Setahun berkarya di Palangka Raya, Pastor Mohr mengepakkan sayap misi ke Pangkalan Bun. Jumlah umat Katolik di daerah itu belum terlalu banyak. Belum ada pula bangunan Pastoran. Yang ada waktu itu adalah sebuah bangunan gereja berukuran 16×18 m2.

Ia tiba di Pangkalan Bun pada tanggal 7 April 1965, dengan menumpang kapal ‘Duku’.“Di Pangkalan Bun, untuk sementara saya tinggal di Sakristi gereja selama kurang lebih dua bulan karena belum ada Pastoran. Saya harus menyelesaikan gedung gereja lebih dahulu,” kenangnya.

Pangkalan Bun waktu itu menjadi salah satu stasi dari Paroki Joan Don Bosco Sampit. Sejak bulan Februari 1947, Pangkalan Bun dikunjungi pertama kali oleh Pastor H. Nienhuis MSF, seorang Pastor tentara KNIL, yang kala itu menjabat sebagai Vikjen Banjarmasin. Pada kesempatan berikutnya, Mgr. Demarteau MSF meminta Pastor Johannes Zoetbier MSF mengadakan penjajagan kembali ke Pangkalan Bun pada bulan Maret 1955.

Setelah memantau lebih lanjut, dalam kurun delapan tahun sesudahnya, tepatnya pada tanggal 7 April 1963, sekelompok kecil umat Katolik di kota ini membentuk sebuah kepanitiaan untuk memulai pembangunan sebuah gedung gereja yang diketuai oleh RF Sumarjo – seorang komandan polisi, yang juga rela menyumbangkan sebidang tanah miliknya untuk mendirikan bangunan tersebut. Pada saat itu, jumlah umat katolik di Pangkalan Bun hanya 13 orang saja. Pada tahun 1964, Pastor Frans Jahn, MSF yang bertugas sebagai Pastor Paroki Sampit mengadakan tiga kali kunjungan ke Pangkalan Bun sekaligus mempersiapkan Pangkalan Bun sebagai calon Paroki.

Saat kedatangannya, Pastor Mohr MSF ditunjuk sebagai Pastor Paroki Pangkalan Bun. Ia melanjutkan tugas pembangunan gedung gereja dan mempercayakan pembangunan Pastoran kepada Haji Jamal, yang diselesaikannya pada tahun 1965.

“Saya berjuang dari nol untuk memulai perkembangan Katolik di daerah ini. Tapi ada banyak pihak yang membantu saya. Ada orang Protestan, ada orang Islam yang membantu. Saya senang karena orang Dayak membuka diri dan sangat menerima kehadiran saya,” kisah Beppo.

Misi ke Pedalaman

Gema lonceng itu terdengar hingga ke pedalaman. Kehadiran Pastor Mohr di Pangkalan Bun membangitkan semangat beberapa keluarga dan warga keturunan Tionghoa untuk belajar agama katolik, sehingga pada perayaan natal tercatat telah dipermandikan 20 orang sebagai anggota Gereja Katolik.

Sayap misi terus ia kepakkan. Menjelang natal tahun 1965, Pastor Mohr, MSF mengawali kunjungan pastoralnya ke daerah pedalaman antara lain Nanga Bulik, Kudangan., Sungai Tuat Kec. Lamandau dan desa-desa sekitarnya.

Baca Juga

Pada tahun 1966, keberadaan Gereja Katolik di Pangkalan Bun semakin dikenal melalui keterlibatan aktif beberapa umat pioneer yang sekaligus mendapat kepercayaan dari Pastor Mohr sebagai penghubung, pendamping dan teman bila Pastor Mohr mengadakan perjalanan ke pedalaman. Mereka adalah bapak Rojan dari desa Panyombaan, bapak Kian dan Kalas dari Kudangan, Bapak Ensey dan Rian di Sungai Tuat, Kecamatan Lamandau.

Sayap misi semakin berkembang. Tidak hanya umat Katolik, Pastor Mohr juga melibatkan berbagai pihak. Pada tahun 1967, bersama dengan Pendeta Tarang dari Gereja Prostetan, mereka mengunjungi daerah pedalaman Sungai Arut wilayah Kecamatan Arut Utara, dari Pangkut, Gandis, Kerabu, Penyombaan, Pandau dan Panahan. Perjalanan itu dimaksudkan untuk mengenal wilayah kerja. Pada tahun yang sama, Pastor Mohr mengajak seorang pedagang bernama King Wha untuk mengadakan kunjungan ke Belantikan, Nanga Matu dan Karang Besi Kecamatan Lamandau.

Perjuangan panjang dan melelahkan di wilayah Lamandau tidaklah sia-sia. Pada tahun 1968, di Sungai Buluh telah dibangun sebuah Kapel dari sumber dana swadaya umat yang dipelopori oleh tokoh umat Bapak Inus Putung dan seorang pedagang yang bernama Oeng Swi Tjong yang bertindak sebagai pelaksana pembangunan. Daerah ini juga menjadi pelopor perkembangan Gereja Katolik di daerah pedalaman wilayah Pangkalan Bun.

Pada pertengahan tahun 1968, Paroki Pangkalan Bun menerima penambahan umat Katolik melalui program transmigrasi dari Yayasan Sosial Soegiyopranoto Semarang. Pada saat yang sama, Pastor Mohr, MSF menjalani cuti ke negeri asalnya, Jerman sekaligus untuk pengobatan selama dua tahun. Dalam kurun waktu tersebut, Pastor Jahn, MSF membantu pelayanan di Pangkalan Bun.

Umat terus berkembang. Pada Januari 1969, untuk pertama kalinya umat Katolik di pedalaman mengadakan pertemuan di Kapel di desa Sungai Buluh, kecamatan Lamandau. Berita mengenai kabar gembira Injil berkembang terus memasuki wilayah kecamatan Bulik. Maka Pada tahun 1970, setelah kembali dari negeri Jerman, Pastor Mohr mengadakan kunjungan ke wilayah Kecamatan Bulik yaitu desa Sungkup, Batu Tunggal dan desa Toka.

Lonceng misi yang ditabuhkan oleh Pastor Mohr berdentang keras memanggil orang yang masih ‘jauh’ untuk mendekatkan diri pada Tuhan. Jumlah perkembangan orang Katolik di wilayah Kecamatan Bulik meningkat drastis. Maka pada tahun 1971, Pastor Mohr mengangkat Bapak Mardiun sebagai Katekis Pertama untuk wilayah kecamatan Bulik.

Layar misi terus berkembang. Pada tahun yang sama, pemerintah Daerah meminta Pastor Mohr untuk mengunjungi umat di desa Dawak, kecamatan Sukamara dimana terdapat sekitar 100 anggota transmigran beragama Katolik. Pada waktu itu juga, ia mengangkat bapak Mardiutomo sebagai ketua umat dan sekaligus dipercaya untuk mengkoordinir pembangunan gereja di Sedawak dengan nama pelindung Santo Yosef.

Bersambung ke Part IV

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here