Mendengar kata tobat, barangkali kita sedikit mengedip mata, apakah ada yang sungguh bertobat? Bertobat seringkali menjadi lelucon diantara teman. “Wah kamu bertobat yah?”

Tetapi pertobatan memang proses. Sebab pertobatan bagaikan bakal buah yang tumbuh. Ia harus terlebih dahulu melepaskan cangkangnya dan kemudian bijinya mengeluarkan tunas pertumbuhan.

Jika biji itu adalah hati kita, karena dibalut oleh kebiasaan daging yang empuk kemudian tumbuh menjadi tumbuhan ara yang berbuah, bukankah itu menggembirakan?

Bertobat

Pertobatan bukanlah sebuah ungkapan yang indah. Tetapi pertobatan perlu usaha dan perjuangan yang barangkali keras dan lebih dari itu.

Dalam bacaan injil, Minggu prapaskah III ini,  Yesus meminta kita bertobat. Apa yang Dia katakan?

Seringkali kita mudah menilai fenomena dan pristiwa di luar atau disekitar kita,  misalnya,  oh bencana gempa bumi terjadi karena orang tidak lagi bertobat.  Tetapi Yesus menegaskan bahwa baik orang yang mati seperti itu maupun yang tidak,  jika tidak bertobat tidak ada beda keduanya.

Hal itu diumpamakan dengan pohon ara yang tidak berbuah. Kalau tidak berbuah maka pohon itu dipotong dan dibuang, ranting-rantingnya di cecah dan dibakar.

Lalu bagaimana kita harus bertobat? 

Dalam bacaan I,  pertobatan ditunjukan dalam sikap dan panggilan Musa. Musa pertama-tama mendengarkan Sabda Allah.

Ia mendengar suara Allah lalu percaya kepada-Nya.  Setelah percaya ia menjadi pelaku Sabda Allah.  Musa kemudian dipercaya oleh Tuhan untuk membebaskan orang Israel dari perbudakan.

Jadi pola pertobatannya ialah seperti Musa mendengarkan,  mendekati Tuhan, memahami kemudian menjadi pelaksana Sabda untuk menjadi pemimpin bagi bangsa Israel.

Maka, harus disadari buah pertama pertobatan ialah kita menjadi pendengar Sabda yang baik. Mendengarkan Tuhan.  Itu berarti membuka selebar-lebarnya hati kita dan menyelidiki hidup kita, apakah sesuai dengan kehendak Tuhan atau tidak.

Kedua, supaya dekat dengan Tuhan, kita perlu mendengarkan SabdaNya. SabdaNya itu bahkan muncul dari semak duri yang terbakar.  Menarik Tuhan menampakan diri-Nya dari semak.

Barangkali perumpamaan ini menyadarkan kita bahwa nasehat itu tidak selalu datang dari orang yang sukses misalnya nasihat dari penguasa, orang yang reputasi dirinya baik, dan sebagainya. Namun Nasihat Tuhan itu bisa datang dari orang yang tidak kita anggap, orang yang kita anggap hina dsbnya.

Mendekatkan dengan Tuhan tidak hanya mendengar wejangannnya, nasihat dan tegurannya melalui Kitab Suci atau sesama tetapi kita juga diajak untuk berdoa. Berdoa berarti membangun komunikasi dengan Allah. Orang berkomunikasi karena mereka ingin saling dekat.

Ketiga, setelah dekat dengan Tuhan dan merenungkan SabdaNya kita diajak berbuat baik kepada banyak orang atau berbuah.  Berbuah berarti bertindak nyata sehingga dirasakan kebaikannya oleh banyak orang. Inilah yang diharapkan oleh tuan kebun terhadap pohon ara.

Perubahan inilah yang disebut perubahan hidup. Hidup harus dirubah dari dalam, dari hati. Hati mendengarkan Tuhan atau kebenaran, kepedulian, cinta kasih, kemudian melaksanakannya dalam tindakan atau aksi nyata.

Maka apa aksi nyata kita pada masa pra-paskah ini? Mari kita membaharui hidup kita.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here