Hati saya selalu gelisah dan terus mengembara sebelum menemukan tambatan.”


Sejak kecil, jika ditanya mengenai cita-cita, saya kadang menjawab, ‘Mau jadi imam.’ Tidak ada cita-cita lain. Pun pula belum ada alasan biblis teologis untuk menjelaskan mengapa saya mau menjadi imam.

Cita-cita ini lahir dari kekaguman saya terhadap pastor paroki yang mengenakan Stola-Kasula pada saat memimpin Misa. Momen yang sering membuat saya terkesima adalah ketika imam membagikan komuni. Rasanya sangat bahagia jika saya bisa seperti itu. Saya bergumam, ‘Suatu saat saya akan mengenakan pakaian yang dipakai imam itu dan membagi komuni.’

Sebegitu tertariknya menjadi imam, kadang saya mengajak teman-teman sebaya untuk mengadakan misa-misa-an. Berperan sebagai imam, saya mengenakan sarung seperti pakaian superman. Sedangkan teman-teman menjadi umat. Jagung Titi (makanan khas suku Lamaholot) sebagai pengganti Hosti dan Teh sebagai pengganti Anggur. Entah bagaimana cara memimpin misa-misaan, satu yang pasti adalah saya membagi Jagung Titi sambil berkata, ‘tubuh kristus’ dan teman-teman menjawab serius, ‘Amin.’

Baca Juga : Jejak-Jejak Misioner : Pelayanan pastoral dan Pembinaan Pemimpin Umat (Part IV)

Dalam perjalanan, ketertarikan menjadi imam kadang mengebu-gebu-kadang pula hilang, tergantung keadaan. Tetapi saya tidak bisa membohongi diri bahwa hati saya gelisah dan terus mengembara sebelum menemukan labuhannya, entah di mana atau pada siapa. Saya mencoba untuk pura-pura tidak mendengar panggilan Tuhan dan karena itu tidak menjawab. Tetapi cara Tuhan lebih hebat. Melalui seorang teman, Tuhan mengingatkan saya akan kekaguman awal menjadi seorang imam.

“Hingga suatu saat saya katakan pada diri sendiri, ‘Seumur hidup saya tidak akan memaafkan diri saya kalau tidak mencoba dari sekarang.”

Tanpa sepengetahuan orang tua saya melamar ke seminari. Saya ingin membuktikan pada diri sendiri bahwa saya gelisah karena pura-pura tuli atas panggilan Tuhan. Saya akan terus dihantui kegelisahan jika tidak mencoba dengan cara masuk seminari. Maka saya tidak menunda lebih lama lagi untuk masuk seminari.

Baca Juga : Jejek-Jejak Misioner : Penabuh Lonceng Misioner di Kalimantan Tengah

Di Seminari, saya mengolah dan memurnikan motivasi saya yang bermula dari ketertarikan atau kekaguman seorang anak kecil terhadap seorang pastor. Dari hal yang biasa, sederhana dan tak terduga, saya dibantu untuk menemukan motivasi menjadi seorang imam. Proses demi proses pembentukan, pendidikan dan praktek harus dilewati untuk meyakinkan diri bahwa saya memang dipanggil Tuhan menjadi seorang imam.

Hati saya agak tenang karena kegelisahan dan pengembaraan mulai menemukan pelabuhan, ketika sudah masuk dalam Seminari. Hari demi hari hingga tahun demi tahun saya berlayar sebagai Musafir untuk menemukan alasan mengapa saya mau menjadi imam.

Baca Juga : Jejak-Jejak Misioner :Dipanggil Beppo (Part II)

Tak seorangpun tahu secara pasti tentang kehendak Tuhan, “Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku’ (Yes 55:8). Jika Tuhan mau, seorangpun tidak bisa mengelak atau bersembunyi. Tuhan punya cara yang tak bisa diselami oleh manusia. Manusia melihat sesuatu dari awal tapi tidak tahu akhirnya, sedangkan Tuhan melihat segala sesuatu dari awal dan tahu akhirnya.

Itulah sebabnya, kata Pengkhotba, ‘Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya. Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir’ (Pkh 3:11).

Proses dan perjalanan sebagai imam masih panjang. Saya juga tidak tahu akhirnya. Satu yang saya tahu adalah bahwa Tuhan pasti menyediakan akhir yang indah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here