Tulisan ini merupakan racikan pengalaman dan kisah-kisah romantis selama 7 tahun menjadi warga Skolastikat MSF Propinsi Kalimantan di Malang dalam terang semangat Pendiri. Kemudian dilanjutkan dengan pengalaman eksistensial, harapan dan kecemasan pada Skolastikat baru ini.

Gedung baru skolastikat MSF Provinsi Kalimantan diberkati oleh Mgr. Paulinus Yan Olla MSF dan Mgr Petrus Bodeng Timang dan diresmikan oleh Pater Jendral Kongregasi MSF, P. Agustinus Purnama MSF dan Superior Propinsi MSF kalimantan, P. Agustinus Doni Tupen MSF

Misi Pendiri

Sebagai seorang MSF, saya memulai tulisan ini dari Bapa Pendiri. Pater Jean Baptis Berthier mendirikan Kongregasi Misionarii a Sacra Familia (MSF) karena digerak oleh Roh Kudus untuk menjawab kebutuhan Gereja universal abad ke 19. Kebutuhan utama Gereja saat itu ialah tenaga misi mewartakan injil ke negeri yang jauh.

Gereja yang misioner ini terkendala oleh kurangnya panggilan. Dalam perspektif pendiri ada dua faktor kekurangan tenaga misi Gereja: perkembangan jaman yakni revolusi prancis dan abad pencerahan dan faktor internal yaitu syarat menjadi imam harus lulus dari Seminari kecil.

Hambatan internal ini mendorong Pater Berthier mendidik pemuda-pemuda yang secara usia dikategorikan panggilan terlambat, tetapi memiliki api misioner yang bernyala-nyala. Para pemuda seperti ini dididik dengan tempaan yang ketat dan keras baik secara manusiawi, kristiani dan riligius di Grave, Belanda.

Menarik juga untuk dicermati, Jean Berthier seorang Perancis  tetapi ia mendirikan Kongregasi MSF di Belanda. Mengapa demikian? Karena sentimen negara terhadap Gereja Katolik di Perancis pada waktu itu sangat kuat, sehingga menghambat karya misioner Gereja. Tetapi keputusan Jean Babtis Berthier mendirikan MSF di Belanda merupakan suatu blue print atau DNA dalam lembaganya identitas misioner.

Buah didikannya munculah para misionaris yang menjangkau berbagai belahan dunia bahkan sampai di Indonesia sejak tahun 1926.

Pemberkatan Gedung baru untuk pembinaan calon misionaris MSF, Biara Sacra Familia di Malang.

 

Belajar Menjadi Orang Asing di Tanah Sendiri

Kembali ke pengalaman hidup penulis di Skolastikat Malang, bisa disimbolkan oleh “mawar merah berduri” yaitu pengalaman berbunga dan pengalaman berduri. Pengalaman berbunga adalah konotasi dari peristiwa yang mengembirakan atau menyenangkan secara eksistensial dan spiritual.

Sesekali dalam candaan bersama konfrater seperjuangan, teman saya bertanya, apa kebanggaanmu menjadi frater di Skolastikat Malang ini? Saya spontan menjawab, “kalau nanti namaku tidak tercatat di Surga, paling tidak, nama saya tercatat di Kronik dua Jendralat yaitu Jendralat MSF dan SVD, sebagai frater perintis dan frater MSF yang tinggal di rumah formasi SVD”, Haha.

Skolastikat Malang sebagai rumah formasi berada di Kota Pendidikan, Propinsi Jawa Timur. Terdapat ratusan perguruan tinggi di Kota ini. Karena itu juga, banyak kongregasi misioner mendirikan rumah studi mereka di Malang dan belajar di STFT atau PT lainnya. Hampir sebagian besar calon Imam Praja Provinsi Gerejani Kalbar dan Kaltim studi di STFT, Malang. Itu juga sebagai alasan yang kuat, MSF mendirikan skolastikat di Malang.

Pater Rektor Skolastikatikat Malang, P. Yohanes B. Marharsono (bersabuk hitam) bersama para frater MSF Propinsi Kalimantan.

Selain itu, keberadaan Skolastikat ini di Kota Malang cukup strategis, teristimewa jika terbuka dengan berbagai diskusi, informasi, dan jaringan dengan kampus-kampus lain. Para frater berani berdiskusi dengan pemuda-pemuda di kampus lain, seraya mendampingi mereka. Saya masih ingat, Pater Rektor waktu itu, Mgr Paulinus menggagaskan pendampingan Orang Muda yang didampingi oleh para frater MSF.

