Hari Perkawinan sedunia tahun ini jatuh pada tanggal 9 Februari 2020. Hari perkawinan sedunia biasanya berlangsung setiap tahun pada Minggu kedua bulan Februari.


Pada hari itu kita menghormati anugerah perkawinan sebagai dasar terbentuknya sebuah keluarga dan masyarakat. Pada hari perkawinan sedunia, pasangan suami-isteri merayakan dan menghargai keindahan kesetiaan mereka satu sama lain, kesediaan mereka untuk berkorban sebagai pasangan dan mensyukuri sukacita perkawinan dalam kehidupan sehari-hari.

Kita tahu, bahwa perkawinan adalah bentuk hubungan antara seorang laki-laki dan seorang perempuan yang juga diatur oleh hukum baik hukum sipil maupun hukum Gereja. Meskipun demikian, perkawinan pada dasarnya berarti membangun komitmen bersama
sepanjang hidup untuk saling mencintai satu sama lain, antara seorang laki-laki dan seorangperempuan. Komitmen bersama sepanjang hidup untuk saling mencintai satu sama lain inilah yang sebenarnya ingin dirayakan pada hari perkawinan sedunia.

Maka motto dari hari perkawinan sedunia ialah: cintailah satu sama lain. Motto ini bersifat tetap dan sebenarnya diambil dari Injil Yohanes 15:12. Motto ini tentu saja berangkat dari keyakinan dasar, bahwa cinta adalah kekuatan yang mempersatukan semua orang termasuk suami-isteri. Pertanyaan kita: Bagaimana bertumbuh dalam cinta kasih perkawinan?

Baca Juga : Jadi Pastor, Bermula dari Kekaguman

Tentu saja ada sejumlah cara bagaimana bertumbuh dalam cinta kasih perkawinan. Dalam rangka hari perkawinan sedunia
ini, saya ingin menyebutkan pentingnya satu hal, yaitu Dialog.

Mengapa Dialog? Merenungkan cinta dalam perkawinan berarti merenungkan cinta antara suami dan isteri. Suami-isteri, meskipun sudah disatukan dalam perkawinan melalui janji, tetaplah merupakan dua pribadi yang mandiri, otonom dan berkehendak bebas. Sakramen perkawinan memang menyucikan, memperkaya, menerangi dan memperkuat cinta suami-isteri.

Tetapi suami-isteri yang bersatu di dalam perkawinan tetap merupakan dua pribadi yang berbeda. Untuk membangun dan bertumbuh dalam cinta kasih perkawinan antara dua pribadi yang berbeda itu maka perlu menekankan pentingnya Dialog.

Baca Juga : Van Vollenhoven Geneologi Konflik Agraria Indonesia

Dialog merupakan sebuah cara yang istimewa bagi pasangan suami-isteri untuk untuk menghayati, mengungkapkan,
membangun dan akhirnya bertumbuh dalam kasih perkawinan dan hidup berkeluarga. Pasangan suami-isteri perlu belajar dan membiasakan diri untuk mengungkapkan dan bertumbuh dalam kasih perkawinan lewat dialog.

Baca Juga :

Dialog pasangan suami-isteri hanya dapat
berhasil lewat proses belajar yang panjang dan meminta banyak kesabaran. Sebab setiap pribadi memiliki cara yang khas dalam mengungkapkan dan menghayati cinta. Dalam hal ini, barangkali studi dari Gary Chapman mengenai lima bahasa cinta (Die fünf Sprachen der Liebe) bisa dipakai sebagai bantuan agar dialog pasangan suami-isteri di dalam perkawinan berhasil baik dan membuat mereka bertumbuh dalam kasih perkawinan.

Pertama, sentuhan fisik. Sentuhan fisik merupakan bentuk ungkapan cinta yang sangat tua. Ada sejumlah penelitian dalam psikologi perkembangan yang menggambarkan, bahwa seorang anak yang mengalami sentuhan kasih dari orang-orang terdekatnya, misalnya lewat pelukan, rangkulan, ciuman, dll., akan bertumbuh sebagai anak yang memiliki pribadi dengan jiwa yang sehat. Sentuhan fisik merupakan bentuk bahasa yang mengungkapkan cinta.Pentingnya sentuhan fisik dalam mengungkapkan cinta juga kita temukan dalam narasi Kitab
Suci. (bdk. Markus 10:13).

