musafirmsf.com-Tulisan ini adalah sebuah refleksi penulis disela-sela dinamika KAPITEL MSF Propinsi Kalimantan yg dilaksanakan pada tanggal 22-29 Oktober 2019 di Banjarbaru.

Sebagai anggota Kapitel saya patut bersyukur mengikuti Kapitel Propinsi Kalimantan: sebuah forum tertinggi dalam Propinsi. Dalam Kapitel ini banyak keputusan dan rekomendasi ditetapkan bersama. Para Bapa Kapitel juga telah memilih Dewan Pimpinan Propinsi untuk periode 2019-2022.

Di sudut meja Komunitas Lamin Etam (kelompok meja diskusi), saya bertanya dalam kesadaran: “mentalitas seperti apa yg bisa saya upayakan dalam diri saya sebagai anggota MSF? Pertanyaan ini menjadi sangat penting bagi saya karena saya menyadari bahwa mentalitas akan menentukan dan memengaruhi baik atau buruk, maju atau mundur dan berkembang atau tidaknya MSF.

Ketika Dewan Pimpinan Propinsi terpilih, disudut meja yang sama saya berkata dalam hati “sekalipun Dewan Pimpinan yang telah dipilih itu Visioner dan Proaktif, juga keputusan-keputusan serta rekomentasi  Kapitel penting dan mendesak, akan tetapi semua itu akan menemukan kesulitan berat ketika saya sebagai anggota justru memilih menyembah mentalitas pribadi tidak efektif.

Foto bersama dengan Pater Jendral MSF, P. Agustinus Purnama MSF

Mentalitas Tidak Efektif

Seperti apa mental tidak efektif itu? Ada dua poin yang saya renungkan yaitu sbb:

Pertama, mental yang tidak efektif biasanya tumbuh dalam diri saya atau mungkin dalam setiap anggota yg merasa diri terasing.  Saat dimana  setiap Kebijakan, bahkan setiap prosedur, visi dan misi serta strategi misi selalu saya lihat melulu dari sisi negatifnya saja.

Saya  mudah berkonfrontasi dengan anggota yang lain. Bahkan saya menjadi keras kepala dan terus menentang anggota yang lain termasuk pemimpin saya. Saya menyadari bahwa  cepat atau lambat saya  hanya akan menemukan banyak musuh dalam MSF dan bukan sahabat atau saudara atau keluarga sendiri. Saya perlahan menjadi jauh dari semangat Satu Misi satu Keluarga MSF.

Repotnya lagi tanpa sadar saya  menilai diri saya yang paling benar, bahkan mengangap diri saya sebagai pembela terhadap sesuatu yang ideal. Pemimpin pun akan menilai saya  sebagai sosok penggangu, penghambat,  tidak bekerja sama, keras kepala tapi tidak bijaksana.

Kedua, mentalitas anggota yang tidak efektif tampak dalam diri yang konformistis. Jenis ini nampak dalam diri saya atau mungkin angota yang lain yang kelihatannya aktif,  kelihatannya siap sedia dalam situasi apapun. Kelihatannya bekerja tanpa banyak kata. Kelihatannya cenderung patuh menjalankan perintah atau aturan yang ditetapkan pimpinan. Kelihatannya berjuang untuk menghindar atau menolak konflik alias cari aman dan nyaman untuk diri sendiri. Sadar atau tidak Janis ini ibarat ada dan tidak ada, tetap sami mawon. Pimpinan visioner dan proactive biasanya gregetan melihat anggota jenis ini.

Kegembiraan bersama setelah Kapitel MSF Propinsi Kalimantan 2019

Ketiga, mentalitas angota yang tidak efektif tampak dalam diri anggota yang pragmatis.  Jenis pragmatis  ini selalu berusaha untuk ada di tengah-tengah. Nyaris tidak punya komitmen pada tujuan. Tidak mau ambil resiko. Bekerja sedang-sedang saja. Pokoknya asal bekerja itu sudah baik. Urusan masalah efektif dan target hasil itu tidak masuk dalam pertimbangan. Yah, pokonya asal bekerja.

Untuk sebagian pemimpin menilai anggota jenis ini bisa menjadi penyumbat bulu nadi organisasi  atau kelompok. Jenis ini tampak ambigu: karakter positif dan negatif tidak jelas. Jika ada konflik ia memilih untuk diam.

Keempat, mentalitas tidak efektif nampak dalam diri anggota yang PASIF. Jenis anggota yang pasif tidak memiliki inisatif, alias tidak proactive. Cenderung menghindari tanggungjawab dan ketergantungan terlalu kuat kepada pemimpin. Anggota jenis ini memerlukan arahan terus menerus dari pemimpin atau senior ketika menjalankan tugas. Ia tidak menyelesaikan tugas dengan antusias. Gairah batin meredup. Ibarat hidup segan mati tak mau.

Para pemimpin yang proactive dan visioner seringkali menilai anggota jenis ini tidak mampu, malas, tidak semangat dan menghambat.

Melihat empat mentalitas anggota di atas, melalui refleksi ini, saya mengajak diri saya dengan sekuat tenaga untuk terus belajar. Belajar menjadi anggota yang efektif.

Menjadi Anggota Yang Efektif

Tidak mudah memang untuk menjadi anggota MSF yang efektif. Mengapa tidak mudah? Karena Jenis ini biasanya dibentuk oleh beberapa hal berikut ini:

Pertama, menejemen diri. Manajemen diri artinya saya sebagai anggota harus belajar untuk berpikir mandiri, bertindak  atau bekerja tanpa harus diawasi. Anggota seperti ini  biasanya pemimpin suka mendelegasikan tanggungjawab kepadanya. Jenis anggota ini berani berkonfrontasi jika untuk kepentingan bersama yg lebih baik dan bukan konfrontasi untuk kepentingan dan kesenangan sendiri.

Kedua,berkomitmen. Komitmen ini berkaitan langsung pada visi, misi dan strategi misi MSF.  Ia melihat pemimpin sebagi mitra dalam upaya mencapai visi misi MSF. Anggota jenis ini mampu menyeimbangkan antar visi misi pribadi dengan visi misi sebuah organisasi.

Ketiga, kompetensi yaitu mengasah diri menjadi cakap dalam tugas dan pelayanan.  Anggota yang efektif terus menerus belajar, berproses mengasah keahliannya, kecakapannya untuk semakin kompeten sebab pada prinsipnya anggota yang berkomitmen tanpa ada kompetensi ia tetap tidak kompeten.

Dari permenungan ini saya mengajak diri saya sebagai MSF untuk menjadi anggota MSF yang efektif dengan tetap berpijak pada Kharisma dan Spiritualitas Pendiri kita. Semakin berpijak pada sumber yang tepat, maka kita akan semakin menjadi anggota yang efektif.

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here