Ibu Marsiah, hidup sebatang kara di Kampungnya. Anak-anaknya sudah mandiri dan tinggal jauh darinya. Ia sudah membesarkan mereka tetapi ia tidak menggantungkan masa tuanya pada anak-anaknya.

Di kampung itu, ia membuka warung, menjual sembako. Dari penjualan sembako ini ia menghidupi dirinya. Selain itu ia terlibat  aktif dalam kegiatan Menggereja. Ia selalu rajin mengikuti Misa Pagi. Ia berdevosi kepada Maria dengan mengikuti kategorial Legio Maria. Ia juga kadang membantu mereka yang membutuhkan pertolongannya. Ia melakukan itu dengan enteng dan senang.

Betapa kuat perempuan tua itu. Ia kuat dalam cintanya dan kemandiriannya serta solidaritasnya kepada sesama sehingga banyak orang mengenalnya dan memanggil dia Mbok Marsiah.

Terjadilah Padaku

Mbok Marsiah adalah salah satu murid Maria. Hari ini (senin, 25 Maret 2019) Gereja merayakan Hari Raya Kabar Sukacita. Kabar Suka cita itu ialah Maria menerima kabar dari Malaikat Agung bahwa ia mengandung dari Roh Kudus.

Kabar ini sebagai penyempurnaan tanda yang diungkapkan oleh Nabi Yesaya. Dalam Yes 7: 14 tertulis “Sebab itu Tuhan sendirilah yang akan memberikan suatu pratanda: sesungguhnya seorang perempuan muda akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan ia akan menamai Dia Imanuel (Allah menyertai kita)”.

Ramalah Nabi Yesaya ini terbukti pada Maria. Allah berkenan kepada Maria untuk menjadi Ibu bagi sejarah keselamatan yang baru. Kesediaan Maria inilah yang berdampak besar pada keselamatan manusia.

Kesediaan Maria menanggapi Sabda Tuhan ini menjadi  kabar sukacita bagi Gereja. Maria bersedia mengandung dari Roh Kudus walaupun ia tahu, ia akan berhadapan dengan persoalan adat istiadat, diskriminasi dan budaya di bangsanya.

Jawaban “terjadilah padaku menurut perkataan-Mu” membuahkan hasil yang menyelamatkan dunia. Maria memberikan diriNya secara total pada Allah dan membiarkan Allah menyelesaikan rencana Keselamatannya.

Jangan Takut!

Kerapkali rencana Tuhan berseberangan dengan cara pikir manusia bahkan suatu masyarakat. Maria juga mengalami dilema semacam itu. “Bagaimana mungkin hal itu terjadi, karena aku tidak bersuami?

Ketakutakan Maria ialah cara berpikir stereotipe (labelling) yang sering muncul di tengah masyarakat di sekitarnya. Tidak menikah tetapi hamil itu adalah hal yang menjijikan. Apalagi itu bukan karena rencana Tuhan. Tetapi rencana Tuhan berjalan diluar cara berpikir manusia dan bahkan menentang itu.

Namun karena yang benar adalah rencana dan Kehendak Allah, maka walaupun berseberangan dan berlawanan dengan cara pikir dan konsep manusia, Maria tetapi menerima resikonya. Ia menerima resiko karena ketaatannya pada Allah. Karena itu juga, ia dikuatkan oleh Roh Kudus.

Hal lain juga, walaupun terpilih, Maria selalu menyadari bahwa ia bukanlah orang yang penting “dimata Allah”. Ia selalu merendahkan dirinya. “Sesungguhnya aku adalah hamba Tuhan”. Hamba Tuhan berarti pelaksana Sabda. Maka Maria dikenal Ibu yang taat. Ia taat pada Allah bukan pada cara berpikir manusia.

Nah kabar Sukacita itu sebenarnya jika direnung, bukanlah kabar gembira tetapi kabar “jalan salib Maria” atau kabar sedih. Tetapi buah kesetiaan dan kesediaan Maria, penebusan dunia terwujud dalam diri Yesus, itulah gembiranya. Gembira karena ditebus.

Aku ini hamba Tuhan

Menjadi ibu penebus dunia tidak membuat Maria hidup nyaman. Ia justru mengalami banyak rintangan dan tantangan. Ia bahkan menderita sampai dibawah kaki salib Putranya. Inilah kekhasan iman Maria.

Iman memang justru mendatangkan resiko. Yesus sendiri selalu mengajarkan “siapa yang mengikuti aku ia harus memikul salib”. Inilah nada dasar orang beriman. Beriman kepada Tuhan bukan pertama-tama mendapat berkat dan rejeki. Beriman kepada Tuhan justru banyak mengalami “apes” dan menderitanya. Tetapi penderitaan karena iman, akan membuahkan keselamatan.

Namun Kita kerapkali mencari gampang dan instan. Beriman hanya mencari “gratisan “ (gratia atau berkat). Tetapi tidak ingin mengalami resiko karena beriman. Kita tidak ingin berkorban dan rugi demi membantu dan menyelamatkan sesama melalui tindakan dan budi baik kita.

Maria dengan jawaban “ya”nya telah membawa penebusan kepada kita. Lalu apakah kita yang sudah ditebus berkat jawaban Maria ini, juga bersedia menjawab “ya” dalam tugas pelayanan kita?

Kita dipanggil untuk membagi hidup ini (life sharing). Kita dipanggil untuk tidak hanya berarti bagi diri sendiri tetapi berarti bagi banyak orang. Memang menjadi berarti bagi sesama bukanlah peran yang gampang. Menjadi pelaku Sabda juga, tidaklah mudah. Mengapa tidak gampang? Itu karena, kita lebih mengedepankan kehendak kita sendiri daripada kehendak Tuhan.

Jika kita tidak membiarkan kehendak Allah bekerja, maka kita tidak membedakan kebaikan dan keburukan. Jika kita tidak taat kepada Allah maka kita tidak akan konsisten membela kepentingan dan kebenaran.  Jika kita tidak menerima Allah, bagaimana mungkin kita mengerti kasih, kebaikan dan kebenaran. Bagaimana juga kita bisa berharap?

Marilah kita meneladani sifat dan sikap Maria. Ia wanita yang sederhana, membuka diri pada Sabda Allah. Perempuan yang berani dan mengutamakan rencana dan kehendak Allah walaupun ia tahu ada resiko dibalik keberaniannya menerima kehendak Tuhan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here