastoran tua, dinding kulit kayu, atap tua dan bocor, ruangan tanpa isi, kecuali satu tilam busa yang sangat berat. Kalau hujan turun, maka tidur di bawah meja agar tak kuyup karena air hujan.

Untuk keperluan gisi, dibuat kebun kecil samping pastoran. Menu rutin adalah nasi, ikan asin dan sayuran, tanaman sendiri. Kalau lagi tak turne, maka setelah makan malam (jam 18.00) pakai sarung, lalu berkunjung ke rumah umat. Ngobrol sampai tinggi malam dan disuguhi kopi. Hemat minyak tanah dan kopi. Pagi cukup dengar siaran dari radio tetangga yang di stel sangat keras. Lagi-lagi hemat beterai.

Irama turne seperti semula. Kiang (semacam tempat menyimpan barang dari rotan) menjadi perlengkapan turne, tempat menyimpan perlengkapan misa dan pakaian ganti (campur saja dalam satu wadah. Ditempelkan di samping boncengan sepeda ontel. Mandau dan topi Dayak berhiaskan bulu enggang tak ketinggalan, bak prajurit pengayau jaman dahulu.

Pernah serombongan ibu-ibu lari lintang pukang, karena disangka ada “ayau” (musuh pemenggal kepala).Sering terjadi, sepeda yang menjadi tuan, karena harus dipikul. Ada pohon-pohon tumbang melintang di jalan. Pernah terjadi, dalam hujan sangat lebat, sepeda terpeleset dari lantai jembatan, lalu bersama sepeda jatuh dalam sungai yang lagi banjir. Sekali lagi sepeda menjadi tuan.

Sambutan umat di stasi sangat antusias. Pengalaman pahit terjadi ketika pingsan di tengah jalan karena kepanasan dan kehausan. Seorang guru menolong, diberi air mentah dan keesokan harinya diari berat. Hampir semua stasi menghidangkan lauk ayam bersantan. Kedekatan dengan umat, obsesi mau jadi missionaris pedalaman, semangat yang tinggi membuat segalanya terasa ringan, tanpa keluhan, tanpa rasa disisihkan.

Kehidupan di kota

Masa bulan madu sepertinya harus diakhiri dengan perpindahan ke paroki Kathedral, Samarinda, april 1974. Seperti ada pukulan dengan palu godam di hati. Sangat berat. Umat merasakan yang sama. Beramai-ramai melayangkan surat agar tidak terjadi mutasi.

Dengan gampang dan halus para petinggi keuskupan mengatakan bahwa perpindahan ini adalah untuk kepentingan yang lebih besar. Sebesar apa? Umat hanya mengurut dada dan meneteskan air mata. Kaul ketaatan memaksa angkat kaki. Dengan sepeda ontel dan satu kiang kecil berisi pakaian plus seekor anak musang, pemberian kenang-kenangan dari cintanya umat, sepeda dikayuhkan ke Tering untuk kemudian dengan kapal milir ke Samarinda.

Ditengah hiruk pikuk kota dan persoalan rumit dari orang-orang kota, pos berikutnya ditempati. Paroki Kathedral! Tidak ada lagi keakraban desa. Ada sesuatu yang hilang, Komunitas sama sekali tak mendukung. Hidup sendiri-sendiri, mulut sulit terbuka untuk berbicara. Komunikasi tidak lancar seperti di desa. Frustrasi hampir saja menguasai diri. Kemampuan berkomunikasi pelan-pelan menumbuhkan penyesuaian diri.

Ketika diangkat menjadi pastor paroki Kathedral, setengah tahun kemudian, sedikit banyak sudah ada penyesuaian. Banyak persoalan harus diselesaikan. Dewan paroki yang hanya ingin jabatan kehormatan, harus diubah menjadi dewan yang proaktif untuk kehidupan berparoki. Banyak hal harus dipelajari. Sabda Yesus: “Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengarkan” (Mat. 11:15) mulai disesuaikan dengan realitas.

Melihat, mendengar, belajar dan analisa sosial yang tepat, menjadi prinsip pastoral. Tantangan tidak jarang muncul dari konfrater. Ada yang tidak terima bahwa “anak kecil itu” menjadi pastor paroki Kathedral. Ada yang tidak mau mengikuti keputusan yang ada, Kata-kata menyakitkan terlontarkan bahwa semua pelayanan sakramental tidak sah.

Perkembangan baru atau suatu perubahan sering memicu protes dari umat. Ketika pertama kali mengambil misdinar anak-anak putri, protes dilontarkan, tidak terima imam muda duduk dipanti imam dikelilingi gadis-gadis misdinar yang cantik-cantik.

Kekuatan dan daya tahan justeru muncul dari dukungan uskup dan provincial.

Kecintaan akan menjadi missionaris pedalaman tidak pupus ketika berkarya di kota. Disamping kesibukan di kota, masih ada 45 stasi yang harus dilayani, membentang dari muara Mahakam sampai daerah danau Jempang, sungai Kelinjau dan sungai Belayan. Dua kali setahun, daerah-daerah pedalaman dilayani dan membuka daerah baru.

