Renungan Kamis 04 April 2019, Bac I: Kel 32;7-14, Bac. Injil : Yoh 5;31-4

Bila diukur kehendak dan kemauan manusia untuk menangani persoalan kebanyakan lebih memilih mengatasi masalah pribadi ketimbang mengatasi masalah-masalah di luar dirinya. Orang akan cenderung berkata, “that’s not my problem!”. Malah yang sering terjadi orang lain yang menjadi penyebab setiap persoalan hidupnya.

Kesulitan kita dalam menerima tanggung jawab adalah tabiat kita yang ingin menghindari rasa sakit, takut dianggap tidak mampu. Seorang Psikiater pernah menulis bahwa semua orang memiliki satu masalah yang sama ketika menerima tanggung jawab yakni; rasa tidak berdaya, ketakutan dan keyakinan batin bahwa mereka tidak dapat menyelesaikan. Mereka tidak bisa mengatasi dan mengubah banyak hal sehingga pilihan terbaik adalah menolak tanggung jawab.

Tetapi hemat saya menunda rasa sakit dengan menolak menerima tanggung jawab tidak akan pernah berhasil. Benar apa yang dikatakan Eldrige Cleaver, “Jika anda bukan bagian dari solusi, maka anda adalah bagian dari masalahnya”.

Tanggung Jawab Nabi Musa

Musa adalah salah satu tokoh yang paling sering dibicarakan dalam Perjanjian Lama. Bacaan hari ini mengetengahkan sosok Musa yang tidak hanya dianggap sebagai pemimpin orang-orang perbudakan tetapi orang yang bertanggung jawab dengan membela orang-orang yang ketika Allah ingin menghukum mereka.

Peran Musa sebagai presenter hukum menjadi penyelamat umat Israel di mata Allah. Sebagai pemimpin dan penerima tugas dari Allah, Musa memohon kepada Allah rahmat pengampunan dan mengalah menghukum mereka. Musa tau betul akan janji-janji yang dibuat Allah sehingga orang-orang dapat terhindar dari murka Allah.

Yesus adalah Musa Baru

Apa yang lakukan Musa mendapat perhatian dari Yesus. Yesus mengulang apa yang dikerjakan Musa terhadap orang-orang Israel dalam Injil hari ini. Namun kali ini Yesus mendemonstrasikan diri-Nya sebagai Musa baru.

Dahulu, Musa adalah harapanmu yang berbicara atas nama orang-orang yang tidak setia kepada Yahwe tetapi sekarang Aku datang untuk memanggilmu dan percaya kepada-Ku, sebab Musa telah menulis tentang Aku.

Jesus dengan jelas memperlihatkan kehadiran dan tujuan-Nya ke dunia yakni bukan untuk meloloskan agenda pribadi tetapi untuk melakukan pekerjaan Allah yang mengutus-Nya. Konsekuensinya jelas, jika Yesus melakukan kehendak Bapa, maka Dia tidak dapat salah dalam menghukum dan mengajar.

Misi Yesus bisa gagal jika Dia lebih mendengar diri-Nya atau orang-orang yang di sekitarnya. Yesus sama sekali tidak memodifikasi apa yang menjadi mandat Allah.

Di sini kita melihat, demi kepentingan Allah baik Musa maupun Yesus sama-sama meninggalkan kedudukan mereka yang penting dan kekayaan pribadi yang melimpah. Untuk melayani Yahwe dan umat-Nya, Musa mengorbankan kekayaan dan kedudukan yang bergengsi di Mesir (bdk Ibr 11:24-26).

Demikian pula Yesus meninggalkan kedudukan yang sangat tinggi dan kekayaan di surga supaya dapat melayani Allah dan umat-Nya di bumi (bdk 2 Korintus 8:9).

Menghadapi Kenyataan

Pertanyaan yang paling mendesak untuk segera kita renungkan adalah, apakah kita mampu menerima setiap tanggung jawab dengan rasa syukur, submission (kepasrahan) berikut disertai kemauan.

Persoalan kita hari-hari ini adalah bukan pada soal mampu atau tidak tetapi  kemauan untuk bertanggung jawab dan menghadapi setiap persoalan di dalamnya.

Seorang istri bisa saja berkata begini, saya tidak mempunyai waktu yang cukup untuk suami karena fokus mengurusi anak-anak dan pekerjaan rumah tangga. Beberapa istri mengklaim ini bentuk tanggung jawab yang murni.

Tetapi menurut saya ada yang palsu dari cari istri bersikap. Dia secara terang-terangan menghilangkan waktu bersama suami tercinta. Dengan kata lain, tanggung jawab semacam ini tidak akan pernah menambal lubang persoalan di antara suami dan istri.

Motivasi dari sikap Pelayanan

Apa benar anda dengan tulus melakukan pekerjaan-pekerjaanmu? Apa yang anda sedang perjuangkan? Dan atas nama siapa? Jika kita sudah memiliki iman akan Yesus maka buah dari iman itu adalah cinta dan pelayanan.

St. Teresa bilang, kita harus melakukan hal-hal yang biasa dengan cinta yang luarbiasa. Ini bukan soal seberapa banyak anda bekerja atau setumpuk apa jabatan yang kita pegang, tetapi yang paling penting adalah seberapa besar cinta yang anda tuangkan di setiap usahamu.

Jika iman kita membimbing pada Credo bahwa Allah mencintaimu, sebagaimana yang dikatakan Cardinal Newman, maka kita juga harus dan akan terus menerima tanggung jawab dengan cinta. Love has no meaning if isn’t shared. Cinta tidak punya arti jika tidak dibagikan.  

Poin lain yang bisa kita renungkan adalah tidak harus semua tanggung jawab kita pegang dan ambil alih. Kita mesti jujur dan berani katakan cukup.

Bagaimana saya terbuka terhadap pesan Allah agar mempengaruhi cara saya memperlakukan setiap tugas dan tanggung jawab?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here