Kedua, kata-kata peneguhan. Cinta adalah sebuah seni bagaimana meneguhkan,
menguatkan, memotivasi dan membesarkan hati orang lain. Kita semua pernah mengalami  situasi dimana kita merasa tidak nyaman, kurang percaya diri, takut, cemas, dll. Kata-kata pujian, kata-kata yang meneguhkan sangat diperlukan dalam situasi seperti itu.

Baca Juga : Pengukuhan Sahabat MSF di Kota Palangkaraya

Kata-kata kasar, kata-kata yang penuh kritik dan merendahkan sama sekali bukanlah bahasa yang baik dalam
mengungkapkan cinta. Pentingnya kata-kata yang meneguhkan juga kita temukan dalam narasi Kitab Suci, bahwa perkataan yang baik menggembirakan orang (Bdk. Amsal 12:25).

Ketiga, waktu berkualitas. Ada pribadi yang merasa dicintai jika kita sungguh menyediakan waktu untuknya. Yang penting ialah: menyediakan waktu yang tidak terbagi khusus baginya, tidak peduli apa yang dilakukan. Itulah yang disebut dengan waktu berkualitas.

Banyak diantara kita yang berusaha untuk mengidentifikasi masalah kemudian mencarikan solusi yang tepat. Waktu berkualitas tidak bicara mengenai masalah. Juga tidak memusingkan
diri dengan jalan keluar terhadap masalah. Waktu berkualitas berbicara mengenai hubungan yang dinamis dan hidup.

Sungguh-sungguh mendengarkan, ada bersama pasangan, dan memperhatikan pasangan sepenuh hati adalah bentuk konkret dari cara mengungkapkan cinta.
Menunjukkan waktu berkualitas. Pentingnya waktu berkualitas juga kita temukan dalam narasi Kitab Suci, ketika Yesus ingin sendirian bersama para murid-Nya. (bdk. Markus 6:31).

Baca Juga : Mengenal Salah satu Misionaris Perintis Katolik di Daerah Barito-Kalteng: P. Herman J. Stalhacke MSF (Part 1)

Keempat, tindak pelayanan. Cinta bisa diungkapkan lewat tindak pelayanan. Hal ini sama sekali bukan sesuatu yang baru dalam tradisi Kristiani. Yesus menunjukkan kepada para murid-Nya agar mereka mengungkapkan cinta lewat tindak pelayanan dan pembasuhan kaki. (Bdk.Yoh. 13:13-17). Paulus dalam suratnya juga menegaskan, agar jemaat di Galatia melayani satu sama lain melalui cinta. (Bdk. Gal. 5:12).

Kelima, hadiah. Hadiah merupakan simbol. Sebuah simbol memiliki nilai yang sangat
emosional. Tanda cinta yang kelihatan bagi orang tertentu lebih penting daripada yang lain. Itulah hadiah. Ada orang tertentu yang tidak pernah mengenakan cincin kawinnya sesudah menikah karena sangat kecewa dengan sikap pasangan yang tidak pernah menyediakan waktu untuk berlibur bersamanya.

Hal itu tidak perlu terjadi, jika pasangan tahu bahwa waktu berkualitas bagi yang bersangkutan merupakan bahasa yang paling efektif dalam mengungkapkan cinta.
Kita semua, entah perempuan atau laki-laki, orang muda atau orang dewasa, suami atau isteri, berkomunikasi dengan cara yang berbeda-beda.

Kita mengucapkan bahasa yang berbeda
dan bertindak dengan cara berbeda pula. Cara kita bertanya dan menjawab pertanyaan, nada yang kita gunakan, pilihan waktu, pemberian-pemberian yang kita bawa dan banyak faktor lainnya dapat mempengaruhi berhasil tidaknya sebuah dialog. Terutama di dalam kehidupan
perkawinan dan keluarga, suami-isteri perlu mengembangkan beberapa bahasa yang mengungkapkan kasih dan mendorong dialog yang sejati.

Suami-isteri perlu tahu kapan pasangan sungguh merasa dicintai? Studi dari Gary Chapman mengenai lima bahasa cinta
(Die fünf Sprachen der Liebe) bisa dipakai sebagai bantuan agar dialog pasangan suami-isteri di dalam perkawinan berhasil baik. Dengan demikian, diharapkan, bahwa mereka bertumbuh dalam kasih perkawinan.


 

Selamat merayakan hari perkawinan sedunia!


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here