Daerah Danau Jempang dimulai dari stasi Mancong dan Tanjung Jan, menyusul Tanjung Isuy. Sungai Belayan dilayani mulai dari Ritan Baru, Kampung Baru, Tabang dan daerah orang Punan, dan beberapa desa lainnya.

Sungai Kelinjau dilayani dari Long Segar, Melan, Long Bentuk sampai Long Puh. Sungai Telen dilayani dengan membuka daerah baru: Selabing, Dea’ Lay dan Dabeq. Pelayanan ini dijalani selama dua bulan. Stasi sekitar kota adalah Sanga-Sanga, Palaran, Bukuan, Belimau, Loa Duri dan Tenggarong.

Missionaris domestik

April 1980, perpindahan ke Buntok, Kalimantan Tengah memasukkan ke situasi dan kondisi yang sama sekali baru. Provinsi MSF Kalimantan melihat bahwa perlu ada pertukaran misionaris antar kedua keuskupan (Samarinda dan Banjarmasin).

Buntok menjadi daerah tujuan misionaris domestic pertama. Buntok adalah kota kabupaten dengan sejumlah stasi yang bisa dijangkau dengan klotok dan sepeda motor. Jalan darat sangat memprihatinkan. Masyarakat masih sederhana, dengan budaya yang hampir punah karena pengaruh Protestantisme.

Syukurlah dengan loka karya musik liturgi dar PML di Buntok, banyak lagu-lagu Maanyan, Dusun, Kapuas dan Teboyan digali. Kemudian menyusul 2 kali Loko di Tering, Kerinduan akan suasana desa masih bisa tersalurkan dengan kunjungan rutin ke satsi-stasi. Thn 1983 meninggalkan Buntok selama satu tahun untuk mengikuti kursus theology di EAPI, Manila. Sekembalinya, masih melayani Buntok selama satu tahun.

Buntukpun harus ditinggalkan awal tahun1985, ketika diangkat menjadi Direktur Seminari Senakel Banjarmasin selama 6 tahun. Kemudian pindah lagi ke Balikpapan selama 9 tahun.

Stasi-stasi sekitar kota: Semoi, Sepinggan, Amburawang dalam, Amburawang luar, Senipah, Handil, Petung, Babulu Darat dan sekitarnya masih dilayani. Ketika terjadi keributan besar di Grogot, dan pastor paroki harus pergi, maka pelayanan paroki Grogot dengan stasi-stasinya dilayani juga dari Prapatan.

Jabatan sebagai seorang missionaris

Cita-cita murni untuk menjadi seorang misionaris untuk orang yang jauh, nampaknya tidak bisa secara murni dijalani. Tidak pernah terbayangkan ketika Uskup Samarinda menunjuk menjadi Ketua Yayasan P3R yang menangani sekolah-sekolah milik keuskupan. Tidak tahu harus berbuat apa dan dari mana. Syukurlah staf yayasan terdiri dari orang-orang yang cakap dibidangnya. Penunjukan menjadi direktur Seminari Senakel membuat kebingungan besar.

Jabatan yang sangat strategis untuk suatu keuskupan demi masa depan tenaga-tenaga. Harus belajar lagi dari awal. Pada kesempatan yang sama masih dibebani lagi tugas sebagai ketua Yayasan Sekolah-Sekolah Bruder dan Yayasan Siswarta yang menangani sekolah-sekolah. Sepertinya tidak cukup dengan tugas tsb., masih lagi harus menjadi Ketua Yayasan Tahasak Danum Pambelum yang menangani Pendidikan Guru Agama di Palangka Raya yang menjadi cikal bakal STIPAS sekarang.

Di Keuskupan dibebani tugas menjadi ketua komisi KLKP (Kateketik, Liturgi, Kitab Suci dan Pastoral). Masih satu jabatan yang sangat menarik, menjadi Moderator WK tingkat Keuskupan. Banyak keliling dengan para ibu untuk membentuk WK di Buntok, Muara Teweh dan Palangka Raya.

Dalam renungan pribadi, putera P.Berthier MSF selalu terbuka dan siap untuk melaksanakan dan menjalani tugas apapun, sungguhpun tidak ada persiapan untuk itu. Dan kesadaran untuk itu membuat keluhan-keluhan dan tuntutan-tuntutan tidak hinggap di hati. Semua dijalani dengan kegembiraan seorang misionaris.

Semangat pengabdian sebagai misionaris membawa dampak pada pyisik: 5 kali maag-bloeding, 2 kali rawat jantung, I kali disentri amuba, 1 kali sakit kulit seluruh badan, 1 kali demam malaria., 2 kali vertigo dan satu kali pingsan karena tekanan drop. Biarpun demikian, sampai kini semangat bermisi dan semangat hidup dll, masih tetap tinggi.

Sekarang menempati paroki dengan komunitas “orang tak berdaya”, menghadapi umat yang unik, penuh semangat dan kadang sangat kritis yang sebenarnya sama sekali tidak kritis.

(Ditulis belasan tahun lalu di web www.msfkalimantan.org. Kini Web ini sudah terintegrasi dengan www.musafirmsf.com)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here