Seorang pasien datang ke dokter karena percaya dokter bisa mengobatinya. Seorang bayi nyaman di pelukan ibu karena percaya ibunya tidak akan membantingnya ke tanah.

Seorang menceritakan masa lalu atau masalah pada temannya karena percaya ia akan menjaga rahasia. Seorang memilih untuk menikah bisa jadi karena percaya pasangannya adalah orang yang tepat.

Begitulah! Hidup ini mengajarkan kita untuk saling tergantung dan saling percaya. Pada saat tertentu kita harus tergantung dan percaya pada orang lain karena tidak berdaya dan tak bisa hidup sendiri. Tak seorangpun super hebat. Ia membutuhkan orang lain. Ia mempercayakan diri pada orang lain.

Dibalik sebuah kepercayaan terdapat nilai penyerahan diri, hidup, harga diri dan keyakinan bahwa orang yang dipercayai memang pantas untuk dipercaya.

Tetapi ketika kepercayaan itu disalahgunakan, dikhianati apalagi digadaikan maka si pemberi tidak hanya kecewa tetapi juga tidak percaya lagi. Sehebat, sekuat, secinta, senyaman apapun relasinya, sekali dikhianati, sekali digadaikan, apalagi berkali-kali, kepercayaan takan kembali seperti dulu lagi.

Ya, kepercayaan itu seperti selembar kertas. Saat kertas itu diremas, ia lusuh dan sulit untuk kembali utuh lagi. Atau seperti butiran padi yang dihamburkan di tanah bebatuan, sulit untuk menemukan setiap butirannya seperti semula. Jika kepercayaan hilang, sulit untuk menemukannya kembali.

Menjaga kepercayaan memang tidak mudah dan akan tetap menjadi perjuangan yang berat. Bisa jadi kita sudah berusaha menjaganya sedemikian rupa, namun justru karena satu kesalahan yang mungkin hanya kecil saja tetapi fatal bagi si pemberi, lalu tak ada lagi kepercayaan yang bisa didapatkan. Sakit memang. Tetapi itulah nilai dari sebuah kepercayaan.

Memang semua itu kembali pada pribadi masing-masing. Orang tua terhadap anaknya, meski dikhianati, berkali-kali, bisa jadi akan tetap memberi kepercayaan. Ada yang sekali dikhianati, tidak akan percaya atau memberi kepercayaan lagi dengan segala pertimbangan.

Ada yang sekali dikhianati pasangan atau sahabat, masih memberi kesempatan kedua, ketiga atau lebih karena sadar tak seorangpun sempurna atau karena memang ia mau mencintai hingga terluka. Tetapi jika sudah berkali-kali dikhianati, hati siapakah yang takan hancur?

Hanya pengampunan dan maaf yang tuluslah yang bisa mengembalikan kepercayaan, meski tak seutuh semula. tetapi hal ini membutuhkan proses, tenaga, air mata dan kadang biaya.

Terakhir, mungkin tidak berlebihan juga jika memutuskan untuk ‘menghukum’ dia yang telah menyalahgunakan atau mengkhianati kepercayaan, entah sekali, dua kali, tiga kali atau berkali-kali, agar sadar bahwa kepercayaan bukan barang mainan murahan. Kepercayaan itu mahal.

P. Joseph Pati Mudaj Msf

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here