“Moe Tula goe pita, ni goe skola jadi tuan” (Oh Tuhan Allah, buatlah saya pintar biar saya sekolah jadi pastor).

Sewaktu kecil ia mendaraskan doa ini. Meskipun begitu banyak tantangan hendak menggrogoti mimpinya, namun Tuhan mengabulkan doanya. Ia pun sudah sembilan tahun menjadi pastor dan terkenal sangat dekat dengan orang muda. Bagaimana karya Tuhan dalam panggilan hidupnya?

Ingin Mereguk Anggur

Pastor Gabriel Ama Maing MSF barusan pulang memimpin misa arwah. Ia masuk ke pastoran dan menenteng jubah putihnya. Dengan ramah ia menyapa orang-orang di sekitarnya.

Di ruang pastorannya, kita mudah menemukan beberapa alat musik seperti Sapek, Sasando, Gitar, dan keyboard. Ya, Pastor Gebi memang suka bermain musik dan bernyanyi. Ia bahkan sudah menghasilkan dua album tembang rohani.

Kemudian ia duduk di selasar pastoran Paroki Bunda Maria Banjarbaru. Di tempat itu, katanya, ia mendapatkan banyak inspirasi untuk menciptakan lagu. Dua cangkir kopi panas menguap dengan aroma sedap di depannya.

Pastor Gebi menyeruput kopi, pandangannya melebur tembok waktu dan merunut kembali kisah panggilannya ketika ia masih kecil di Kampung Leoeleng-Lembata.

Dulu anak ke sembilan dari 10 bersaudara ini kagum melihat seorang pastor di kampungnya. “Pastor itu mengangkat piala dan mereguk anggur.

“Dalam hati aku berkata suatu saat nanti saya juga ingin mereguk anggur itu” kata pastor kepala Paroki Bunda Maria Banjarbaru  ini mengawali kisah panggilan hidupnya. Begitu juga ketika ditanya oleh orang-orang di kampungnya, “apa cita-citamu?” Ia selalu menjawab “saya mau menjadi pastor”.

Seperti menjaga pelita dari hempasan angin, ia menjaga cita-citanya itu. Namun rintangan datang silih berganti bahkan ketika ia masih kecil sekali. Ayahnya meninggal ketika ia sedang duduk di kelas satu SD.

“Ayah meninggalkan kami tetapi mimpi minum anggur masih teringiang dalam batinku” katanya. Tetapi bagaimana mewujudkannya? Di tempatku, kebanyakan yang sekolah di Seminari adalah mereka yang mampu secara ekonomi.

Seiring dengan pertumbuhan hidup, waktu terus berderak otomatis, tantangan yang sama datang lagi. Tantangan ini membuatnya semakin krisis untuk menggapai cita-citanya mereguk anggur. Di penghujung bangku sekolah SMA, ibundanya tercinta pergi mengikuti ayahnya ke surga. Segalanya berantakan.

Namun mau apa lagi, itu memang rencana maha kuasa. Ia bersama sembilan saudaranya pasrah terhadap kenyataan hidup, ditinggalkan oleh kedua orangtua.

“Saya pikir suluh itu sudah padam. Tetapi Tuhan mempunyai rencana lain”, ucapnya menyeringai. Setelah tamat SMA, ia memutuskan merantau dan bekerja di Batam.

Namun baru saja setahun bekerja, niatnya menjadi pastor kembali menyala. Ia pun memutuskan meninggalkan Kota Batam dan kembali ke Maumere. Di Maumere ia mengikuti kursus Bahasa Inggris agar ia bisa diterima di seminari.

Masuk MSF

Setahun mempersiapkan diri di Maumere, tetapi kebingungan menghampirinya lagi, apakah ada seminari yang menerimanya? Apa kongregasi yang hendak dipilih? Dalam situasi kalut dan bingung, tiba-tiba seorang teman memberikan dia secarik kertas yang kumal dan lusuh.

Pada kertas itu tertulis alamat Seminari MSF di Kalimantan Selatan. Spontan hatinya merasa senang mendengar nama MSF. Ini nama baru. Ia pun menulis lamaran ke seminari Johaninum.

Bersama teman sekampungnya bernama Soni Maing, mereka berkelana menuju Banua Baiman. Ada rasa kwatir karena ia belum mengikuti test masuk seminari Johaninum. Di Johaninum baru mereka ditest. Untunglah saya lulus.

