Dear Pastor terkasih, saya seorang ibu katolik. Saya sudah lama menikah dengan suami saya. Tetapi kami belum ada momongan. Ada orang yang menawarkan ke kami mengenai bayi tabung. Saya dan suami  pun ingin menjalani proses bayi tabung, karena kami rindu punya momongan. Tetapi supaya apa yang kami lakukan tidak bertentangan dengan iman, nah bagaimana pandangan iman Katolik mengenai bayi tabung? 

Terimakasih! Ibu AN


Terimakasih atas pertanyaan saudara. Apa yang Anda tanyakan berkaitan dengan apa yang dalam dunia medis disebut intervensi tehnik dalam prokreasi. Umumnya orang menyebutnya juga sebagai prokreasi buatan atau pembuahan buatan.

Prokreasi buatan ialah pelbagai teknik yang dimaksudkan untuk menghasilkan pembuahan dengan cara yang berbeda dengan persetubuhan suami-isteri atau senggama. Salah satu dari prokreasi buatan ialah pembuahan sel telur dalam tabung atau fertilisasi in vitro.

Saya harap, bahwa pertanyaan Anda terkait dengan fertilisasi in vitro ini. Tanpa bermaksud menjelaskan praksis pelaksanaan fertilisasi in vitro, yang pasti ialah fertilisasi in vitro menuntut pembuahan dan penghancuran embrio manusia yang tak terbilang jumlahnya. Hal ini sangat bertentangan dengan Ajaran Gereja mengenai prinsip hormat terhadap hidup manusia sejak dini, sejak pembuahan.

Baca Juga : Kampung Misi yang Tergerus

Tentu saja, kerinduan Anda akan anak adalah sesuatu kodrati. Kerinduan ini merupakan bentuk ungkapan panggilan kepada peran sebagai orangtua yang ada dalam kasih suami-istri. Kerinduan ini barangkali dapat makin kuat, bila pasangan suami-isteri menderita kemandulan, mungkin seperti yang Anda alami. Memang tidak begitu jelas bagi saya, apakah kesulitan Anda untuk memiliki anak disebabkan oleh alasan-alasan medis yang tak dapat disembuhkan. Tetapi perlu saya jelaskan, bahwa perkawinan sama sekali tidak memberikan kepada suami-istri hak untuk mempunyai dan memiliki anak. Suami-isteri hanya memiliki hak untuk melakukan tindakan yang menurut kodratnya terarah pada prokreasi yaitu senggama atau persetubuhan.

Gereja mengajarkan, bahwa hak dalam arti sebenarnya dan sesungguhnya atas anak, justeru bertentangan dengan martabat dan hakikat anak. Anak pada dasarnya sama sekali bukan sesuatu yang merupakan obyek hak. Anak tidak dapat dipandang sebagai obyek kepemilikan.

Anak adalah anugerah yang mulia dari Allah. Anak adalah buah kasih orang tuanya, anugerah bebas dalam perkawinan, dan merupakan kesaksian hidup penganugerahan timbal balik suami-isteri sebagai orang-tuanya.

Oleh sebab itu, anak mempunyai hak untuk menjadi buah tindakan khas kasih orangtuanya. Ia juga mempunyai hak untuk dihormati sebagai pribadi sejak saat pembuahan.

Baca Juga : Berdirilah di Jalan Tuhan Kendati Kamu Sendirian

Suami-istri yang tak subur tak boleh lupa, bahwa hidup perkawinan tak kehilangan makna, bila prokreasi hidup baru tak mungkin. Kemandulan jasmani dapat menjadi kesempatan bagi suami-istri untuk ambil bagian dalam pelayanan penting kehidupan, seperti adopsi, berbagai bentuk karya pendidikan, menolong keluarga lain, membantu anak-anak miskin atau cacat, dll.

Anugerah kesuburan suami-istri harus dipahami dalam arti yang jauh lebih luas daripada kesuburan biologis. Kasih suami-istri merupakan ungkapan nyata kasih Allah terhadap umat manusia. Kasih itu memanggil semua orang untuk mencinta, mengabdi, melindungi dan memajukan hidup manusia dalam semua dimensinya, juga bila dalam kenyataan tak dapat dalam arti biologis membuahkannya.

Baca Juga : Bertumbuh dalam Kasih Perkawinan

Ada sejumlah alasan mengapa Gereja menolak intervensi tehnik dalam prokreasi, prokreasi buatan atau pembuahan buatan termasuk pembuahan sel telur dalam tabung atau fertilisasi in vitro seperti yang Anda tanyakan. Tetapi sebagai pegangan, berikut ini prinsip-prinsip yang menjadi dasar pertimbangan Gereja bagi prokreasi buatan.

  • Prokreasi insani harus terjadi dalam perkawinan. Alasannya: Setiap makhluk insani harus selalu disambut sebagai anugerah dan berkat Allah.
  • Dari sudut moral, prokreasi yang dipertanggungjawabkan terhadap anak yang akan lahir haruslah merupakan buah perkawinan.
  • Dari sudut moral, prokreasi kehilangan kesempurnaannya yang khas bila tidak dikehendaki sebagai buah sanggama khas suami-istri. Sanggama yang memperlihatkan penganugerahan diri timbal balik suami-istri, sekaligus mengungkapkan jalan terbuka untuk memberikan anugerah kehidupan. Sanggama adalah tindakan jiwa-raga tak terpisahkan. Dalam tubuh dan melalui tubuh suami-istri mewujudkan perkawinan, dan dapat menjadi orang tua.
  • Pembuahan yang terjadi di luar tubuh suami-istri karena itu kehilangan makna-makna dan nilai-nilai yang diungkapkan bahasa tubuh dan persatuan pribadi manusia. Hanyalah kesetiaan pada ikatan antara makna-makna sanggama dan kesetiaan pada kesatuan manusia memungkinkan adanya prokreasi yang sesuai dengan martabat pribadi manusia.
  • Asal-usul pribadi manusia sesungguhnya adalah buah penganugerahan diri timbal balik suami-isteri. Artinya, anak yang dikandung haruslah buah kasih orangtuanya.
  • Tolok ukur moral untuk intervensi medis dalam prokreasi mengacu pada martabat manusia sebagai pribadi, seksualitas dan asal-usulnya. Dalam hal ini, seni kedokteran harus diarahkan kepada kesejahteraan pribadi manusia seutuhnya. Seni kedokteran harus memperhatikan nilai-nilai luhur manusiawi dan seksualitasnya. Seni kedokteran tak memiliki wewenang untuk menguasai manusia atau memutuskan nasib manusia. Intervensi dokter harus melindungi martabat manusia dan hal itu dibenarkan jika berusaha membantu mempermudah sanggama suami-istri untuk mendukung prokreasi insani. Sebaliknya, intervensi medis, dengan bantuan teknik yang menggantikan sanggama suami-istri untuk memperoleh prokreasi, melawan martabat dan hak-hak tak tergantikan suami-istri dan anak yang akan lahir. Karena bantuan tehnik medis dalam hal ini menggantikan fungsi prokreasi. Semoga jawaban ini berguna bagi Anda dan memuaskan. Tentu saja, jika masih ada pertanyaan lain terkait masalah ini, dengan senang hati saya akan menjawabnya.

Salam!


Rubrik Konsultasi Keluarga ini diasuh oleh P. Ignas Tari MSF. Alumnus Program Studi Master Bioetika dari Hochschule für Philosophie/ Philosophische Fakultät S.J. München – Jerman. Silahkan kirim pertanyaan ke Email Redaksi Musafirmsf.com

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here