Seorang bapak bercanda dengan saya, Pastor apa perbedaan nikah dan kawin? Sebab kita menyebutnya sakramen perkawinan, ada juga yang menyebutnya pernikahan?

———————

Saya tidak menjawab. “Kalau menurut bapak apa bedanya?” Tanyaku.

“Kawin pake urat, nikah pakai surat, pastor”, jawabnya dengan jenaka. Saya tidak bisa menahan ketawa. Tetapi kemudian saya berpikir inilah jawaban dari ahli perkawinan. Pakar dalam bidangnya. Kemudian, saya mengajak bapak itu, ngopi dan bercakap seputar persoalan keluarga terkini.

Janji Kawin itu Hukum

Bapak, saya kira keluarga katoliklah yang paling menderita dimasa pandemi ini. Saya memulai perbincangan dengannya begitu.

“Mengapa demikian pastor?” Tanyanya.

“Bapak lihat, ada ribuan orang antri untuk bercerai di pengadilan agama. Ribuan pak! Ribuan anak akan krisis cinta kasih, krisis orangtua. Ini dampak krisis covid 19. Tetapi, saya tidak melihat keluarga Katolik antri di depan Gereja meminta untuk bercerai. Haha.

Memang dalam Gereja Katolik tidak ada pengadilan untuk menceraikan orang. Mengapa Gereja Katolik tidak punya lembaga pengadilan agama untuk menceraikan pernikahan? Bukankah ada pasangan Katolik yang bercerai?

Hukum perkawinan Gereja Katolik dalam bentuk pernjanjian berbunyi :

“Di hadapan Tuhan, Imam, para saksi, dan umat yang hadir disini saya : MARKUS dengan niat yang suci dan dengan ikhlas hati memilihmu MAGDALENA, menjadi isteri saya. Saya setia kepadamu dalam untung dan malang, suka dan duka, sehat dan sakit, dengan segala kekurangan dan kelebihanmu. Saya akan selalu menghormati dan menghormatimu seumur hidup saya. Demikian Janji saya, Demi Allah dan Injil Suci ini”.

Janji itu masa berlakunya seumur hidup. Janji itu terikat secara hukum ilahi atau Hukum Gereja dan hukum sipil. Ya janji itu tidak bisa dipisahkan oleh siapapun, kecuali maut. Para uskup, pastor dan diakon hanyalah saksi resmi Gereja. Bukan yang menerimakan sakramen perkawinan. Harus dicamkan ini.

Entah kemalangan, entah keuntungan, entah lincah dan sehat, atau ketika stroke dan diabet tinggi, janji itu tak bisa dibatalkan. Walau hancur ekonomi, walau selingkuh, walau pun sakit hati berkali-kali, tak ada uang, atau apalagi yang lain, janji itu tak bisa dibatalkan.

Bagaimana kalau pasangan saya sakit jiwa, psikopat dll? Nah sebelum menikah anda pastikan kualitas pasanganmu. Sakit jiwa merupakan halangan untuk menikah. Halangan Kodrati misalnya, usia dini, impoten (!), Gila, nikah sebelumnya dan halangan Gereja : Beda keyakinan (disparitas cultus), hubungan persaudaraan, kaul-kaul religius, kelayakan publik, kejahatan. Kenalilah kualitas pasanganmu. Lalu menikahlah!

Kawin : Relasi Tuhan dengan Umatnya

Bapak itu terdiam. “Berat yah pastor?” katanya dengan sedikit suara tercekat di rongga suaranya.

Ya setia itu berat. Tetapi bukankah itu yang manusia rindukan? Bukankah manusia merindukan cinta? Cinta itu luka, cinta itu menderita. Tuhan pun mencintai kita dengan terluka dan mati. Tak ada cinta tanpa pengorbanan. Tak ada setia tanpa sakit hati, dikhianati, dsbnya. Cinta jangan ketika untung dan mujur. Itu bukan cinta! Tetapi ketika miskin, ketika stroke, ketika badai masalah menimpa pasanganmu, dan kamu tetap bersamanya, itulah cinta.

