Pada waktu awal pelayanannya di Pangkalan Bun, belum ada guru agama khusus. Pelayanan di kampung-kampung dilakukan oleh Pastor dalam kurun waktu 4 bulan sekali.


Namun demikian di setiap Stasi, umat sudah mengorganisir diri sedemikian rupa, dimana mereka sudah memiliki Pengurus Stasi (ketua, wakil, bendahara dan sekretaris Stasi). Mereka juga yang bertugas melayani umat. Setiap hari Minggu, umat berkumpul dan berdoa. Ada juga pemimpin wilayah yang bertugas memberikan bimbingan ke Stasi-stasi.
“Saya juga mudik melalui sungai Belantikan dan Bulik, Sukamara dan kampong-kampung sekitar untuk turne,” tegasnya.

Hidup umat begitu sederhana. Pastor Mohr tidak menuntut atau berekspektasi terlalu tinggi soal bagaimana menjadi Katolik. Baginya, pelayanan pastoral yang murah hati dan sungguh-sungguh adalah benih yang bisa menggerakan umat. Yang terpenting baginya adalah membekali para pengurus Stasi dengan pengetahuan agama Katolik, menyediakan buku-buku penunjang agar mereka juga semakin kreatif dalam melayani umat.

“Namun demikian, tidak semua berjalan mulus. Di sungai Toat, misalnya, ada umat Katolik yang bernama Enseng, seorang guru agama, akhirnya pindah agama ke Saksi Yehova. Umat yang lain sempat terguncang dengan peristiwa itu,” kenangnya.

Pastor Mohr terus mendampingi umat-Nya. Kehilangan seorang tidak membuat nyali misionernya padam. Berbagai usaha terus dilakukan sehingga banyak orang umat dibaptis dari waktu ke waktu.

Baca Juga:Bermisi ke Kalimantan (Part II)

“Untuk pemimpin umat, saya juga melakukan berbagai usaha. Setelah ada Katekis, seperti pak Parman dan Pak Wahyono, kami secara teratur membuat pelatihan bagi para pemimpin umat di daerah sungai-sungai. Pemimpin dan pengajar berkumpul di salah satu stasi di satu anak sungai, seperti Delang, Bulik untuk belajar bersama tentang hidup menggereja,” ceritanya.

Meski di pedalaman, tuturnya, Pastor Mohr mendapat kunjungan dari Vikjen dan Uskup, Mgr. Demarteau, MSF. Mereka harus bermalam di balai kampung dan terkurung di perahu selama dalam perjalanan. Tentu saja bukan hal mudah bagi mereka. Melewati sungai-sungai dengan riam-riam adalah tantangan yang dihadapi oleh seorang misionaris. Kunjungan ini sangat berarti bagi pastor Mohr dan bagi umat. Itulah bentuk perhatian dari pimpinan terhadap bawahannya.

Masyarakat di kampung-kampung hidup secara tradisional dengan pola bertani berpindah-pindah dan memperoleh hasil dari lahan garapan. Kondisi masyarakat yang demikian adalah impian Pastor Mohr waktu kecil. Ia senang berada di tengah-tengah masyarakat tradisional untuk berjuang dalam tarikan kesederhanaan.
“Saya masih ingat, kami pernah membawa bibit kedelai ke Tamiang Layang dan umat membuat kebun di kampung. Saya masih ingat, kedelai itu tumbuh dengan baik,” tandasnya.

Baca Juga :

Pastor Mohr juga mengisahkan. Dalam pergaulan dengan seorang Komandan KODIM, mereka mencari transmigrasi dari Jawa yang dapat menjadi contoh bagi masyarakat setempat dalam hal bertani dengan pola yang lebih baik dan lebih maju.


“Kami menempatkan dua keluarga di lima kampung. Keluarga ini menjadi contoh dan ragi bagi bagi masyarakat yang ada di kampung-kampung itu,” tuturnya.


Pelayanan Misioner Pastor Mohr juga dibantu oleh sang kaka yang juga adalah seorang biarawati, Sr. Clementia, MASF. Atas izin dari Dewan Jenderal MASF di Roma, Sr. Clementia membantu Pastor Mohr dalam tugas pelayanan, mengingat ia seorang diri.

“Bersama Sr. Sensi (Clementia), MASF, kakak saya, dan orang dari GKE, kami membuka SMP ABDI di Pangkalan Bun. Kami membangun sekolah dan asrama di kota Pangkalan Bun. Asrama didirikan untuk anak laki-laki di Tembalu disertai dengan praktek pertanian. Sedangkan asrama Putri berada di lingkungan Paroki. Mereka juga mendapat keterampilan seperti memasak, menjahit melalui keterlibatan dalam kegiatan PKK. Pelajaran keterampilan untuk putra dan putri juga diberikan di sekolah yang didirikan tersebut,” cerita Beppo.

Gema Lonceng di Senja Temaram
Pada tahun 1981, Pastor Josef Mohr dipindahkan ke Paroki Sampit, Kotawaringin Timur. Adalah rekan misionaris dari Jerman, P. Herman Stahlhacke, MSF menggantikannya di Paroki Pangkalan Bun. Dari Paroki Sampit, Ia mendapat tugas di Paroki Buntok, kemudian ke Paroki Patas. Selama bertugas di Paroki Patas, Pastor Mohr juga membantu mengembangkan PLP (Pusat Latihan Pertanian) di Putai Idi Ampah. Dari Patas, ia menghabiskan masa-masa pelayanannya di Paroki Tamiang Layang Keuskupan Palangka Raya.

Pastor Josef Mohr menghabiskan masa tuanya di Wisma Simeon Banjarbaru Kalimantan Selatan, Keuskupan Banjarmasin. Pada pertengahan tahun 2019, beliau mengambil cuti di tanah airnya, Jerman sekaligus untuk menjalani proses pengobatan.

Tak ada yang sia-sia dari sebuah pelayanan. Lonceng yang ia tabuhkan masih terus menggema dan menjangkau semakin banyak orang. Gaungnya nyaring menerobos riam-riam dan meliuk-liuk bersama aliran sungai-sungai di Kalimantan Tengah untuk mengabarkan kabar gembira bagi orang-orang ‘yang masih jauh’. Kini lonceng itu masih tetap bergema di saat senja temaram menghinggap pada diri Misionaris Jerman ini. Bagaimanapun juga, mereka yang terbangun oleh dentang lonceng yang ditabuhkan, telah menorehkan catatan manis bersama Beppo, sang penabuh lonceng itu.*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here