Renungan Harian, Kamis, 28 Maret 2019. Bac I Yer 7:23-28 dan Injil Lukas 11:14-23

Sikap percaya diri itu baik adanya. Tetapi kalau segala sesuatu diukur berdasarkan pendapat kita sendiri maka hasilnya bisa baik tetapi juga bisa tidak baik. Kita menjumpai juga ada orang yang tidak bisa menerima masukan sesamanya padahal itu demi kebaikan dirinya. Mereka ini kita sebut orang keras kepala.

Orang-orang keras kepala susah dinasehati. Satu-satunya pendapat yang benar adalah pendapat mereka sendiri. Pendapat dan nasehat baik orang lain tidak mereka dengar. Apakah anda pernah bertemu dengan orang seperti itu?

Keras Kepala

Tuhan memang mengasihi orang Israel. Tetapi mereka sering menyimpang dari Sabda Tuhan. Relasi Allah dan Israel kerap kali diwarnai oleh ketegangan. Namun yang selalu tetap ialah kasih Allah kepada Bangsa Israel. Sedangkan reaksi orang Israel kadang setengah hati, bahkan mereka mencobai Tuhan.

Nabi Yeremia 7:23-28 memperingatkan Bangsa Israel dengan ucapan yang kasar, orang yang tegar tengkuk atau degil, sinonimnya adalah keras kepala. Ia melihat Bangsa Israel susah mendengarkan Sabda Tuhan. Nabi-nabi sudah diutus tetapi mereka tidak didengarkan, malah mendengar suara hati mereka yang degil.

Padahal kata Yerimia “Mendengarkan Sabda Allah dan menjalani perintah Tuhan, jelas ganjarannya adalah Kebahagiaan ((7:23). Tetapi tanggapan orang Israel lain sama sekali. Mereka tidak mendengarkan Sabda Tuhan.

Kata mendengarkan dan melaksanakan Sabda bergandengan keduanya. Kalau tidak mendengarkan, bagaimana mungkin bisa melaksanakannya?

Mendengarkan Sabda Tuhan berarti membatini Firman Tuhan dalam hati. Suara Tuhan adalah bisikan nurani yang bening dan jernih yang mengarahkan kita untuk berbuat baik. Sabda Tuhan adalah petunjuk hidup, Sabda Tuhan adalah hukum kehidupan orang Israel dalam seluruh bidang kehidupan mereka. Bisa dibayangkan mengapa nabi memperingatkan ini.

Bersatu dengan Tuhan

Untuk itu dalam injil kita di ajak untuk bersatu dengan Yesus. Bersatu dengan Yesus berarti mendengarkan suara Tuhan. Mendengarkan itu mengandaikan kita mampu mendengarkan diri kita sendiri. Orang yang tidak mampu mendengarkan diri sendiri, ia juga pasti tidak mampu mendengarkan orang lain. Ia senang membual dan berbicara dari pada mendengarkan orang lain.

Mendengarkan diri sendiri membutuhkan pengolahan hidup. Apalagi dijaman sekarang, berbagai fitur teknologi dapat membuat kita jauh dari kebiasaan merefleksikan hidup. Tidak mampu berefleksi, kita mudah menjadi keras kepala. Hidup sesuka “gue”.

Pertama, terkait dengan Bac I, bacaan Injil (Luk: 24-23) justru menerangkan makin jelas bahwa sikap keras kepala akan membabi buta dalam banyak hal. Kemudian ia tidak lagi membedakan yang baik dan benar. Ia tidak lagi mendengarkan Tuhan.

Inilah kedegilan hati itu. Mereka tidak menyadari bahwa Kerajaan Allah sudah datang dalam diri Yesus Kristus. Mereka tidak memahami janji-janji Tuhan yang terwujud dalam diri Yesus. Yesus sudah menyatakan diri-Nya sebagai Allah melalui pengusiran setan. Sebab dalam keyakinan orang Yahudi, hanya Tuhanlah yang mampu mengusir setan. Yesus mengusir setan, maka Ia adalah Allah yang melawat umatNya.

Tetapi karena mata hati mereka buta, tidak menyadari pewahyuan Allah ini.  Mereka buta karena cendrung nyaman dengan praktek keagamaan yang menjadi tradisi dan peraturan. Agama bukan lagi mendekatkan manusia dengan Tuhan, tetapi justru membelenggu dan memuja struktur-struktur kekuasaan.

Kedua, kedegilan ini juga bisa merasuki hati kita. Apalagi ketika kedegilan ini berjemaah, maka untuk menyuarakan kebenaran menjadi sulit. Demikian juga sesuatu yang salah bisa diterima sebagai kebenaran karena sudah dianggap kebiasaan. Orang seperti ini tidak merasa bersalah membuat hoaks, dsbnya.

Merubah kebiasaan dalam diri , orang lain atau masyarakat justru menjadi tantangan bagi siapapun. Menyuarakan keadilan dan kebenaran menjadi sulit bagi para pembela kebenaran. Apalagi jika kedegilan berjemaah ini kemudian bersatu dan berkonspirasi dengan tujuan tertentu, maka akan menjadi gerakan yang mematikan bagi kehidupan banyak orang.

Kedegilan ini membutakan nurani. Orang berbuat dosa tidak merasa berdosa atau bersalah, asalkan tidak ada orang lain melihatnya. Orang merasa tidak bersalah, tidak bisa memaafkan, meskipun perbuatannya jahat dan tidak baik. Kalau hati nurani sudah tak berfungsi lagi seperti itu, maka kehidupan menjadi kacau. Lalu bagaimana?

Renungan: Kini Tuhan datang dalam diri Yesus. Mari kita percaya! Mari kita bersatu denganNya. Dialah kekuatan kita. Orang yang bersatu dengan Yesus dan mendengarkan Sabdanya adalah orang yang kuat. Kuat menanggung beban hidup dan kesulitannya. Kuat memperjuangkan keadilan dan kebenaran. Sekarang mari kita renungan pertanyaan berikut ini:

  • Bagaimana sikap kita terhadap kritikan dan nasehat dari orang lain yang ingin mengoreksi kesalahan kita?
  • Apa yang kita lakukan jika kita bekerja dalam sistem yang justru melawan nurani kita?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here