Renungan Harian Selasa 26-3-19. Siapakah yang menemukan Tuhan, perempuan pelacur atau orang-orang Yahudi di Padang Gurun itu?

Suatu kali saya menonton berita di TV, ketika itu para Polisi di Jakarta menggerebek tempat- tempat pelacuran di Tanah Abang Jakarta. Mereka menemukan bahwa di tiap-tiap kamar para tuna susila itu ada tulisan Al-quran dan doa-doa. Begitu juga dalam buku harian para tunasusila itu, mereka menemukan doa-doa ratapan dari tubir penderitaan.

Bukankah mereka itu sampah masyarakat? Bukankah sampah-sampah itu tempatnya di pembakaran atau neraka? Itulah logika kita. Tetapi mari kita merenungkan Sabda Tuhan berikut ini.

Godaan Pikiran

Godaan itu cepat menyerang pikiran kita. “Pikiran adalah masinis dari gerbong Kereta atau tubuh”, begitu kata seorang filsuf. Memang di tengah kelaparan dan dahaga, kerasnya hidup dan perjuangan bangsa Israel melewati padang gurun, godaan pikiran untuk meninggalkan kesulitan sangat kuat.

Pengalaman ini juga sering terjadi. Orang mudah menggadaikan imannya demi jabatan, demi keistimewaan, dsbnya. Siapa yang ingin hidup susah? Pasti tidak ada. Tetapi kerap kali iman membuat kita harus hidup susah dan berhadapan dengan banyak tantangan.

Orang Yahudi yang dipimpin Musa adalah contoh konkrit bahwa godaan lebih cepat menyerang pikiran kita. Ketika orang Yahudi ini berpikir bahwa hidup susah, sengsara namun tetap disuruh oleh Musa untuk setia mengikuti Perintah Tuhan, keluar dari Mesir melewati Padang Gurun. Mereka pun berontak dan berkata “adakah Tuhan di tengah-tengah kita atau tidak?” (Kel 17:7). Ini bukan pertanyaan konyol. Ini adalah pertanyaan seorang yang cerdas, yang tahu menghitung semua peluang dan kesempatan untuk memperoleh keuntungan.

Betul! Tuhan memang tidak ada ketika cara berpikir kita terpusat pada kesadaran panca indra semata-mata. Apa lagi kita tidak pernah melihat kapan Tuhan memberi makan kepada kita? Kita juga toh tidak menemukan apa untung ekonomisnya pergi berdoa ke Gereja, padahal kita punya urusan dan bisnis?

Bukankah waktu adalah uang? Bukankah setiap kesempatan berharga secara ekonomis? Karena itu,  kita selalu tidak ada waktu untuk hal-hal yang tidak menghasilkan fulus (uang/materi).  Karena itu juga, hal-hal rohani adalah kepentingan yang sekian, bukan kebutuhan.

Cara berpikir ini membuat kita meremehkan hal-hal yang berbau rohani dan iman. Kita lebih berorientasi pada “perut” dan kesenangan duniawi semata. Kita berorientasi pada kebahagian menurut persepsi sosial. Padahal dalam hitungan waktu, kebahagiaan-kebahagian itu melepuh dan kita tak akan pernah menggenggamnya selama-lamanya.

Air Kehidupan

(Foto ilustrasi seorang perempuan sundal)

Rupanya jawaban dari pertanyaan orang-orang Yahudi di atas: Adakah Tuhan ditengah-tengah kita? Ditemukan oleh seorang perempuan sundal yang sudah menikah dengan lima suami.

Melalui dialog di sekitar sumur dan perjumpaan personal dengan Yesus, perempuan sundal ini menemukan Tuhan. Kesederhanaanya membawa dia menemukan “Air sumber kehidupan”.

Saya kira perempuaan sundal ini adalah seorang teolog iman. Ia berkata “aku tahu bahwa mesias akan datang. Ia akan memberitahukan segala sesuatu kepada kami”.

Kesadaran dan keyakinannya, tidak seperti umat Israel yang ketika mengalami kesulitan dan sengsara di padang Gurun, mereka tergoda melupakan Tuhan.

Tetapi si wanita sundal ini, meskipun hidupnya terhina, ia justru memiliki hati yang bening dan jernih. Ia menemukan Mesias. Tuhan berkata kepadanya “Akulah Dia yang bercakap-cakap dengan engkau!”(Luk 4:26)

Ya, kita tidak tahu hati seseorang. Kita hanya menilai dari luarnya saja. Kita mudah menjudge hidup seseorang berdasarkan kesalahan dan perbuatannya. Kita tidak tahu bagaimana dalam dan luasnya imannya.

Setelah menemukan Tuhan, perempuan sundal ini bergegas dan mewartakan sukacita imannya. Ia bertobat setelah menemukan Tuhan.

Dari perempuan sundal ini kita belajar tentang iman dan pertobatan. Pertobatan terjadi ketika kita bertemu dengan Yesus, ketika kita melibatkan Tuhan dalam hidup kita. Tanpa memperhitungkan Tuhan yang hadir dalam kehidupan kita, kita pasti sulit bertobat. Apalagi kalau kita berpikir “adakah Tuhan hadir di tengah kita?”

Siapapun engkau, berapa pun dosamu, Tuhan tetap menunjukan kasihNya kepadamu, asalkan kamu datang kepadaNya. Tuhan adalah sumber air hidup. Ia memberi kita kehidupan, ia memberi kita kekuatan. Melalui Ekaristi dan mendengarkan SabdaNya, kita mereguk Air sumber hidup kekal.

Maka, mari kita datang dan menemukanNya dalam tugas dan hidup kita. Tuhan mengasihani kita!

 

3 KOMENTAR

  1. Amin…Terima kasih..
    Pertobatan yang dilakukan Perempuan tunasusila dan orang2 yang dimata manusia adalah yg paling berdosa, tidak hanya sebatas kata-kata, doa mohon ampun, dan iman mereka tidak hanya sebatas teori. Pertobatan para “pendosa” Merupakan pertobatan yang sungguh-sungguh dan diwujudkan dalam tindakan nyata. Orang pertama yang menemukan Yesus setelah Bangkit adalah perempuan yang dianggap sbg pendosa.
    Para pendosa memiliki kerinduan yang kuat utk mencari Tuhan, mencari Sang sumber hidup dan Sang Sumber Keselamatan…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here