Renungan sabtu 23 Maret 2019. Si Iriati bercerita kepada tetangganya, bahwa si Rejeki selalu lebih beruntung daripadanya. Dibandingkan dengan kehidupan Rumah Tangganya, hidup rumah tangga Bu Rejeki baik-baik saja. Tetapi Si Iriati selalu dirundung masalah. Sudah jatuh tertimpa tangga pula.

Ia merasa iri hati pada kehidupan Bu Rejeki. Dalam doanya ia selalu mengeluh, Tuhan mengapa aku yang seringkali melayani engkau, tidak engkau perhatikan, tetapi mereka yang tidak jelas dan tidak aktif dalam hidup keagamaanya lebih beruntung dari padaku? Mengapa ya Tuhan?

Iri Hati 

Dengki dan iri hati selalu menghinggap siapapun. Kamus google, mendefinisikan iri hati sebagai “emosi yang timbul ketika seseorang yang tidak memiliki keunggulan seperti prestasi, kekuasaan, dsbnya namun menginginkan untuk memilikinya.

Dengan kata lain iri hati adalah ketidakmampuan seseorang untuk menemukan keunikan dirinya dan mengakui keunikan orang lain. Bila iri hati dan dengki menghinggap kita, kita tidak lagi melihat dengan jernih kebaikan dan kebenaran di sekitar kita.

Mungkin bisa dikatakan orang iri hati dan dengki ialah orang yang “senang melihat orang susah dan susah melihat orang senang”. Bila dikuasai emosi ini, maka kehadiran orang lain bisa menjadi ancaman baginya.

Belajar mengasihi

Sikap iri hati dan dengki ini juga yang kita simak bersama dalam Bacaan Injil Lukas 15:1-3.11-32. Orang Farisi bersungut-sungut dan marah kepada Yesus, karena Ia menerima para pemungut cukai dan orang berdosa untuk mendengarkan pengajaranNya.

Lebih parahnya lagi, sikap dengki ini membutakan mata hati kelompok elit ini (kaum farisi) untuk melihat kehadiran Tuhan yang datang melawat umat-Nya. Karena itu, Yesus memberikan perumpamaan tentang anak yang hilang, kisah tiga tokoh : Bapa, si sulung dan si Bungsu.

Yesus mengetengahkan kisah ini kepada kaum Farisi untuk mengajak mereka berefleksi. Dalam Bacaan I (Mikha 7: 14-15.18-20) sudah sangat jelas bahwa relasi antara orang Israel dan Allah seperti anak dan Bapak. Allah adalah Bapaknya orang Israel. Ia mengampuni dosa mereka dan mencintai mereka.

Tetapi, kasih Allah ini tidak ditangkap oleh kaum Farisi, bahwa Allah yang maha pengasih dan maha pencinta adalah Allah yang mengasihi semua manusia tanpa terkecuali, termasuk para pemungut cukai dan pendosa. Sikap menghambat orang datang kepada Tuhan justru melawan kasih Allah itu sendiri.

Namun kerap kali kesombongan rohani, membuat mereka yang “hidup lebih dekat dengan Allah” atau ahli dogma-dogma agama, merasa paling dicintai Allah, dibandingkan dengan mereka yang barangkali “jauh dari Allah”dalam kaca mata manusia.

Sikap ini juga nyata dalam kehidupan sosial kita. Ada yang merasa kehidupan rohaninya lebih dari yang lain, karena keterlibatan dan sumbangan keagamaannya, karena seringnya ia berdoa atau karena pelayanannya, tetapi ketika ia melihat bahwa orang yang barangkali tidak rajin ke tempat ibadah atau tidak melayani, justru secara ekonomi mendapatkan berkat yang lebih ketimbang dirinya. Ia terusik dan tergoda.

Keadaan seperti itu merupakan godaan juga. Orang yang secara ukuruan manusia hidup rohaninya “ambur adul” lebih dikasihi Allah daripada orang yang menghabiskan banyak waktu untuk pelayanan. Godaan itu bisa membuatnya menjadi iri hati, muntaber (mundur tanpa berita) dan kemudian tidak aktif lagi dalam tugas pelayanan dan kegiatan rohani yang lainnya.

Apakah demikian, Allah bertindak tidak adil? Tidak. Justru Yesus mau mengajarkan kepada kita tentang arti kasih yang sesungguhnya. Dasar dari kasih itu ialah Allah Bapa sendiri. Allah yang mengasihi umat-Nya, mengampuni mereka dan menerima manusia berdosa yang bertobat. Ia tak penuh perhitungan dalam memberi kasih dan cintanya.

Kasih Bapa ini memuncak pada diri Yesus. Yesus adalah Allah yang hidup. Allah yang mengurbankan diri-Nya demi memuliakan manusia. Itu berarti dimata Tuhan semua manusia sama pentingnya, sama-sama dikasihi oleh Allah. Karena itu tidak ada ekslusifisme dan sikap memonopoli, seakan Allah itu milik sekelompok orang saja. Tidak seperti itu.

Allah adalah kasih dan kita semua diajakNya untuk mengasihi sesama kita. Iri hati dan dengki hanya bisa dikalahkan dengan kasih.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here