Setelah menamatkan Sekolah Dasar di Freigericht, Josef sempat melanjutkan pendidikan ke Seminari Keuskupan Fulda Jerman. Namun kisah ‘lonceng yang terputus’ mengingatkan dia akan suara misioner yang berdentang dalam sanubarinya belum usai.


Akhirnya ia memutuskan untuk melanjutkan pendidikannya di Sekolah Misi “Lieben Haan” MSF pada tahun 1954. Pendidikan di Sekolah ini ia tempuh dalam waktu satu setengah tahun.

Di Sekolah Misi MSF ini, ada sekitar 60-an siswa waktu itu. Dari jumlah tersebut, empat orang memiliki nama panggilan yang sama, Josef. Tentu hal ini tidak hanya membingungkan keempat anak ini, tetapi juga teman-teman dan para pembina. Oleh karena itu, Preases Sekolah Misi Leiben Haan memutuskan untuk memberikan nama panggilan baru kepada keempat anak yang bernama Josef, yaitu Seph, Yup, Yosef dan Beppo. Josef R. Mohr, mendapat nama panggilan Beppo (sebuatan untuk Josef dalam bahasa Italia). Sejak saat itu, Beppo menjadi identitas diri.

Pada pertengahan tahun 1956, Beppo memasuki masa Novisiat yang ditandai dengan penerimaan jubah (busana biara) dalam Tarekat MSF bersama ke-10 teman yang lain. “Waktu itu saya berusia 19 tahun,” kisah pemilik tinggi badan 185 cm ini.

Baca Juga: Jejak-Jejak Misioner : Merintis Misi di Pangkalan Bun (Part III)

Selama satu tahun ia menjalani masa Novisiat. Pada 10 Agustus 1957, ia mengikrarkan kaul pertama dan resmi menjadi Frater Skolastikat MSF. Frater Beppo bersama teman-teman menjalani pendidikan selama 6 tahun di Skolastikat. Pada masa itu, para Skolastik bisa memilih: mengambil semua mata kuliah atau sebagian. Beppo memilih untuk mengambil beberapa mata kuliah sehingga tidak perlu mengikuti ujian negara.“Karena saya ingin menjadi misionaris,” tegasnya.

Akhirnya, Frater Beppo menerima tahbisan imamat pada tanggal 28 Juni 1963 di Skolastikat MSF Ravengiersburg Jerman. Enam rekan imam baru yang ditahbisakan bersamanya mendapat tugas sebagai misionaris di Brasil, satu menjadi Ekonom Propinsi di Jerman dan P. Josef Richard ‘Beppo’ Mohr, MSF mendapat pembenuman sebagai Misionaris di Kalimantan.

Impian Yang Terwujud

‘Lonceng yang terputus itu telah ia sambung dan ia tabuhkan.’ Lengkingan gaung suara terdengar hingga ke Kalimantan. P. Mohr siap dibenum di Kalimantan untuk menggaungkan bunyi lonceng kepada orang ‘yang masih’ jauh, sebagaiman tujuan perutusan pendiri Tarekat MSF.

Di Kalimantan, waktu itu, situasinya belum stabil. Sisa-sisa kolonialisme Belanda masih terasa. Sejarah mencatat bahwa pada zaman penjajahan Belanda wilayah Kalimantan Tengah dan Selatan pernah menjadi kawasan ‘terlarang’ bagi kegiatan para missionaris Katolik dari negara-negara Eropa. Ada pembagian jelas antara Kalimantan Tengah-Selatan sebagai wilayah pelayanan missionaris Protestan (Zending), sedangkan Kalimantan Timur dan Barat sebagai wilayah karya missionaris Katolik.

Pater Josep Mohr MSF

Baca Juga :

Alhasil, perkembangan kekatolikan di wilayah Kalteng-Kalsel sempat terhambat. Namun, tidak ada kata terlambat bagi sebuah usaha demi kemuliaan Tuhan dan keselamatan manusia.

Setelah Indonesia merdeka, para Missionaris asal Belanda bebas berkarya di Kalsel-Kalteng, tetapi misionaris baru mendapat hambatan untuk izin masuk Indonesia. Situasi tersebut menjadi perhatian Kongregasi MSF. Perlu ada misionaris ke daerah Kalimantan. Maka, Jenderal MSF waktu itu, P. Bliestle, MSF meminta MSF Propinsi Jerman untuk menyiapkan calon-calon misionaris ke Indonesia demi memperkuat barisan para misionaris Eropa yang sudah ada di wilayah Kalimantan. Pastor Josef Richard ‘Beppo’ Mohr, MSF telah bersedia menjadi misionaris.

