Bacaan I Keb 2:1a,112-22 Injil Yoh 7:1-2, 10,25-30

Hari-hari ini portal berita internasional baik media cetak maupun media masa kerap diisi dengan peristiwa pembunuhan, perampokan, pemerkosaan, pejabat publik yang salah mengambil kebijakan dan politisi koruptor. Serentak nama-nama dibalik peristiwa ini kerap menjadi buah bibir di jagat media sosial dan menimbulkan kontroversi.

Meme tentang siapa mereka viral di mana-mana. Belum lagi polah publik yang lihai dan pandai menggoreng isu. Pendek kata, mereka dihukum secara massa. Lantas, bergiliran orang menyampaikan litani rasa kesal yang rupanya macam-macam; “rasain lu”, “dibunuh saja orang-orang biadab seperti ini” atau “dihukum seumur hidup” dan seterusnya. Dinamika macam ini tidak ada matinya, terus-menerus seperti itu.

Yesus yang menjadi Kontroversi

Bacaan Injil hari ini memuat kisah Yesus yang menjadi pusat kontroversi di kalangan orang Farisi, walaupun Dia sudah mengerjakan banyak hal yang baik kepada semua orang. Yesus seolah-olah diajak untuk berkelahi kendati Dia tidak menginginkannya.

Orang-orang Farisi mempertanyakan identitas-Nya sebagai Nabi atau Mesias; dua kedudukan yang oleh mereka tidak cocok dikenakan pada Yesus.  Memang selama masa-Nya di bumi, tidak mudah bagi Yesus untuk menjalani kehidupan yang setia kepada kehendak Bapa-Nya.

Dia ditantang dan dianiaya karena mendemonstrasikan kebenaran Allah dan membantu membawa terang.

Inilah yang kita simak dalam bacaan pertama dari Kitab Kebijaksanaan yang bebicara tentang orang-orang jahat yang berkomplotan melawan “yang adil” karena mereka terancam oleh apa yang benar. Orang Yang Adil adalah Putra Allah, Yesus.

Orang-orang jahat tidak segera menyadari kesalahannya  sebagai tanggapan terhadap pengajaran Orang Benar, malah mereka memutuskan untuk menyingkirkan Orang Benar, Allah sendiri.

Tanggapan Manusia

Salah satu penyakit orang-orang Katolik pada masa kini adalah membiayai sakit fisik dengan harga semahal apa pun tetapi tidak pernah berusaha menyembuhkan penyakit rohani yang sama sekali tidak membutuhkan uang.

Segelintir orang kerap pesimis dan terus mengambil posisi ragu-ragu; siapa Yesus, siapa Mesias itu. Timbul semacam perang dingin antara percaya kepada Tuhan tetapi takut untuk memulai  atau lebih memilih percaya pada kehendak pribadi yang derajadnya bisa diukur masing-masing orang.

Paradoks Hidup dalam Tuhan

Kadang-kadang kita bertanya apakah saya sudah cukup berbuat untuk memberitakan Cahaya dan Kebenaran. Jika kita mencari kehendak Allah dan menjadi anak-anak-Nya, maka hidup kita harus menjadi tantangan bagi mereka yang tidak berjalan di jalan yang mengarah pada Terang dan Kebenaran.

Kita harus menghadapi pertentangan dari mereka yang menentang cara Allah. Tantangan kita ada di sini. Kita tidak cukup tenaga untuk melawan, entah alasan karena takut atau memilih setia menjadi Katolik tanpa harus terbuka dengan unsur kekatolikan kita.

Mari kita bangkitkan lagi semangat hidup dalam salib Tuhan. Salib merangkul di dalamnya, hidup, mati, penderitaan dan cinta. Allah tidak meminta kita untuk dianiaya tetapi masalahnya kita berusaha terlalu keras untuk tetap tersembunyi daripada keluar di tempat terbuka dan menyatakan iman pada Kebenaran dan Terang. Hidup dalam Salib terasa paling tidak masuk akal bila kita mendengarkan terlalu banyak kebodohan dunia.

Berdirilah di Jalan Kebenaran Tuhan Kamu Sendirian

Sebagaimana Yesus dalam Injil, Ia bersedia menantang orang-orang dengan Terang dan Kebenaran, bahkan jika itu berarti penganiayaan-Nya sendiri. Dia percaya pada kehendak Bapa-Nya. Dia rela dilucuti kemanusiaan-Nya demi kebijaksanaan dan kebenaran Bapa-Nya. Yesus bahkan sejak awal tahu bahwa “Jam kemuliaan-Nya akan mencakup penyaliban dan kebangkitan-Nya dan menunggu sampai saatnya tiba.

Bagaimana saya bisa mendukung mereka yang dianiaya karena menghidupi kebenaran dengan kata dan tindakan?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here