Seutas senyum tampak selalu menghiasi wajah dan menyertai setiap kata yang diucapkannya. Seperti tak kenal sedih, aura keceriahan terpancar darinya.

Pastor Josef Richard Mohr, MSF, pemilik senyum dan keceriahan itu. Sehari-hari ia berpenampilan sederhana. Sedikit kata-kata yang meluncur dari bibirnya namun berhikmat.

Siapa sangka, dibalik senyum, keceriahan dan kesederhanaannya, beliau menyimpan banyak tantangan, perjuangan dan kisah menarik lainnya sebagai seorang misionaris di Kalimantan.

Negeri kelahirannya ia tinggalkan demi sebuah perutusan yang diimpikannya sejak kecil.Tidak ada raut penyesalan yang tergurat dari wajahnya akan setiap kenangan yang tertoreh di tanah misi. Tak ada pula keluhan dari mulutnya akan karya misi bagi orang yang bukan sebangsanya. Apapun situasinya, ia menikmati indahnya menjadi seorang utusan Tuhan di tanah Borneo.

“Saya betah dan ingin mati di tanah Kalimantan,” katanya dengan mantap ketika merayakan 60 tahun berkarya di Kalimantan. Separuh waktu hidupnya, ia habiskan di negeri ini untuk menabuh lonceng misi di daerah pedalaman. Kini gema lonceng tersebut masih berdentang lantang.

Lonceng Yang Terputus

Menjadi seorang misionaris merupakan sebuah impian masa kecil Josef, begitu sapaannya dalam keluarga. Benih panggilan mulai bersemi dalam dirinya seiring dengan bertambah usia. Benih itu dipupuk dan dirawat melalui keterlibatannya dalam kegiatan Misdinar pada usia remaja.

Ia tidak melewatkan waktu remaja berlalu begitu saja. Bersama teman-teman sebaya, melayani imam di altar adalah kebanggaan bagi Josef. Orang tua sangat mendukung keaktifannya dalam hidup menggereja.

“Sejak kecil saya ingin menjadi misionaris untuk melayani orang-orang di pedalaman Amerika maupun Asia,” kisah pria kelahiran Freigericht-Franken-Jerman 15 Maret 1937 ini.

Entah alasan apa yang ada dalam benak Josef, hanya dia dan Tuhan yang tahu. Namun ada getaran rindu yang besar untuk berada bersama dengan suku-suku tradisional.

Hidupnya memang tidak jauh-jauh dari Gereja. Orang tua sangat mendukung dia untuk menjadi seorang imam misionaris. Namun keuslian seorang anak remaja juga tidak bisa dihindar pada masanya. Ada sebuah peristiwa usil yang paling berkesan dan hal itu justru memantik gaung nyali misionernya.

Baca juga :

“Di gereja Paroki, ada empat lonceng. Agar bisa berbunyi, lonceng-lonceng itu ditarik dengan tali. Suatu ketika, saya menarik-narik tali sebuah lonceng. Ternyata tali itu putus dan buah lonceng terjatuh,” kenangnya.

Bagai sebuah pertanda, buah lonceng yang terlepas itu harus disambung kembali agar bisa berdentang kencang memanggil umat. Lonceng gereja ada adalah salah satu alat atau prasarana liturgi untuk memanggil umat untuk berdoa. Lonceng juga mengingatkan istilah gereja sendiri dari bahasa Yunani ekklesia yang berarti panggilan untuk berhimpun.

Orang Katolik percaya bahwa suara lonceng adalah suara panggilan dari Tuhan untuk berkumpul atau membentuk jemaat yang disebut Gereja untuk beribadah kepada-Nya.“Kejadian itu (lonceng yang terlepas) malah membuat saya ingin menjadi misionaris,” ujar imam yang murah senyum ini.

Terlahir dari sebuah keluarga yang sederhana, Josef taat pada aturan dan nasihat orang tua yang sangat memperhatian kehidupan rohani semua anak. Hari Minggu adalah hari Tuhan dan wajib hukumnya untuk pergi ke gereja. Orang tua menerapkan aturan yang disiplin untuk membentuk dan menanamkan nilai-nilai Kristiani.

“Bapak saya dulu bekerja di sebuah perusahan Kereta Api, namun setelah itu dia berhenti dan bekerja sebagai petani, sambil menggembalakan beberapa sapi. Ibu saya seorang petani juga yang pandai mengurus rumah tangga. Mereka disiplin mendidik kami,” cerita pria kelahiran Freigericht-Franken-Jerman 15 Maret 1937 ini.

Freigericht adalah sebuah kampung di daerah Franken negara bagian Herssen, Jerman. Penduduk di kampung ini mayoritas beragama Katolik. Freigericht menjadi seperti ‘sebuah pulau’ yang dikelilingi oleh orang-orang Protestan. Di tempat inilah, martir pertama Jerman, St. Bonifasio dikuburkan. Setiap tahun, banyak peziarah datang mengunjungi makam tersebut. Dengan demikian, Kekatolikan di daerah ini sangat kental.

Kedisiplinan dalam membentuk dan mendidik anak yang ditunjukkan oleh orang tua membuahkan hasil. Kelak, dua orang anak membaktikan diri bagi Tuhan; Josef Mohr menjadi imam pada Kongregasi para Misionaris Keluarga Kudus (MSF). Ia mengikuti jejak kakak sulungnya, Sensi, yang menjadi seorang biarawati dengan nama biara, Sr. Cresentia, MASF.

Bersambung ke Part II

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here