Bagi umat Katolik wilayah Kalimantan Tengah (khususnya daerah Barito, Pangkalan Bun dan sekitarnya), nama Pastor Herman Josef Stahlhacke, MSF tidak asing lagi.

Misionaris asal Jerman ini menjadi salah satu pelaku sejarah pertumbuhan dan perkembangan iman Katolik.

Sejak menginjakkan kaki di tanah Borneo bulan April 1964, terobosan demi terobosan dibuatnya agar agama Katolik dapat menancapkan kaki lebih dalam dan terus berkembang di wilayah Zending ini.

Sejarah mencatat bahwa pada zaman penjajahan Belanda wilayah Kalimantan Tengah dan Selatan pernah menjadi kawasan ‘terlarang’ bagi kegiatan para missionaris Katolik dari negara-negara Eropa.

Ada pembagian jelas antara Kalimantan Tengah-Selatan sebagai wilayah pelayanan missionaris Protestan (Zending), sedangkan Kalimantan Timur dan Barat sebagai wilayah karya missionaris Katolik. Alhasil, perkembangan kekatolikan di wilayah Kalteng-Kalsel sempat terhambat. Namun, tidak ada kata terlambat bagi sebuah usaha demi kemuliaan Tuhan dan keselamatan manusia.

Setelah Indonesia merdeka, para Missionaris asal Belanda bebas berkarya di Kalsel-Kalteng, tetapi misionaris baru mendapat hambatan untuk izin masuk Indonesia. Situasi tersebut menjadi perhatian Kongregasi MSF. Perlu ada misionaris ke daerah Kalimantan. Maka, Jenderal MSF waktu itu, P. Bliestle, MSF meminta MSF Propinsi Jerman untuk menyiapkan calon-calon misionaris ke Indonesia demi memperkuat barisan para misionaris Eropa yang sudah ada di wilayah Kalimantan.

Mereka dikirim dalam tiga gelombang; yang pertama 3 orang tahun 1960. Mereka ditempatkan di Sampit dan Palangka Raya. Untuk kelompok kedua dicari dua orang. Salah seorang tenaga misonaris yang sudah bersedia yaitu adalah P. Josef Mohr, MSF (yang juga menjadi misionaris di Kalimantan). Masih diperlukan satu tenaga lagi. Melihat situasi ini, Pastor Herman mengajukkan dirinya untuk menjadi misionaris ke Indonesia.

“Setelah ditahbiskan menjadi imam, saya melanjutkan studi di Universitas di Jerman. Tetapi saya ingin menjadi misionaris. Maka saya mengajukan diri kepada Provinsial MSF Jerman untuk dikirim ke Kalimantan,” kisahnya.

Api misioner yang sedang berkobar-kobar dalam diri Pastor Stahlhacke disambut baik oleh Pastor provinsial. Bersama dengan P. Mohr, kedua imam muda ini segera dikirim pada akhir 1963 untuk mengikuti kursus singkat mengenai pengobatan khusus daerah tropis di Basel-Swiss. Setelah kursus, P. Mohr lebih dahulu menuju Indonesia. Sebulan setelahnya, P. Stahlhacke tiba di Indonesia, tepatnya 28 Maret 1964 di Tanjung Priok dengan menumpang kapal laut dari Genoa-Italia.

“Semula kami mendapat tugas perutusan di Keuskupan Samarinda, tetapi kemudian Pater Jenderal memindahkan kami ke Keuskupan Banjarmasin dengan alasan agar para Misionaris Jerman berada dalam satu Keuskupan,” ujarnya.

Keduanya belajar bahasa Indonesia di Banjarmasin beberapa minggu bersama dengan seorang suster SFD. Pastor Mohr, rekannya kemudian mendapat tugas di Palangka Raya bersama teman Jerman Pastor Karl Klein, MSF, tetapi atas permintaan sendiri, Pastor Mohr ditugaskan di Pangkalan Bun yang belum mempunyai seorang gembala. Sedangkan P. Stahalhacke mendapat pembenuman di Muara Teweh bersama Pastor Jan Zoetebier, MSF.

Kehadiran kedua Missionaris Jerman ini memperkuat tenaga misionaris Jerman yang sudah datang ke Kalteng. Mereka berhadapan dengan situasi baru dan mengalami akibat baik dari perkembangan Gereja Katolik sesudah Konsili Vatikan II yang berbeda dari masa lalu, waktu ada perlawanan dari para Misionaris Zending.

