Seorang pria bijak pernah berkata, bayi adalah malaikat yang sayapnya tumbuh lebih pendek dari kaki mereka yang tumbuh lebih panjang. Ya, bayi adalah ciptaan yang menggumkan. Tremendous. They are terrific. Dalam situasi apa pun kehadiran mereka dipandang jauh lebih penting dan berharga dari segala nilai-nilai yang diurus dalam rumah tangga oleh semua orang tua.

Namun, ada momen dalam kehidupan orang tua ketika bayi berhenti menjadi malaikat dan mulai menjadi manusia, membuat kesalahan, berlaku sebagai pemberontak, pembangkang dan mengecewakan ibu dan ayah. Memang anak-anak tidak dilahirkan dengan disiplin tetapi kelak mereka membutuhkan aturan, batasan, dan disiplin. Ketika mereka tumbuh dewasa mereka bergantung pada orang tua dalam hal aturan dan pedoman yang mereka butuhkan untuk menangani pengalaman baru dalam kehidupan ini.

Litani Pergulatan Orang tua

Orang tua bergulat dalam masalah mendisiplinkan anak-anak sejak Kain menentang orang tuanya dan membunuh saudaranya yang disajikan dalam Kitab Kejadian 4:1-26 (Kain adalah yang pertama dari jutaan anak-anak yang manja dan pemberontak).

Orang tua dibanjiri oleh teori tak berujung tentang disiplin, dijejali dengan peringatan-peringatan yang mengerikan, dan dikacaukan oleh nasihat yang saling bertentangan. Apa yang adil dan apa yang tidak adil? Apa yang berhasil dan apa yang tidak berhasil? Bagaimana kita dapat melatih anak-anak kita untuk membuat keputusan yang benar? Jika kedisiplinan tidak disertai tongkat pemukul, apakah akan merusak anak? Akankah pukulan kecil di tubuh bagian belakang meninggalkan bekas luka emosional yang tidak dapat diperbaiki?

Bagaimana Mengelola kedisiplinan Anak

Pertama, harus mempraktekkan apa yang anda khotbahkan. Beberapa pengalaman orang tua yang saya temui mengatakan mereka gagal melakukannya dengan baik. Tidak konsisten. Orang tua harus otentik menunjukkan bahwa anda sendiri memiliki sikap disiplin, menghormati dan membutuhkan aturan dan batasan.

Kedua, memastikan bahwa batasan dan aturan untuk anak-anak harus jelas dan adil. Sebagai contoh, misalnya seorang pengawas yang memberikan  tanggung jawab baru kepada staf di kantornya, yang diperhatikan adalah  tidak segera melihat hasil atau buru-buru mengharapkan para staf untuk mengikuti aturan yang baru dengan baik.

Poin ini antara lain mau mengatakan aturan itu harus fair. Standard yang tinggi atau penerapan aturan yang keras kadang menghasilkan blunder dalam kehidupan seorang anak. Dia merasa terasing, lari dari rumah, tragisnya mencari sosok orang tua di tempat lain. Terkadang orang tua terlalu banyak menuntut anak-anaknya. Meminta anak-anak untuk duduk diam selama satu jam sementara kita yang dewasa dibiarkan berbicara tanpa ada ujungnya. Yang terjadi adalah muncul harapan-harapan semu. Disiplin hanya di hadapan tongkat pemukul adalah embrio munculnya ekspresi pembangkangan di banyak kalangan anak-anak.

Ketiga, akan sangat baik bila setiap aturan harus diberi alasan dan penjelasan yang terukur. Yakinlah anak-anak akan lebih bersedia untuk menghormati batasan tertentu dan wewenang orang tua jika dijelaskan ada apa di balik aturan tersebut.

Keempat, orang tua harus konsisten dalam mengelola sikap disiplin anak.  Di tengah dunia yang terus berubah, setidaknya keluarga dan orang tua harus dapat memprediksi, terutama ketika menetapkan dan memelihara peraturan dan kedisiplinan. Tanpa jangkar disiplin apa yang kita usahakan tidak akan bertahan.

Semoga membantu

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here