Renungan Harian l,  Rabu 10 April 2019. Bac I Nubuat Daniel 3:14-20. 24-25.28 dan Bac Injil Yohanes 8: 31-42.

Dalam kenyataannya, iman justru memberi resiko kepada kita. Resiko itu ada dalam penghayatannya. Tidak gampang setia kepada iman di tengah jaman ini.

Pengalaman iman ialah pengalaman keterlibatan Allah dalam hidup manusia. Allah senantiasa hadir dalam hidup kita, namun apabila manusia tidak menyadarinya, maka pengalaman iman itu tidak akan terjadi.

Pengalaman iman ini juga ialah pengalaman yang dialami oleh orang beragama yang percaya kepada Tuhan. Maka tidak semua pengalaman bisa dikatakan pengalaman iman, kalau tidak ada unsur iman dan refleksi oleh seseorang dalam menghadapi peristiwa kehidupan.

Iman Yang Ditantang

Dalam Bac I Daniel 3:13-20.24-25, 28 kita mendengar kisah iman dari tiga sekawan Sadrakh, Mesakh dan Abednego.

Ketiganya ditantang oleh Raja Nebukadnezar, raja Babel, untuk menyembah patung emas. “Jika kamu tidak menyembah, seketika itu juga kamu akan dicampakan ke dalam perapian yang bernyala-nyala”. Tetapi tiga sekawan ini tidak menuruti titah Raja.

Tidak menuruti titah raja berarti melawan aturan dan melawan bangsa babel. Mereka kemudian dibakar hidup-hidup. Tetapi apa yang terjadi, setelah tangan-kaki mereka diikat dan dicampakan ke dalam api, mereka justru tidak terjadi apa-apa. Nebukadnezar terheran-heran melihat ketiganya dan berkata : Terpujilah Allahmu Sadrakh, Mesakh dan Abednego…!”

Poin penting dari bacaan ini ialah seringkali iman itu mendatangkan risiko.

  • Risiko iman ialah kita bisa kehilangan hidup, dicobai dengan cobaan yang berat.
  • Dalam menghadapi Resik, Sadrakh, Medang dan Abednego sungguh percaya Allah mereka hidup dan melindungi mereka. Mereka tak ada keraguan untuk ini.
  • Kesaksian iman itu ialah ketabahan dalam menghadapi tantang dan kesulitan hidup. Tidak menyalahkan siapapun, tidak membenci orang lain. Tetapi justru menunjukkan kualitas iman.

Bebas dari Dosa

Dalam injil (Toh 8:31-42) menegaskan bahwa kebenaran iman memerdekakanmu. Kemerdekaan yang dimaksud bukanlah hanya kemerdekaan secara lahiriah, tetapi kemerdekaan batin.

Perbedaan pemahaman ini menjadi konflik dan ketidakpahaman orang Garis kepada Yesus. Mereka hanya memahami kemerdekaan dalam tataran yang dangkal yaitu kemerdekaan dari penindasan bangsa lain.

Padahal hidup yang merdeka ketika seorang merdeka secara batin. Kemerdekaan batin itulah kemerdekaan dari dosa. Kita bisa menutup dosa kita kepada orang lain dengan sikap kepura-puraan, tetapi kita tidak bisa menipu hati nurani kita sendiri yang menggugat.

Kemerdekaan batin dan rohani ini merupakan misi kedatangan Yesus. Ia datang untuk memerdekakan kita dari belenggu dosa. Namun orang hanya akan bisa merdeka jika damai dan Allah merajai di dalam hatinya.

Maka dari bacaan injil kita menyimak beberapa poin penting yaitu :

  • Tuhan Yesus menegaskan diriNya sebagai Allah yang datang mengampuni dosa-dosa manusia, asalkan kita terbuka kepadanya.
  • Kebenaran iman yaitu kejernihan hati untuk melihat peristiwa kehidupan dan melihat rencana dan kehendak Allah di dalam peristiwa hidup kita.
  • Kita percaya siapa yang tinggal dalam Yesus ia menjadi pribadi yang bebas, bebas dalam arti ia tidak terusik lagi dengan belenggu-belenggu dosa seperti ketamakan harta, kenikmatan duniawi, dan belenggu dosa lainnya.

Tuhan datang memerdekakan kita. Jika kita merdeka maka hati nurani kita pun tidak terbelenggu oleh kotoran-kotoran dosa. Kita tidak menjadi gentong tempat sampan benda-benda busuk tetapi kita adalah bejana yang seperti pemilik kehidupan ini menyimpan air yang jernih dan menyegarkan sesama.

Kita punya Yesus, merekalah!

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here