Sebuah pengalaman menarik muncul di awal salah satu seri ceramah tentang Kehidupan Kristus yang disponsori oleh CFM (Catholic Family Movement) di Jersey City, USA.

CFM adalah sebuah gerakan nasional dari kelompok-kelompok kecil umat Katolik di paroki-paroki. Tujuannya untuk memperkuat nilai Katolik.

Misi CFM adalah mempromosikan Sakramen Pernikahan yang berpusat pada Kristus dan kehidupan keluarga, membantu individu-individu dan keluarga-keluarga untuk hidup dalam iman Katolik, dan meningkatkan derajad kehidupan masyarakat melalui tindakan kasih, pelayanan, pendidikan dan keteladanan hidup.

Baca Juga : Selamat Jalan Pater Pembangun, Stanislaw Ograbek, SVD

Dalam seri ceramah, seorang peserta bersoal jawab dengan pemberi materi, seorang Imam Yesuit. Pertanyaannya kritis. “Anda bermaksud memberi tahu saya bahwa pria bernama Yesus ini lahir di kandang domba?

“Ya, itulah yang saya katakan”, jawab imam tersebut.

“Dan kemudian Dia dibesarkan di rumah kelas rendah; Dia tidak pernah menulis buku? Dia tidak pernah memegang jabatan politik? Namun Ia menyebut dirinya Anak Allah?” Tanya Pria itu lagi

“Itulah yang saya katakan”, Imam Jesuit itu kembali menjawab dengan singkat.

“Dia tidak pernah bepergian ke luar negaranya, tidak pernah belajar dan mendapatkan gelar Ph.D di sebuah Universitas di luar negeri, namun anda mengatakan dia seorang guru? Dia tidak pernah tinggal di istana dan kamu bilang Dia Raja?”

“Ya, itulah yang aku katakan.”

“Dia dikhianati oleh bangsanya sendiri? Tidak ada pengikut yang datang untuk membela dirinya? Dan kemudian dia dieksekusi di atas tumpukan sampah seperti pencuri biasa? Setelah pembunuhan, Dia dimakamkan di sebuah makam yang ditinggalkan, dan setelah itu Dia dibangkitkan dan menampakkan diri kepada ratusan orang? Dan semua ini untuk menunjukkan bahwa Tuhan mencintai manusia dan ingin mereka selalu bersamaNya? Bagaimana itu bisa terjadi?”

“Ya, betul! itu yang saya katakan”, Jawab imam Jesuit meyakinkan penanya tersebut.

Dengan raut wajah kesal laki-laki itu menutup komentarnya dengan mengatakan, “bukankah semua yang anda katakan terdengar bodoh?”

“Tepat sekali! Imam Jesuit itu menjawab sambil tersenyum. Tuhan benar-benar tidak masuk akal. Semua itu terdengar sangat bodoh dan absurd bagi kita, tetapi tidak bodoh bagi Tuhan”, tegasnya.

Kebodohan Kristus yang kemudian dilucuti oleh penanya dalam dialog di atas, bisa menjadi alasan determinis sebagai murid Kristus dalam hidup bersama.

Tetapi sebagaimana situasi yang dialami imam Yesuit, menjadi murid Kristus harus menjadi lebih ‘gila’ dari orang yang sanksi atau ragu tentang kebenaran Kristus.

Baca Juga : Mgr. Paulinus kepada Para Imam : Belajarlah pada Yesus

Murid atau Pengikut

Ada tahap-tahap menjadi murid Kristus dalam Kitab suci dan tradisi Katolik. Sejak awal pengikuti Kristus di sebut “Para murid” ( Luk 6;17;19;37), selanjutnya dalam I Ptr 4:16 para murid ini disebut “Kristen” dan belakangan St. Ignatius dari Antiokhia memperkenalkan “Katolik” yang kemudian menjadi terkenal sampai hari ini.

Dalam praktik keseharian, menjadi murid dan pengikut Kristus seringkali kabur. Ketika kita mengaku sebagai orang Kristen, pengikut Kristus atau orang yang percaya kepada Kristus tidak serta merta kita menjadi murid-Nya. Mengapa demikian?


Kisah dalam Kitab Suci membedakan hal ini.  Tiap murid Kristus adalah pengikut-Nya, tetapi tidak setiap pengikut-Nya adalah murid-Nya. Hal ini tampak jelas dalam kisah Matius 28:19, Yesus selalu dikelilingi dan diikuti oleh banyak orang, tapi hanya 12 orang yang menjadi murid-Nya.


Dengan demikian, menjadi pengikut saja tidak cukup. Sebab amanat Kristus jelas, memerintahkan semua orang untuk menjadi murid dan memuridkan.

Contoh paling jelas untuk membedakan menjadi murid dan pengikut adalah kisah Yesus memberi makan 5000 orang (Mat 14:16). Pengikut mencari isi perut dan mujizat. Sementara para murid itu berkorban dan harus ada bersama Kristus.

Pengikut itu menunggu, sementara menjadi murid tugasnya memberi makan. Tidak menunggu Tuhan memberkati lebih dulu, tetapi mau menjadi berkat lebih dahulu bagi banyak orang.

Baca Juga : Pergulatan Pastor Aris CP, Ketika Kebakaran Pastoran Merenggut Nyawa Rius

My Surname Is Catholic

Santo Pacianus yang pernah menjadi Bishop Barcelona ( AD 390) pernah mengatakan, My name is Christian and My surname is Catholic. Menjadi orang-orang yang percaya kepada Kristus itu adalah panggilan kita. Tetapi jangan lupa panggilan kita itu, harus berkarakter, berlabel dan berikutnya bersaksi. Itulah Katolik.

Mengikuti penelusuran nama bagi orang Inggris dan Amerika, Surname mau mengatakan nama marga atau nama keluarga. Dengan demikian kita sebagai orang-orang yang percaya kepada Kristus menjadi satu Tubuh, satu keluarga di dalam Kristus Yesus. Menjadi Kristen adalah identitas pengikut Kristus, sedangkan kekatolikan merupakan cara kita menjadi Kristiani yang sejati.

Kita harus merasa terhormat dan bangga untuk disebut murid Yesus. Kita hendaknya bahagia dingatkan lagi dan lagi bahwa itu adalah hak istimewa terbesar yang kita miliki. Dan tugas terpenting kita adalah mengidentifikasi diri dengan-Nya. Kita menyebut tidak layak, namun Yesus mengasihi kita dan mempercayakan tugas itu kepada kita.

Di dalam kehidupan Gereja sudah banyak organisasi dan tradisi, aturan dan ritual, agenda, dan praktik doa. Semua ini dimaksudkan untuk membantu menjadikan kita murid Kristus yang lebih baik dan membantu kita menjadikan murid semua bangsa.

Tetapi kita tidak boleh melupakan hal utama yang adalah pemuridan, dalam kata-kata St. Ignatius, untuk mengenal Yesus lebih baik, untuk mengasihi Dia dengan lebih kuat, untuk mengikuti-Nya lebih dekat dan untuk melayani dia dengan lebih setia, dan membantu orang lain untuk melakukan hal yang sama.

Apakah iman kekatolikan anda sudah membuat anda menjadi murid Kristus, ataukah sekedar menjadi pengikut dan partisipan saja? 

Baca Juga :

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here