Kubar, Rabu 26 Juni 2019. Pantauan musafirmsf.com melihat tenda-tenda tempat mondok anak-anak Jambore dijadikan tempat katekese. Para tutor atau pendamping mendatangi tenda-tenda anak-anak dan memberikan katekese dengan atraktif untuk membuat anak-anak aktif mengikuti katekese tersebut.

Pastor Blasius Baene SVD sedang memberikan Katekese kepada peserta Jambore

Materi katekese atau pengajaran iman adalah sejarah misi Katolik, Keragaman kebudayaan, dan juga sharing panggilan hidup membiara dan selibat dari para pastor, suster dan bruder yang hadir.

Mengenal Sejarah Gereja

Jika ditelusuri dalam sejarah, Gereja Katolik sudah hadir sejak abad ke 17, tahun 1688, di bumi Borneo ini. Salah satu Misionaris yang terkenal dan dikenang oleh sejarah Katolik ialah Pater Antonino Ventimiglia dari Ordo Theatin. Namun setelah Pater Ventimiglia meninggal, konon ia dibunuh oleh satu raja di Kalimantan, misi Katolik pun lenyap.

Gereja Katolik baru hadir lagi di Kalimantan Timur ketika tahun 1907, para Misionaris OFM Capusin berkarya di Laham. Selama 20 tahun Ordo Capusin Bekerja di Laham. Namun karena keterbatasan tenaga dibandingkan luasnya wilayah Kalimantan, maka mereka menyerahkan misi Katolik ke Kongregasi Para Misionaris Keluarga Kudus (MSF).

Sr Elly SPM Memberi Materi kepada Peserta

Tahun 1926 para Pater MSF tiba di Laham dan mengembangkan misi Katolik ini. Dalam mengembangkan misi para pater ini tidak sedikit mengalami tantangan. Tantangan karena keterbatasan tenaga mereka dan juga tantangan konflik perang. Beberapa misionaris meninggal karena melayani tak kenal lelah, dan ketika Jepang menguasai Indonesia, beberapa pater MSF dibunuh oleh Jepang di Balikpapan.

Namun kini, buah pewartaan mereka, Gereja Katolik berkembang menjadi 4 Keuskupan. Meskipun begitu, tugas setiap anggota-anggota Gereja untuk mengembangkan misi Katolik ini, baik dalam mutu iman, mutu manusia dan juga mutu pelayanan kita sehingga Gereja Katolik tidak hanya berakar dalam budaya kalimantan tetapi juga melayani banyak orang entah melalui pendidikan, kesehatan dan kesaksian hidup orang-orang Katolik.

Sukacita dalam Perbedaan

Benedikta Roksana Gelsi atau disapa Gelsi, peserta dari Paroki St. Petrus dan Paulus Dahor sungguh merasa senang mengikuti kegiatan ini. “Saya merasa senang karena di kegiatan ini saya bertemu dengan banyak teman, memahami tentang keanekaragaman budaya dan juga mendengarkan sharing panggilan bagaimana sih menjadi pastor dan suster? Ungkap siswi yang akan naik kelas 6 SD ini. (https://www.youtube.com/watch?v=d5hEARoWiOw&t=36s)

Hal yang sama juga diungkapkan oleh salah satu perserta tuan rumah, Melisa Karolin Boru dari Paroki Kristus Raja Barong Tongkok. “Dari sebelumnya kurang memahami kebudayaan, saya jadinya mendapat pemahaman baru, saya juga mendapat banyak teman dan mengenal budaya-budaya seperti tari-tarian dari kampung teman-teman. Saya sangat senang mengikuti kegiatan ini”. (https://www.youtube.com/watch?v=NKd-jtU1UOA)

Usai menerima katekese, sore harinya peserta jambore mengadakan pentas seni (pensi) di Venue utama Gereja Katolik Center Kutai Barat. Ada banyak rupa tarian yang menyedot perhatian mereka dan dibawakan dengan apik dan lincah oleh anak-anak. Tarian dari tanah papua dibawakan oleh anak-anak keturunan Papua, Tarian dari Tanah Tora, Batak, dll juga dibawakan oleh para peserta Jambore. Mereka tampa bangga dan bersukacita dalam kebudayaan masing-masing serta memperkaya satu sama lain.

Begitu juga tari-tarian khas Kalimantan Hudoq dan ragam tarian adat lainnya yang dikreasi lebih modern melenggok-lenggok di atas panggung.  Alunan musik etnik dipadu dengan busana lokal, anak-anak menampilkan identitas budaya mereka sendiri dengan berani.

Selain seni tari, mata perlombaan yang lain ialah bertutur Kitab Suci. Masing-masing peserta sudah jauh hari mempersiapkan diri mereka untuk menyabet juara. Para peserta lomba bertutur kitab suci harus menghafal perikope Kitab Suci dan menceritakannya dengan cara yang menarik.

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here