Tahun 1932, oleh misionaris MSF, pusat Misi Katolik di Laham dipindahkan ke Kampung Tering. Pemindahan ini berdasarkan studi dan kajian strategis misi. Salah satu alasan dasar pemindahan itu adalah kampung Tering lebih strategis untuk mengembangkan misi Katolik di Kalimantan dan mobilitas pergerakan para misionaris.

Berbagai sentra pembangunan iman dan umat dilakukan di Kampung yang didiami Suku Bahau ini. Sekolah dan Rumah Sakit di Bangun. Begitu juga Sekolah Bengkel kayu, yang digawangi Br. Longginus MSF dan Br Janmaat MSF yang kemudian jadi pastor, untuk mendidik umat menjadi tukang bangunan yang handal, didirikan.

Tering tempo itu menjadi ramai. Banyak anak-anak dari hulu bersekolah di Tering, begitu juga terkait kesehatan masyarakat. Memori kejayaan itu masih lekat pada generasi 60-70 an. Tering terbit bagai fajar diufuk Timur.

Namun kenyataan seperti itu kini tinggal kenangan. Tidak ada lagi Rumah sakit. Sekolah yang dulu terkenal, mulai redup. Sekolah perbengkelan kayu dipindahkan ke Barong, namun situasinya juga sulit eksis. 

Faktor alam mempengaruhi perubahan. Teori seleksi alam barangkali relevan dikutip, bahwa alam menentukan ekosistemnya. Setiap tahun, Kampung Tering yang dulu menjadi “pusat misi” digerus oleh Sungai Mahakam. Gereja Katolik Paroki Keluarga Suci Tering yang terbuat dari Kayu Ulin, di Tering Lama, Tengah kini hanya berjarak 100 meter dari tepi Sungai Mahakam.

Secara historis, banjir besar pernah terjadi tahun 2005 yang membuat masyarakat Tering mengungsi ke seberang. Banjir menjadi “endemik” setiap tahun, sejak tahun 1970-an ketika tambang dan perkebunan masuk ke sekitar Daerah Aliran Sungai Mahakam. Sekarang jumlah perusahan di Kutai Barat ada 400-an perusan tambang dan perkebunan, banyak tersebar di sekitar Sungai Mahakam.

Baca Juga Kronik : Dari Eropa dan Manila

Begitu juga sarana olahraga seperti lapangan sepak bola, lapangan bola volly ditutup oleh humus banjir dan semak blukar yang tumbuh subur. 

Karena banjir dan longsor, satu persatu orang-orang Tering bersama keluarganya mulai pindah ke kampung lain, seperti Bigung atau di seberang Sungai Mahakam. Sebab banjir selalu menilap kampung ini 7 sampai 10 kali setiap tahun dan warga kampung tak berdaya. 

Meskipun demikian, yang tidak bisa dirampas oleh seleksi alam adalah kesenian manusianya. Tering menyimpan banyak seni. Tari-tariannya yang mistis, tarian Hudoq, tarian perjalanan arwah, tarian menanam padi, masih dijaga kuat hingga kini. Ada dua Lamin (Rumah Panjang) tempat pertemuan adat dan kebudayaan yang menjadi pusat aktivitas budaya dan sosial masyarakatnya.

Baca Juga : Jejek-Jejak Misioner : Penabuh Lonceng Misioner di Kalimantan Tengah

Seni ukir, Tatoo dan pematung tetap dijaga tetapi belum nampak pewarisan antar generasi seni ini secara baik melalui kelompok atau asosiasi Seniman, melainkan masih sebatas karya individu atau solo karier.

Gereja Katolik yang terbuat dari Kayu Ulin, menjadi daya tarik tersendiri. Banyak wisatawan asing mengunjungi Gereja ini. Dibagian interior Gereja, 8 Tiang utama yang kokoh kuat diukir kisah Penyelamatan Allah dalam perjanjian lama. Umat setempat mengisahkan perjuangan mereka mendatangkan kayu ulin dan mendirikan Gereja ini dengan kekompakan yang luar biasa. 

Salah satu kisah menarik terkait Pembangunan Gereja Katolik ini, yang diingat oleh Pater Herman Stalhacke MSF ialah Br Longginus hampir dibunuh oleh orang bugis, karena dikira dibawah tiang Gabura Gereja ada kepala seorang anak bugis, ternyata anak itu mati karena tenggelam.

Berbeda sekali dengan situasi kampung di seberangnya. Kampung seberang lebih terlihat “maju” secara fisik dalam arti bangunan dan dinamika ekonomi penduduknya. Toko-toko besar dan pasar ada di seberang.

Beberapa orang yang berdiskusi dengan penulis terkait situasi kampung misi ini yang sudah berusia 600 tahun, memiliki pendapat yang berbeda-beda.

Ada yang membicarakan suatu keadaan yang mencerahkan di masa mendatang, melalui harapan-harapan politik seperti pembangunan Jembatan atau pembangunan tanggul pembatas di bantaran sungai Mahakam. Meskipun dalam kenyataannya hanyalah harapan dalam kabut.

Ada juga yang memilih untuk tidak memandang ke depan, membiarkan keadaan yang nantinya juga longsor dan banjir memberikan pilihan untuk penduduk setempat apakah memilih bertahan atau harus pergi?

Secara politis, terlihat putusnya rantai kaderisasi tokoh kepemimpinan baik dalam Gereja maupun di tengah masyarakat Kubar. Didalam Gereja, rentang 30 tahun baru muncul satu pastor dari Tering. Di lingkup sosial politik, tokoh politik dari Tering masih didominasi oleh generasi jaman keemasan, Tering. Tokoh muda dari Tering tampak tak terlihat dalam kancah perpolitikan di Kutai Barat. Regenarasi kepemimpinan di kalangan orang muda sayup-sayup dan remang yang hampir sirna.

Itulah situasi Kampung Misi, Tering. Sebuah solusi untuk menyemangati Kampung misi ini perlu menjadi perhatian dari banyak segi, iman, ekonomi, dan militansi masyarakat. Untuk itu perlu kerjasama masyarakat dan Gereja. Kolaborasi adat dan kebiasaan iman Gereja perlu menjadi “api penyemangat” untuk menggerakan Kampung misi ini. Generasi muda perlu disadari kembali agar muncul tekat yang kuat, mengabdi untuk kepentingan banyak orang.

Penulis sendiri berimajinasi. Tahun 2014 saya pernah menceritakan imajinasi saya ini pada seorang pemuda di Kampung Tering yaitu, mempercantik kampung tua dengan dandanan modern dan eksotik kulturnya. Aplikasinya yaitu : Di Tering diadakan festifal balapan perahu yang didekor warna warni, rumah-rumah penduduknya di cat warna warni, lalu tarian-tarian, ukiran dan lukisan dipertunjukan. Satu lagi, semangat kristianitasnya perlu dihidupi lagi. Tering adalah Katolik. 

Dari Tering, masih tersimpan harapan. Jika tidak apakah hanya dongeng tentang suatu kejayaan pada masa lampau yang disapu derasnya aliran Sungai Mahakam? Sungai Mahakam memang keras dan deras alirannya, tetapi semangat perjuangngan juga harus keras.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here