Cinta itu bukan foto dengan background love bewarna pink, diapit kembang merah atau taman luas, dilatari gunung, kabut, sungai, dll. Cinta ketika kamu saling menghapus air mata, meneguhkan dalam susah, meyakinkan satu sama lain ketika tak berpengharapan. Itu cinta.

Begitulah cinta Katolik. Banyak orang yang tidak mengerti, lalu menghina Dia yang tersalib, tetapi Salib itulah gambaran cinta sejati. Ia menderita karena cinta. Keluarga yang tidak bisa menanggung salib, cepat atau lambat, bubar. Berbahagialah Tuhanmu yang disalib dan terhina itu, karena Ia mengajarmu tentang cinta. Diluar Dia, kamu tak akan mengenal cinta sejati!

Cinta itu Allah yang terlibat. Ia mengambil tubuh manusia, rupa manusia, dan terhina. Ia seperti manusia. Maka dalam perkawinan Katolik, “mereka bukan lagi dua melainkan satu daging”. Artinya pasangan katolik harus melebur perasaan, menyatukan semua kelebihan dan kelemahan. “ia diambil dari tulangku dan daging dari dagingku, dia adalah perempuan”. Itulah bahasa alkitabiah tentang cinta dalam keluarga Katolik.

Bapak itu terdiam. Ia melihat cincin di jari manisnya. Pernikahan ternyata bukan soal urat dan surat, pikirnya. Ia tersenyum.

Lalu kami menyeduh kopi dan tersenyum. “Bapak, sahutku, betapa mulianya keluarga yah. Gereja menghargai Keluarga. Mengapa keluarga tak menghargai keluarga?” Mengapa orang yang sama-sama menyatakan cinta, lalu menikah, lalu mereka sendiri antri membatalkan cinta mereka?

Gereja Katolik mungkin dianggap tradisional, ketat, dan ribet dalam mengurusi perkawinan. Ya karena itu bukan tentang urat dan surat. Haha. Nikah adalah tanda relasi Allah dengan manusia. Dimana kita melihat Allah yang mahacinta, berkorban, menderita, solider, dsbnya di dunia ini? Dimana bro?

Allah itu hanya dilihat dalam keluarga. Dalam keluarga ada cinta. Orang menikah karena cinta. Soal masalah, itu kemudian. Dalam keluarga ada orang yang rela berkorban dan banting tulang, tak ada pamrih. Dalam perkawinan, mereka saling memberikan tubuh (seks), memberi tubuh untuk menjadi satu daging, menggambarkan Allah yang seperti manusia. Maka seks itu suci dalam perkawinan. Itulah mengapa Gereja menentang seks bebas! Itulah mengapa Gereja memandang nikah itu suci, bukan rekreaksi dan kemudahan hidup.

Bapak itu pulang. Saya berharap, ia akan memeluk istrinya, sambil mengulang kembali janji nikahnya dulu. Demikian juga istrinya mencium kening suaminya yang terbakar matahari. Mereka bersama sampai memutih rambut. Dan mereka merayakan perkawinan mereka dengan secangkir kopi dan tertawa bersama, walau dalam kegetiran ekonomi.

Ya tak ada seni dalam melewati masalah keluarga dan perkawinanmu, selain seni menderita karena cinta, yang diajarkan Tuhan Yesus kepadamu. Menderitalah karena kamu mencintai, setia kendati lemah dan tak sempurna. Katakanlah, terimakasih cinta! Ini sedikit, bumbu jahe.

Terimakasih untuk bapak dan ibuku yang memelihara perkawinan mereka dengan banyak suka dukanya. Dan untukmu Keluarga Katolikku, kami anak-anak akan terpukul dan hancur hati, ketika perkawinan berpisah. Jangan lari dari kesulitan. Jika orangtua lari dari kesulitan, kepada siapakan anak-anak belajar bertahan? 

Salam sehat untuk Keluarga Katolik. Sehat fisik, sehat batin dan sehat perkawinan kalian!

——————-

Barong Tongkok, Devosi Kepada Maria La Salette Hari Kedua (12/9/2020)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here