Renungan Harian Senin 1 April 2019. Bacaan I Mikha 7:7-9 dan Bacaan Injil Yohanes 9: 1-4

Peraturan, tradisi atau atribut memang bertujuan baik, bisa menjadi petunjuk, pengayom kehidupan bersama. Tetapi jika itu dikendalikan dengan tidak bijaksana, maka peraturan, tradisi atau adat istiadat itu hanya mendatangkan celaka dan belenggu.

Contohnya superioritas ras menyebabkan genosida di beberapa negara di belahan dunia ini. Superioritas kelompok mayoritas menyebabkan intoleransi di beberapa tempat dan negara.  Masih banyak hal lain yang kita temukan dalam kehidupan kita dimana aturan, tradisi dan atribut (jabatan, kostum, dll) dipakai untuk mengekang dan menindas sesama.

Karena tradisi, orang yang sebenarnya tidak bersalah justru disalahkan. Karena aturan, seorang yang berbuat benar justru ditentang habis-habisan. Karena atribut seperti beda seragam saja, kelompok yang satu memusuhi kelompok yang lain.

Ya, bila tidak dicermati dengan baik dan dilaksankan dengan bijak, hukum, tradisi, adat istiadat, justru membutakan mata hati nurani seseorang. Kemanusiaan direndahkan, golongan lain disikat, yang lemah ditindas, semua atas dalil hukum, tradisi atau kebiasaan.  Ini menjijikan!

Kebutaan Rohani

Bentuk pemujaan berlebihan pada aturan adat istiadat kita sebut fundamentalisme. Dalam bacaan kitab suci hari ini, pangkal dari fundamentalisme seperti itu ialah kebutahan rohani.

Orang Farisi adalah kelompok radikalnya masyarakat Yahudi. Mereka berpegang teguh pada tradisi dan menjadi lebih fundamentalis.

Dalam kisah penyembuhan orang yang buta sejak lahir (Injil Lukas 9:1-41) tampak sekali kebutaan kelompok Farisi ini yaitu.

  • Cara pandang mereka terhadap orang buta sangat diskriminatif. Orang lahir buta disebabkan oleh dosa orangtua. “Engkau ini lahir sama sekali dalam dosa ! dan hendak mengajar kami?”(ay 34). Cara pandang seperti ini masih terpelihara sampai sekarang. Secara nyata dialami oleh kelompok difabel (orang berkebutuhan khusus). Mereka terdiskriminasi baik secara persepsi sosial maupun kebijakan-kebijakan dan perlakuan sosial.
  • Aturan pada hari sabat sebagai hari istrahat berlaku juga untuk semua tindakan yang baik. Hari sabat dan hari tradisi keagamaan dirayakan sampai melarang orang untuk berbuat baik.
  • Tidak menerima kebenaran bahwa Yesus memelekan mata orang buta. Bahkan orang buta sendiri bersaksi, mereka tetap tidak percaya.

Kebutahan rohani ini menyebabkan mereka tidak mampu melihat kebenaran. Mereka tidak melihat kebenaran karena tradisi dan adat istiadat justru menjadi Tuhan atas mereka.

Mereka hanya menemukan bahwa Tuhan itu sekumpulan dogma, hukum dan aturan keagamaan. Karena itu juga tak ada cinta kasih dan belaskasih yang mana melukiskan sikap Allah yang maharahim dan Maha Kuasa dalam relasi antar sesama manusia.

Jika kebutaan rohani ini menguasai kita, kita tidak lagi mampu berbuat kasih, hidup bersama dalam perbedaan dan memaafkan yang bersalah kepada kita. Inilah yang paling membahayakan!

Orang bisa saja melihat tetapi jika ia buta hati nurani dan rohaninya, ia tidak mampu melihat kekurangan dirinya sendiri tetapi ia pandai memutarbalikan kata, bersilat lidah demi tujuan dan ambisinya. Ia hidup tanpa nurani. Ia melihat tetapi tak meresap ke hatinya. Ia hidup tanpa berefleksi tetapi penuh ambisi menaklukan orang lain.

Melihat Tuhan

Menarik sekali pada poin ini kedua Bacaan ini menyodorkan bahwa bukan kaum cendikiawan atau kaum elit seperti kaum Farisi yang menemukan hikmat dan kebahagian akan Tuhan, tetapi kelompok kecil, lemah dan tertindas.

  • Mikha mengisahkan orang beriman yang dijepit musuh tetapi ia mengandalkan Tuhan. Disini orang benar yang ditindas musuh ialah mereka yang dibenci karena berbuat benar. Memang bertindak benar dan baik selalu mendatangkan musuh dan ketidaksukaan lawan.   Tetapi jikalau orang beriman memperjuangkan kebenaran, maka janganlah takut! Ia harus berseru kepada Tuhan dan Tuhanlah yang menyelamatkannya.
  • Begitu juga, orang buta yang dianggap berdosa justru terbuka hati nuraninya dan melihat Tuhan. Ia berjumpa dengan Tuhan dan mengalami pengalaman berahmat. Pengalaman dimelekan ini membuat ia bersyukur dan bersaksi akan Yesus tanpa takut.
  • Kesembuhan orang buta ini mengajak kita merenungkan bahwa kesempurnaan fisik akan tidak berarti jika hati dan nurani kita menjadi buta.

Oleh karena itu, pesan utama kedua bacaan ini ialah kita diajak berpegang teguh pada Tuhan walaupun kita menderita dan mengalami persoalan.

Selain itu, kita harus percaya, Allahlah yang memberi kesembuhan pada persoalan hidup kita. Ia Allah yang peduli dan maharahim. Ia mengundang kita untuk melihat karya-karyaNya.

Kemudiaan kita mampu melihat Tuhan jika ketika mata rohani kita terbuka. Kita melihat Tuhan hanya ketika kita mampu menjadi bagian dari sesama yang menderita dan berkerungan.

Kita melihat Tuhan hanya jika kita mampu mengutamakan kasih di atas segala-galanya.

Renungkan sejenak

Mari kita melihat Tuhan, mari kita kembangkan cinta kasih dan kepekaan hati nurani kita. Sebab orang yang hidup tanpa hati nurani adalah orang yang buta.

  • Sejauhmana kepekaan kita pada orang lain yang hidup disekitar kita? Apakah kita sering menuruti suara kebenaran dalam lubuk hati kita?
  • Bagaimana kita memperlakukan hukum, tradisi dan istiadat dalam hidup kita?  Apa yang kita lakukan jika kebenaran tidak sejalan dengan tradisi dan kebiasaan yang ketat di sekitar kita?

2 KOMENTAR

  1. Amin Pastor, Terima kasih..
    Kesombongan Rohani seolah menjadi milik orang-orang yang mengaku beragama. Merasa diri suci dengan seluruh aktivitas rohani yang dilakukanya, menyebabkan mereka merendahkan orang lain yang tidak sepaham atau sealiran. Ritual adanya upacara upacara keagamaan dijunjung tinggi namunengesampingkan ha yang paling penting dan fundamental dalam hidup beragama dan bermasyarakat yakni Cinta kasih, perdamaian dan kerukunan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here