Kekhasan lain dari Skolastikat Malang ialah pengembangan aspek kongregasionalitas melalui cara sederhana seperti brevir dan doa dalam tiga bahasa yaitu Bahasa Inggris, Bahasa Italia dan Bahasa Pertiwi (Bindo). Memang dari tiga bahasa itu, Bindo adalah bahasa kehidupan yang sangat dikuasi penulis, sedangkan Italia dan Ingris adalah Bahasa Spiritual, alias hanya bisa dipakai oleh penulis dalam doa harian. Tetapi itulah cara melatih diri menjadi misionaris yang akan menjangkaui semua penjuru dengan ragam bahasa dan budaya.

Mgr. Paulinus, MSF waktu itu mengingatkan kami, terkait berdoa dalam bahasa asing ini : “Para frater dengan berdoa bahasa asing, paling tidak kalian belajar menjadi orang asing di tanah sendiri, sebelum menjadi orang asing di tanah asing” (baca : misionaris di negeri yang jauh).

Sedangkan pengalaman berduri (bagian dari mawar) merupakan pengalaman-pengalaman yang melecut dan mendorong tetapi secara eksistensial menusuk dan barangkali melukai hati dan perasaan. Lebih tepatnya analogi tukang emas yaitu palu dan api menempa demi menghasilkan emas.

Sebagai perintis, tentu saja tidaklah mudah. Pater pendiri sendiri mengingatkan “yang mengawali pasti selalu sulit”. Kami para frater memulainya dengan fasilitas yang apa adanya. Mulai dari Pasar Besar, Kota Malang, dapur sampai pastoral kami lakukan sendiri.

Hampir setiap hari kami selalu mendapat siraman rohani dan konfrensi dari pater rektor mulai dari panci yang belum digosok, kehidupan relgius, sampai pada nilai raport di Kampus. Tetapi semua itu dilakukan dalam kerangka formasi.

Harapan dan Kecemasan

Sebagai buah sulung dari Skolastikat Malang ini , tentu saja ada banyak harapan dari Propinsi. Ibarat Tuan Kebun, baik formator maupun konfrater lain, mereka juga was-was dan cemas seperti apa nantinya buah dari Skolastikat baru Propinsi Kalimantan ini, apakah malang nasibnya? ataukah Malang yang mujur?

Kecemasan seperti itu wajar. Tidaklah mudah mengubah kebiasaan yang lama. Tetapi jika ingin maju kita harus berani melompat. Melompat berarti berani mengambil resiko. Meskipun banyak pro-kontra, Propinsi Kalimantan berani melompat. Melompat demi kemandirian tenaga misioner menjelang 100 tahun MSF tiba di Borneo.

Itulah juga yang saya pikirkan. Apakah saya ini buah manis atau pahit untuk Kongregasi? Tetapi selalu ada rasionalitas pembelaan bagi buah yang pertama, bisa karena pupuknya kurang, atau dalam hal ini pendampingan dan fasilitas yang kurang memadai. Haha.

Jujur saja selama masih menjadi frater kami mencari sendiri bentuk dan model pastoral, apakah itu selaras dengan kerasulan MSF atau tidak yang penting kami buka saja dulu, menjalin relasi dengan umat dan komunitas yang lain. Bagaikan Buldozer.

Elaborasi antara teori teologi, filsafat dan pastoral serta tiga kerasulan misi MSF memang belum sungguh-sungguh kami lakukan pada waktu itu. Maka menjadi sangat mungkin perlu ditambahkan pembekalan audendas untuk para frater, proyek-proyek teologi sosial, harapan dan sebagainya yang tidak diberikan di STFT tetapi di Rumah Studi perlu diberikan. Demikian juga tiga kerasulan MSF perlu dipraktekan oleh para Frater sehingga begitu memasuki medan pastoral sebagai seorang MSF tidak “neno-neno” lagi mencari model pastoral Keluarga, Misi dan Panggilan.

Saya juga menaruh harapan besar pada masa depan Skolastikat Malang ini. Apalagi dengan bangunan baru, “Biara Sacra Familia” semakin memotivasi para frater dan bruder serta menuntut tanggungjawab yang serius untuk mengembangkan diri menjadi “Good Hand, Good Heart and Good Head“, kata Pater Marharsono, rektor Skolastikat Malang.

Para frater juga perlu memaksa diri untuk mengeksplorasi teologi dan relevansinya dengan tanah Borneo atau berfilsafat dengan budaya di tanah misi yang hampir 100 tahun MSF berkarya. Yang paling penting juga ialah agar para frater menginternalisasi spiritualitas Kongregasi dan menghayatinya sehingga seperasaan dan selaras dengan kebutuhan Kongregasi dan Propinsi Kalimantan.

Selamat dan Profisiat untuk Skolastikat yang baru. Terimakasih untuk tangan kasih Tuhan yang mengutus mereka yang murah hati dan tulus membantu Kongregasi MSF membangun Rumah Skolastikat baru ini.

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here