Ketika seorang pastor dalam Misa tidak mengucapkan salam selamat pagi/sore kepada umat, ada beberapa yang merespon bahwa pastor itu tidak ramah dan menyapa umat. Padahal sapaan yang mendalam dan sangat teologis adalah sapaan Tuhan Bersamamu dan umat menjawab dan bersama rohmu. Nah apa sih makna sapaan liturgis tersebut? 

Tuhan bersamamu

Kata “Tuhan bersamamu” (“The Lord be with you“) yang diucapkan oleh imam dalam liturgi bukanlah merupakan perkataan sapaan umum, seperti ucapan “Selamat pagi”, yang dijawab, “Selamat pagi juga, Romo”.

Sebaliknya, ungkapan “Tuhan bersamamu”/ “Tuhan sertamu” mempunyai akar yang kuat dalam Kitab Suci, yang seharusnya membuat kita semakin menghayati, apakah sebenarnya yang sedang kita rayakan di dalam liturgi:

1. Secara mendasar, perkataan “Tuhan bersamamu” menyampaikan perwujudan janji Kristus sendiri, “Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka.” (Mat 18:20).

2. Perkataan “Tuhan bersamamu” juga menyatakan kenyataan yang sungguh mendalam artinya: tentang kehidupan ilahi yang tinggal di dalam jiwa kita, yang kita terima melalui Pembaptisan. Dengan perkataan ini, imam mendoakan agar kehidupan ilahi yang kita terima melalui Baptisan terus bertumbuh di dalam kita.

3. Perkataan “Tuhan bersamamu” mengingatkan kepada perkataan-perkataan yang disampaikan kepada banyak tokoh dalam Kitab Suci, mereka yang oleh Tuhan dipercaya untuk mengambil bagian di dalam rencana keselamatan Allah. Tak jarang panggilan Tuhan ini mensyaratkan mereka meninggalkan keadaan kenyamanan’ (comfort zone) untuk melakukan misi tersebut dan selanjutnya memasrahkan kehidupan mereka kepadaNya secara total. Demikianlah perkataan Tuhan, “Aku menyertai engkau” menjadi jaminan akan penyertaan Tuhan pada orang-orang pilihan-Nya, sebagaimana yang dikatakan-Nya atau yang disampaikan oleh malaikat-Nya, kepada Ishak (Kej 26:3,24), Yakub (Kej 28:13-15); Musa (Kel 3:12), Yosua (Yos 1:5); Gideon (Hak 6:12-16), Yeremia (Yer 1:6-8) dan Bunda Maria (Luk 1:28).

Beberapa contoh misalnya: Sewaktu Tuhan berseru kepada Musa dari tengah semak yang terbakar (lih. Kel 3), Ia memberi tugas yang sulit kepada Musa, yaitu untuk kembali ke Mesir menemui Raja Firaun yang sedang berusaha membunuhnya (lih. Kel 2:15), dan meminta kepada Firaun agar membebaskan bangsa Israel dari tanah Mesir. Maka Musapun merasa bahwa tugas ini terlalu berat baginya (lih. Kel 3:11) dan bahkan berusaha menolaknya dengan memberi berbagai alasan, seperti: bahwa orang-orang akan bertanya siapakah Allah yang menugasinya (lih. Kel 3:13), ia meragukan apakah orang percaya kepada perkataannya (lih. Kel 4:1), apalagi ia tidak pandai berbicara (lih. Kel 4:10). Terhadap keraguan Musa ini, Tuhan memberikan jaminan, “Aku akan menyertai engkau” (lih. Kel 3:12; 4:12). Melalui kelemahan Musa inilah, justru kuasa Allah dinyatakan; sebagaimana kemudian diajarkan oleh Rasul Paulus (lih 2 Kor 12:9-1).

Demikian pula selanjutnya, Allah berjanji menyertai Yosua untuk memimpin bangsa Israel memasuki Tanah Terjanji (lih. Yos 1:5-6, 9). Juga terhadap Gideon, yang kepadanya Allah mengutus malaikat-Nya untuk memberi tugas kepada Gideon agar membebaskan umat Israel dari orang-orang Midian (lih. Hak 6:12-16). Gideon yang tidak berpengalaman dan berasal dari suku yang terlemah dan terkecil dipilih Tuhan untuk memimpin bangsa Israel mengalahkan orang-orang Midian.

Adakalanya kita, seperti Nabi Musa, juga merasa tak mampu melakukan tugas yang
dipercayakan kepada kita. Maka, perkataan, “Tuhan bersamamu” di awal liturgi mengingatkan kita kembali akan janji penyertaan Tuhan. Perkataan itu juga mengingatkan kita akan tugas yang dipercayakan oleh Allah kepada kita dalam rencana keselamatan-Nya. Pada saat kita mendengar kata, “Tuhan bersamamu”, kita mengikuti jejak Musa, Yosua, Gideon, dan banyak tokoh lainnya dalam Kitab Suci yang mengikuti panggilan Tuhan. Kita memang tidak ditugasi untuk melawan para penjajah ataupun pemimpin bangsa yang jahat seperti Firaun; tetapi kita mempunyai peran tertentu di dalam komunitas, yang kalau kita jalani dengan iman dan kesetiaan, akan menghantar kita ke Tanah terjanji yang sesungguhnya,yaitu Surga.