Di seminari hidupku betul-betul berubah. Kedisiplinan, ketekunan, bakat dan hobi ditempa sedemikian rupa. Saya menikmati proses-proses itu bersama-sama dengan teman dengan baik. Kata orang semakin lama anggur disimpan semakin anggur itu bermutu. Saya menyimpan semangat untuk mereguk anggur itu cukup lama dan ternyata itu menjadi nyata juga”, tuturnya dengan tertawa.

Semua pendidikan dilewatinya dengan lancar. Tahun 2010 yang lalu, bersama dengan empat konfraternya ia menerima tahbisan imamat dari Nuntius Vatikan untuk Indonesia Mgr Leopoldi, di Paroki St. Theresia Sangata, Kalimantan Timur.

“Cita-cita saya menjadi imam ya seperti itu, bermula dari hal sepele, mau minum anggur saja. Karena itu bagi teman-teman muda yang mau menjadi pastor jangan takut! Bukan kecerdasan yang paling utama, tetapi tekat dan setia untuk memperjuangkan cita-cita kita.

Sama juga dengan pilihan hidup lainnya, tanpa keberanian dan semangat yang tinggi cita-cita hanya angan-angan di atas awan saja” tukasnya dengan lugas.

Sahabat Orang Muda

Setelah menjadi imam, Pastor Gebi dekat dengan anak muda. Kebetulan pula MSF mempunyai pastoral khusus untuk kaum muda. Karena itu ia sangat didukung dalam tugas mendampingi anak-anak muda.

Menurut pastor Ketua Komisi Kepemudaan (Komkep) Keuskupan Banjarmasin ini pendampingan anak muda sangat menarik dan menguatkan imamatnya.

Yang paling utama katanya,“orang muda mendambakan kehadiran gembala mereka agar mereka tidak sendirian. Cukup kita hadir, masuk ke dunia mereka maka mereka akan kreatif dan semangat melayani Gereja.

Katanya lagi ada tiga hal penting yang perlu diperhatikan dalam pendampingan anak-anak muda yaitu Tri (3)Y, youth support, youth ministry dan youth center.

Pertama, Youth support atau dukungan untuk anak muda harus mulai dari keluarga. Anak muda kita sepertinya walking alone (jalan sendiri) padahal mereka itu adalah Gereja masa depan.

Orang muda Katolik membutuhkan dukungan keluarga, motivasi dan juga dukungan dana untuk kegiatan mereka. Mestinya juga pendampingan anak muda ini berkesinambungan.

Namun karena tidak adanya youth support ini, pastoral anak muda sepertinya angin-anginan, silih berganti terus menerus. Pertanyaannya apakah ada yang mau terkentuk hatinya untuk menjadi youth support?

Kedua, dari pihak pelayanan terhadap kaum muda, youth ministry.  Gereja perlu hadir di tengah mereka. Memang ini tidak mudah, karena harus full time.

Kita tahu anak muda adalah kelompok yang kreatif tetapi sekaligus sedang menjajaki masa depan mereka. Karena itu perlu petunjuk, pendampingan dan arahan agar mereka selalu berjalan bersama Gereja.

Ketika youth ministry ini dirasakan oleh anak muda, maka Gereja menjad home, rumah mereka untuk saling mengenal, melayani sesama dan mengembangkan kreatifitas mereka.

Ketiga, youth center. Saya miris anak muda dibeberapa tempat sulit mencari tempat untuk pertemuan atau untuk mengadakan kegiatan. Bahkan ada kelompok OMK yang mengadakan pertemuan dibawah pohon. Inikan mestinya menjadi perhatian bersama.

Pusat pelayanan untuk OMK sebenarnya sudah ada di paroki-paroki, tetapi apa yang orang muda lakukan disana? Apa yang mereka obrolkan? Kita perlu mengajak mereka juga untuk tidak bersenang-senang saja tetapi juga memikirkan hal-hal serius, berdampak sosial bagi gereja dan sesama di youth center ini.

Pastor Gebi berharap agar anak muda tetap militan dalam iman, kreatif dan semangat untuk melayani sesama. “Orang Muda Katolik harus menjadi inspirasi bagi anak-anak muda lain di tengah masyarakat.

Kualitas, kreatifitas, semangat pemberian diri untuk Gereja dan sesama, itulah yang harus menjadi branded orang muda kita”.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here