Bahkan dua Misionaris muda ini memulai suatu gerakan oekumenis dengan mendirikan masing-masing sebuah SMP-Oekumenis, yang satu di Buntok dan yang lain di Pangkalan Bun. Hal ini diperkuat dan diresmikan oleh Uskup Banjarmasin, Mgr. Wilhelmus Demarteau, MSF dengan mendirikan Yayasan Pendidikan Oekumenis ‘ABDI’ bersama Ketua Majelis GKE, Pendeta Saloh. Kekatolikan dan metode pewartaan harus dicari untuk memulai pewartaan kabar gembira di tanah Tambun Bungai ini.

Dalam buku, “Mereka Itu datang Dari Jauh,” Mgr. Demarteau, MSF mencatat, pada tahun 1896 sebenarnya sudah ada imam Jesuit P. E. Engbers, SJ yang mengunjungi Muara Teweh dan Puruk Cahu. Beberapa orang sudah menjadi Katolik, namun tidak terdata.

Tahun 1907, beberapa anggota Ordo Kapusin di Kalbar yang membuka stasi di Laham, Hulu Sungai Mahakam Kaltim, juga melayani di daerah ini. Hanya dua tempat inilah yang diizinkan pemerintah kolonial Belanda. Namun pelayanan itu sempat terhenti karena kekurangan tenaga misionaris. Hingga datanglah Kongregasi MSF ke Kalimantan pada tahun 1926.

Sejarah kekatolikan di wilayah Barito bermula lagi dari Muara Teweh. Saat itu, sudah ada 3-4 Keluarga Katolik datang dari Tiongkok. Mereka dilayani oleh para Misionaris MSF, meski kegiatan misionaris Katolik waktu itu dilarang oleh kolonial Belanda. Pelayanan terus dilakukan hingga pada tahun 1954, Muara Teweh resmi menjadi paroki untuk daerah aliran sungai Barito.

Imam pertama di Paroki tersebut adalah Pastor Kappert, MSF yang kemudian harus pulang, karena sakit. Ia digantikan oleh P. Zoetebier ‘yang boleh disebut peletak dasar Gereja Katolik di daerah aliran sungai Barito,’ tulis mgr. Demarteau.
Dari beberapa orang ini, para misionaris berusaha merawat mereka. Dan supaya misi semakin berkembang, para misionaris melibatkan kaum awam. Bahkan tercatat, kaum awam awal dari penduduk setempat membantu para misionaris dari Eropa.

“Kelompok pertama kaum awam adalah 4 anak muda tamatan SGB (Sekolah Pendidikan Guru) di Muara Teweh, yang dibaptis Pastor Kappert. Mereka pulang ke kampung dan dibekali dengan buku-buku pelajaran agama Katolik, buku doa dan nyanyian.

Mereka memulai gerakan sederhana membentuk umat Katolik di hilir Muara Teweh, daerah Kandui, Buntok, Telekoi dan Hingan. Kelompok kedua adalah anak-anak muda bekas pejuang gerilya yang dipenjarakan di Muara Teweh. Selama di penjara, mereka secara bergilir mendapat siraman rohani atas permintaan kepala penjara oleh Pendeta, Ulama dan Pastor. Lima di antara mereka kemudian minta dibaptis oleh Pastor Zoetebier, MSF, yang juga membekali mereka dengan buku-buku rohani.

Tiga diantara mereka kemudian sangat aktif mengumpulkan anggota keluarga dan kenalan di kampung halaman, sehingga waktu daerah Barito sudah dinyatakan bebas Gerilya dan Pastor boleh mengunjungi kampung-kampung, ia sudah bertemu dengan kelompok-kelompok kecil yang mirip umat Katolik,” kisahnya.

Pada tahun 1965, oleh Mgr. Demarteau, Uskup Banjarmasin, Pastor Stahlhacke ditugaskan sebagai Pastor Paroki Buntok, di wilayah Barito. Paroki ini berdiri pada 1 Januari 1965 dengan jumlah umat waktu itu sekitar 500 jiwa, hasil pemekaran dari Paroki Muara Teweh, dimana masih tinggal 300 orang Katolik. Dengan demikian, ia menjadi Pastor Paroki pertama di Buntok.

Bersambung ke…part 3

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here