Perkataan, “Tuhan bersamamu”, memberikan jaminan bahwa saat kita menghadapi berbagai pergumulan hidup, kita memperoleh pertolongan dari Allah. Tuhan akan menopang kita saat kita mengalami masalah dalam pekerjaan, pergumulan dalam penyakit yang sedang dialami ataupun kesedihan yangmendalam setelah wafatnya orang yang kita cintai. Perayaan Ekaristi yang dimulai dengan janji penyertaan Allah ini seharusnya menghalau dukacita, kekhawatiran maupun kegelapan jiwa kita.

4. Di atas semua itu, perkataan “Tuhan bersamamu” menunjuk kepada peristiwa yang di dalamnya kita akan berpartisipasi, yaitu misteri wafat dan kebangkitan Kristus dan persekutuan (komuni) kita dengan Dia.

Bukankah bentuk kebersamaan dan penyertaan Allah yang paling sempurna adalah jika Tuhan sendiri masuk ke dalam tubuh dan jiwa kita? Inilah sesungguhnya yang terjadi dalam perayaan Ekaristi, yaitu Allah menghampiri kita, untuk bersatu dengan kita agar dapat tinggal menyertai kita. Kita sesungguhnya tidak layak untuk menerima begitu besarnya karunia ini, namun adalah kehendak Allah untuk
menyertai kita sebagaimana Ia menyertai Musa, Yosua, Gideon dan yang lainnya yang percaya dan mengandalkan pertolongan Tuhan.

Dan bersama roh-mu

“Dan bersama roh-mu” merupakan tanggapan yang kita ucapkan terhadap perkataan “Tuhan bersamamu” yang diucapkan oleh imam. Tanggapan ini mencerminkan apa yang tertulis dalam surat Rasul Paulus (lih. Gal 6:18). Dengan mengatakan “dan bersama roh-mu”, kita mengakui bahwa Roh Kudus bekerja secara aktif melalui dan di dalam diri imam sepanjang liturgi, oleh karena rahmat tahbisannya. (lih. Pius Parsch, The Liturgy of the Mass (St. Louis: B. Herder, 1957), p. 109.)

Jeremy Driscoll menjelaskan, “Umat mengacu kepada ‘roh’ sang imam, yaitu bagian dirinya yang terdalam di mana ia telah ditahbiskan sesungguhnya untuk memimpin umat di dalam tindakan yang sakral ini. Umat mengatakan, ‘JADILAH IMAM BAGI KAMI SAAT INI’, dengan menyadari bahwa hanya ada satu Imam, yaitu Kristus sendiri, dan bahwa orang ini yang mewakili-Nya harus sungguh-sungguh siap melakukan tugas yang sakral ini dengan baik.” (Jeremy Driscoll, What Happens at Mass (Chicago: Liturgy Training Publications, 2005), p. 25).

Kita mengucapkan, “Dan bersama roh-mu”, karena sepenuhnya menyadari bahwa pada saat itu -dalam liturgi suci-  imam bertindak sebagai Kristus, ‘in persona Christi‘, atas kuasa tahbisannya.

Seorang Santo di abad modern ini, St. Josemaria Escriva mengajarkan bahwa doa semacam ini bagi para imam adalah sangat penting, apalagi dalam konteks Misa Kudus: “Saya memohon kepada semua orang Kristen untuk berdoa dengan sungguh-sungguh bagi kami para imam, agar kami belajar untuk melakukan kurban kudus ini dengan cara yang kudus.

Saya mohon agar kalian menunjukkan kasih yang mendalam kepada Misa Kudus. Dengan cara ini, kalian akan meneguhkan kami para imam untuk merayakannya dengan penuh hormat, dengan martabat ilahi dan manusiawi: untuk menjaga kebersihan jubah pakaian ibadah dan semua benda yang digunakan untuk penyembahan, dan untuk bertindak dengan khusuk, dan tidak terburu-buru.” (St. Josemaria Escriva, Christ is Passing By, p. 15. As cited in Charles Belmonte, Understanding the Mass (Princeton, NJ: Scepter, 1989), p. 53).

Begitu dalamnya makna ucapan salam ini, dan karena itu mari kita menghayatinya dan meresapkannya ke dalam hati kita, pada saat kita mengucapkannya.

Sumber utama:

Sri, Edward (2011-01-04). A Biblical Walk Through The Mass: Understanding What We Say And Do In The Liturgy (pp. 24-29). Ascension Press. Kindle Edition.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here