Seorang ibu berkonsultasi kepada seorang pastor. Ia mengeluh karena menantunya tidak bisa membantu sang suami untuk meninggalkan kebiasaan buruknya.

Ibu: ‘Pastor, anakku suka minum mabuk. Menurut saya, istrinya bukan istri yang baik karena tidak bisa melarang atau menyuruh dia berhenti minum. Seorang istri harus bisa mengubah kebiasaan buruk suami. Istri yang baik akan membuat suaminya baik pula. Mereka sudah menikah 8 tahun. Saya heran apa saja yang ia buat selama itu sehingga tidak bisa menghentikan kebiasaan buruk suaminya?’

Pastor: ‘Apa saja yang kamu buat selama 28 tahun?’

Ibu: ‘Maksudnya?’

Pastor: ‘Selama 28 tahun kamu bersama dengan anakmu sebelum ia menikah. Apa yang kamu buat selama itu untuk mengatasi problem anakmu?’

Ibu: ‘Saya kan ibunya. Saya punya keterbatasan juga. Dan dia sendiri tidak mau dengar nasihat saya. Maka, sekarang istrinya harus bisa mengontrol dia.’

Pastor: ‘Selama 28 tahun kamu tidak melakukan apa-apa dan sekarang kamu mengharapkan sang istri melakukan sesuatu dalam 8 tahun ini?’

Ibu: ‘Laki-laki itu seperti mangga mentah. Jika istrinya baik maka ia akan menjaga mangga itu menjadi matang. Tapi jika istri tidak baik, maka ia akan membiarkan mangga itu busuk.’

Pastor: ‘Apakah sebelum mereka nikah, kamu sudah pernah memberitahu menantumu kalau anakmu seorang pemabuk?’

Ibu: ‘Tidak. Saya biarkan mereka menikah saja dan berharap sang istri bisa menyelesaikan masalah itu.’

Pastor: ‘Kalau begitu, dia juga bisa menunut karena ibu menjual mangga busuk kepadanya.’
***

Hidup kadang lucu, lebih-lebih bagi seorang istri. Ia dituntut harus bisa dalam segala hal. Ia harus menjadi seperti tukang sulap yang bisa mengubah banyak hal seketika hanya dengan hanya bim-sala-bim. Tapi jika ada kesalahan, istri yang sering di salahkan.

Laki-laki dan perempuan sederajat. Suami dan istri sepadan. Istri punya kelemahan dan keterbatasan maka sang suami perlu melengkapi. Demikian pula sebaliknya. Istri bukan seorang tukang sulap yang bisa mengubah ‘masalah’ menjadi ‘solusi’ dalam seketika. Tenaganya terbatas, tangannya cuma dua, kakinya hanya dua, tidak lebih dari suami. Istri tidak bisa dipaksa untuk melakukan semua hal dan mengubah segala hal menjadi baik sekaligus. Ia tidak bisa ditekan untuk menjangkau semua pekerjaan dengan kedua tangannya pada saat bersamaan atau mondar-mandir mengurus semua orang seketika itu juga.

Maka dibutuhkan kerja sama antara suami dan istri. Kesalahan dalam keluarga tidak bisa dilemparkan sepenuhnya pada pihak istri. Masalah keluarga dihadapi oleh suami istri. Sebab mereka bukan lagi dua melainkan satu.

P. Joseph Pati Mudaj, Msf

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here