Panggilan itu datang tiba-tiba dan tak disangka-sangka. Tidak pernah terlintas dalam benaknya untuk menjadi seorang imam, apalagi seorang misionaris di negeri orang.

Tetapi siapa kira, benih itu ternyata tumbuh perlahan-lahan dalam dirinya. Dia memang suka membaca tulisan-tulisan dalam sebuah Majalah Misi bulanan yang menumpuk di rumahnya, namun tidak ada kesimpulan bahwa ada suara yang memanggilnya.

Suara itu terus menggema dalam senyap, mengalun lembut tanpa disadari. Hingga suatu ketika, mengetahui bahwa seorang teman ingin menjadi imam, dia sontak bertanya pada dirinya sendiri, “Kenapa saya tidak ikut mencoba? Apakah saya lebih jelek dari dia?”

Begitulah awal mula kisah panggilan imamat Pastor Herman Josef Stahlhacke, MSF, seorang Misionaris Jerman yang ikut merintis perkembangan agama Katolik di Kalimantan Tengah.

Herman, begitu sapaanya, menghabiskan masa remaja selayaknya anak-anak pada usianya; menggembalakan kambing bersama teman-temannya, mengumpulkan batu-batu dan bermain-main. Selepas menamatkan Sekolah Dasar, saat berusia 14 tahun, sang ayah sebenarnya sudah mencarikan pekerjaan untuknya sebagai seorang tukang cukur rambut.

Pada masa itu, orang yang ingin bekerja harus memiliki seorang majikan, yang tidak hanya mempekerjakan, melainkan juga mendidik dan membiayai. Kesepakatan sudah dibuat bersama, bahwa Herman akan bekerja pada majikan tersebut.

“Keluarga saya sudah memastikan pada majikan tersebut bahwa saya akan bekerja sebagai tukang cukur. Tetapi suatu malam, sebuah keputusan tiba-tiba saya dapatkan. Saya harus ikut mendaftar di Sekolah Misi. Maka, saya tidak bisa bekerja pada majikan itu,” kenang laki-laki kelahiran Drolshagen-Jerman, 10 Februari 1933 ini.

Pada sore hari sebelumnya, Herman berjalan-jalan bersama seorang teman, selepas menggembalakan kambing. Teman itu menyampaikan niat untuk mendaftar pada Sekolah Misi menjadi seorang calon imam pada Herman.

Bagai disambar petir, cerita tersebut menggetarkan nyali yang tertanam dalam diri, menggemakan suara dari dalam dan menantang dirinya untuk mendaftar,

“Kenapa saya tidak ikut mencoba? Apakah saya lebih jelek dari dia?”

Baca juga

Semula ayahnya sangsi akan niat Herman yang tiba-tiba. “Itu Api-rumput?” katanya, “Hanya menyala sebentar, lalu padam,” lanjut sang ayah. Tetapi keesokan hari, atas dukungan keluarga, Herman ikut mendaftar di Sekolah Misi.

“Pada waktu mendaftar, saya sudah terlambat tiga Minggu. Tetapi saya mendapat dispensasi dan diterima di Sekolah tersebut,” ujar alumnus Sekolah Dasar Drolshagen, Sauerland, Westfalen-Jerman tahun 1939-1947 ini.

Di Sekolah Misi MSF ‘Missionsschule Oberhundem’, Herman menempuh pendidikan bersama sang teman yang sama-sama mendaftar dari tahun 1947-1952 dan kemudian pindah ke Provinsialat MSF di Dueren untuk melanjutkan di Gymnasium Negerti hingga tamat pada tahun 1955.

Ia melanjutkan ke Novisiat MSF pada tahun 1955. Setahun kemudian, ia mengucapkan Kaul Pertama pada April 1956 dan menjadi seorang Skolastik MSF di Ravengiersburg. Sang teman yang sama-sama mendaftar, tidak melanjutkan pilihan menjadi imam, membiarkan dirinya terus merajut impian pada Sang Pemilik Ladang Anggur.

Pada tanggal 2 Juli 1961, Herman Stahlhacke menerima tahbisan imam dan mendapat tugas studi di Universitas Bonn fakultas Bahasa Jerman dan Theologi, untuk melengkapi team pengajar di salah satu Sekolah Misi MSF di Jerman.

Bersambung ke part II….

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here