Kesediaan Pastor Mohr diperkuat lagi oleh kesediaan seorang rekan imam yang telah lebih dahulu ditahbiskan dan sedang melanjutkan Studi di Universitas Bonn, Pastor Herman Josef Stahlhacke, MSF untuk menjadi misionaris di Kalimantan. Sebagai persiapan, kedua imam muda ini dikirim pada akhir 1963 untuk mengikuti kursus singkat mengenai pengobatan khusus daerah tropis di Basel-Swiss. Setelah kursus, P. Mohr lebih dahulu menuju Indonesia. Berlayar mengarungi Lautan dari Genoa Italia, akhirnya ia tiba di Jakarta pada Februari 1964. Ia melanjutkan perjalanan menuju Kalimantan.

“Pada awalnya saya bertugas di paroki Tering, Hulu Sungai Mahakam Keuskupan Samarinda, sekitar satu bulan,” kenangnya.

Situasi pergolakan pasca kemerdekaan Republik Indonesia masih kental. Pembagian wilayah penyebaran Kekristenan masih berpengaruh juga. Maka untuk mempermudah proses komunikasi dan efektifitas pelayanan, Pater Jenderal MSF meminta para misionaris Jerman untuk berkarya di daerah Kalteng-Kalsel. Dengan demikian, P. Mohr dipindahkan dari Paroki tering ke Keuskupan Banjarmasin dengan alasan agar para Misionaris Jerman berada dalam satu Keuskupan.

Uskup Banjarmasin waktu itu, Mgr. Wilhelmus Demarteau, MSF menempatkan Pastor Mohr di Palangka Raya bersama teman Jerman Pastor Karl Klein, MSF, pada tahun 1964. Kehadiran Missionaris Jerman ini memperkuat tenaga misionaris Jerman yang sudah datang ke Kalteng yakni Pastor Friederich Franz MSF, Pastor Franz Jahn MSF, Pastor Karl Klein MSF. Belakangan, datang para misionaris Jerman lainnya yakni Pater Willibald Pfeuffer MSF, Pater Herman Stahlhacke MSF dan Pater Heinz Ströh MSF.

“Saya bertugas sebagai pastor Turne; mengunjungi umat di daerah-daerah pedalaman. Sungai, bahasa serta masyarakat yang baru saya jumpai adalah hal-hal yang terasa asing,” kenangnya.

Paroki Santa Perawan Maria Palangka, waktu itu, baru diresmikan pada tanggal 1 Maret 1963. Pastor Karl Klein, MSF menjadi Pastor Paroki pertama. Dengan demikian, setahun kemudian, ketika P. Mohr bertugas di paroki tersebut, jumlah umat belum terlalu banyak, sekitar 150 jiwa.

Sebelum diresmikan sebagai Paroki, sudah ada beberapa umat Katolik yang menetap di Palangka Raya, di antaranya adalah keluarga bapak Tjilik Riwut, mantan Gubernur Kalimantan Tengah yang pertama. Seiring dengan perpindahan kantor-kantor pemerintahan ke Palangka raya (dari kota Banjarmasin), banyak pegawai Katolik menetap di Palangka Raya. Jumlah umat Katolik bertambah pula.

Sebagai Paroki yang baru terbentuk, Pastor Klein memusatkan perhatiannya di pusat paroki. Ia ingin membangun Paroki dari kota. Maka selain pelayanan pastoral, ia juga mulai mendirikan sekolah-sekolah Katolik yang kini berada dalam bendera Yayasan Siswarta Palangka Raya. Sementara itu, jiwa misionaris P. Mohr mengajak dia untuk mengadakan turne (kunjungan) ke kampung-kampung atau stasi-stasi, di antaranya; kuala Kurun, Pilang dan Kuala Kapuas.

“Pada waktu itu, bersama dengan seorang Dokter Katolik, saya pergi ke Hulu Kahayan menggunakan kapal ‘Berita Selamat.’ Sampai di Kuala Kurun, Dokter mengobati orang di kampung dan saya menemui 3 Keluarga Katolik di Kuala Kurun. Di hilir, kami mengunjungi kampung lain, seperti Pilang dan Kuala Kapuas. Di tempat lain lagi, tidak ada umat, “ ujarnya.

Pastor Mohr terus menggemakan lonceng misionernya ke kampung-kampung. Ia pergi mencari dan menemukan orang-orang yang ‘masih jauh’ untuk dibaptis dalam Gereja Katolik. Perhatian pada mereka begitu besar. Hal yang bertolak belakang dengan perhatian Pastor Klein. Oleh karena itu, dia meminta untuk di tugaskan di daerah pedalaman.

“Dengan pastor yang ada di Palangka Raya, saya merasa tidak begitu cocok. Oleh karena itu, saya minta pindah ke Pangkalan Bun,” tandasnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here